08 Nov 2017 10:35

Jadi Guru, Kendalikan Emosi

MyPassion
Asiano Gemmy Kawatu

MANADO—Video yang diduga dilakukan seorang guru di salah satu SMA di Pontianak, viral. Meski sebelumnya terjadi kekeliruan terkait lokasinya, tapi ini mendapat tanggapan beragam dari banyak pihak. Tak terkecuali di Sulut. Kepala Dinas Pendidikan Sulut Asiano Gemmy Kawatu menuturkan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya aduan orang tua siswa atas perilaku guru yang melakukan kekerasan dalam mendidik siswa. “Guru merupakan jabatan profesi, bukan sekadar profesional pendidikannya. Melainkan juga karakter guru. Untuk menjadikan siswanya berkarakter, terlebih dahulu guru membekali diri dengan karakter yang mumpuni,” terang Kawatu, kala diwawancarai.

 

Diakuinya saat ini konsekuensi hukum bisa saja terjerat apabila guru tidak mampu mengendalikan emosinya dalam mendidik. “Kesabaran seorang tenaga pengajar diperlukan, sehingga bisa meminimalisir pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) apabila terjadi tindakan yang kurang tepat. Artinya jadi guru itu harus kendalikan emosi,” lanjutnya.

Ketua Aliansi Guru Indonesia Sulut (AGIS) Dr Arnold Poli menuturkan pergunjingan terkait adanya kekerasan guru ini telah sampai di tingkatan Mahkamah Agung. “Telah dijelaskan guru tidak dapat dipidana apabila masih sesuai lingkup proses pembinaan dan pengajaran. Sebagai pengganti orang tua di sekolah, guru tentunya memiliki keyakinan dalam mendidik. Apa yang dilakukannya menjadikan anak didiknya lebih baik,” terang Poli.

Sementara itu mengenai hak dan kewajiban seorang siswa, mendapat tanggapan dari akademisi Dr Elvinus Anes. Dia menuturkan perlu diberikan pemahaman lebih apa yang menjadi hak dan kewajiban siswa. “Bisa saja mereka menuntut hak memperoleh pendidikan, namun harus diperhatikan juga kewajiban yaitu mengikuti arahan dan penjelasan yang diberikan oleh guru,” terang Anes.

Ditambahkannya, mengenai pemberian ganjaran penegasan dengan kontak fisik merupakan langkah terakhir. “Sebaiknya sebelum mengambil tindakan tersebut alangkah baiknya mengkonsultasikan dengan penanggung jawab sekolah dan orang tua,” lanjutnya.

Psikolog Hanna Monareh menuturkan  perilaku yang dengan sengaja mencederai, menimbulkan luka fisik bisa memberikan dampak psikologis bagi siswa. “Setiap siswa terbentuk dari berbagai latar belakang. Bagi siswa yang memiliki kepribadian easy going mungkin menganggap hal biasa. Namun siswa yang tertutup menjadikan hal yang dilakukan guru tersebut contoh,” terang Monareh.

Perlu diperhatikan alasan yang kuat penyebab guru memberikan ganjaran pada siswa. “Tidak mudah berhadapan dengan siswa modern saat ini,” karakter bukan baru terbentuk saat siswa bersekolah. Melainkan keluarga menjadi fondasi awal pembentukan karakter tersebut,” jelasnya.

Kenyataan seperti ini ikut mengundang tanggapan dari pengamat hukum Sulut. Salah satunya Dr Jhony Lembong SH MH. Menurutnya guru yang melakukan sedikit kekerasan pada siswa dengan tujuan yang baik dan mendidik dibenarkan, tidak seharusnya dipidana. Apalagi dengan dikeluarkannya Yurisprudensi Mahkamah Agung. “Bagi seorang guru yang mencubit atau memukul muridnya saat melakukan kesalahan, itu ada alasan penghapusan pidana. Yang penting tindakan yang dilakukan guru tersebut masih dalam batas wajar dan mempunyai tujuan yang baik,’’ jelas Alumni Universitas Indonesia tersebut.

Dirinya menganggap, zaman sekarang banyak terdapat siswa yang pergaulannya sudah sangat luas dan kadang tidak mengindahkan peraturan ataupun tugas yang diberikan guru. Jadi ketegasan guru diperlukan mendidik siswa seperti ini. “Guru harus diberikan hak menegur setiap siswa. Jika dengan teguran halus tidak didengar, saya rasa tindakan seperti mencubit itu masih sangat wajar dilakukan. Agar siswa tersebut mendapatkan efek jera. Sehingga siswa mengerjakan semua tugas yang diberikan dan menjauhi larangan yang sudah ditetapkan. Efeknya prestasi akan meningkat,’’ tutupnya.(wan/gel)

Kirim Komentar