02 Nov 2017 10:27

Kawanua Makin Sulit ke AS

MyPassion
STERILKAN TKP: Petugas mengamankan lokasi teror di West Street Manhattan, New York. Foto: REUTERS

NEW YORK – Bagi kawanua (sebutan warga Sulut, red) yang ingin pergi ke Amerika Serikat (AS), diprediksi akan makin sulit. Pasca teror di New York, Selasa (31/10), Presiden AS Donald Trump lebih superselektif. Beberapa jam setelah kejadian, Trump sudah meminta Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk meningkatkan Extreme Vetting Program. Itu adalah pengecekan ketat untuk orang-orang yang masuk ke AS. Utamanya yang disinyalir simpatisan militan dan extrimis.

 

''Ini adalah serangan teror, sebuah aksi teror pengecut yang ditujukan untuk penduduk sipil yang tidak berdosa,'' ujar Wali Kota New York Bill de Blasio. Secara total, ada 8 orang tewas dan 11 luka dalam insiden yang terjadi sore hari pukul 15.05 waktu setempat tersebut. Satu orang korban tewas berasal dari Belgia dan dua lainnya masih belum teridentifikasi.

Serangan yang dilakukan oleh Saipov itu, memang seakan menampar wajah negara yang dipimpin Presiden Donald Trump tersebut. Sebab, selama ini Trump kerap mengkritik serangan-serangan serupa yang terjadi di Eropa. Aksi penabrakan yang dilakukan Saipov itu, merupakan serangan paling mematikan di New York sejak insiden 11 September 2001, yang menewaskan 2.996 orang. Lokasi serangan juga hanya berjarak beberapa kilometer dari gedung World Trade Center.

Sementara itu, Selasa (31/10) seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi Hernán Diego Mendoza, Diego Enrique Angelini, Alejandro Damián Pagnucco, Ariel Erlij dan Hernán Ferruchi. Penduduk Argentina itu datang ke New York, Amerika Serikat (AS) untuk bersenang-senang merayakan 30 tahun kelulusan dari Polytechnic College of Rosario. Mereka berlima adalah angkatan tahun 1987. Namun saat tengah asyik berjalan-jalan di Houston Street, Manhattan, mereka tiba-tiba saja ditabrak oleh truk yang dikendarai oleh Sayfullo Habibullaevic Saipov. Kelimanya tewas.

Ada 11 orang yang ikut dalam rombongan tersebut. Satu orang lainnya, Martin Ludovico Marro, hanya mengalami luka dan sisanya selamat. Media lokal di Argentina menyebut jika Erlij yang memiliki pabrik baja membayar ongkos beberapa temannya agar bisa ikut ke AS. Tidak disangka, kedatangan mereka ke negeri Paman Sam itu justru untuk menjemput maut. Mereka pulang lagi dalam kondisi tak bernyawa.

Salah seorang saksi mata, Eugene, mengungkapkan jika dia melihat sebuah truk yang melaju dengan kecepatan penuh di West Side Highway dan menabrak beberapa orang. ''Saya mendekati beberapa orang yang ditabrak dan mereka telah meninggal,'' ujarnya. Beberapa saat kemudian dia mendengar suara tabrakan dan sekitar 9-10 tembakan kemudian orang-orang mulai berlarian. Bagi Eugine, apa yang dilihatnya seperti tidak nyata dan benar-benar mengerikan.

Saksi mata lainnya Ruben Cabrera malah mengira bahwa kejadian tersebut hanyalah sebuah lelucon saluran televisi alias prank. Sebab saat dia mendengar suara tembakan, ada dua anak kecil yang lari dari arah berlawanan sambil tertawa. Cabrera juga berfikir jika tidak mungkin ada penembakan di area itu. Tapi begitu dia melihat polisi berdatangan, pendapatnya berubah.

''Di jalur sepeda, saya melihat dua jenazah yang ditutupi kain putih dan saya melihat sepeda di sebelahnya. Sepeda itu seperti bekas terlindas kendaraan,'' tegasnya.

Tawhid Kabir yang juga berada di lokasi kejadian berfikir jika itu hanya kecelakaan biasa sampai dia melihat  Saipov berlarian di tengah jalan dengan mengacungkan dua senjata. Bunyi tembakan terdengar dan pelaku jatuh ke tanah. Dia dan beberapa saksi mata lainnya hanya bisa melihat dengan ketakutan tanpa bisa berbuat apa-apa.

Pelaku akhirnya diketahui sebagai imigran asal Uzbekistan yang masuk AS pada 2010. Sejak 6 bulan lalu Saipov itu bekerja sebagai sopir Uber. Pria 29 tahun tinggal di Tampa, Florida dan Paterson, New Jersey. Dua rumahnya sudah digeledah oleh polisi. Truk yang digunakan untuk melakukan aksinya bukan miliknya sendiri. Melainkan menyewa dari Home Depot di New Jersey hanya beberapa jam sebelum aksinya. Di dalam truk itu, penyidik menemukan catatan yang menyatakan jika aksinya itu dilakukan atas nama ISIS.

Kemarin (1/11) Presiden Uzbekistan Shavkat  Mirziyoyev menghubungi Trump. Dia menyatakan siap membantu penyelidikan jika memang dibutuhkan. Mirziyoyev  juga mengecam aksi brutal yang dilakukan oleh Saipov. ''Kami siap menggunakan segala upaya dan kekuatan untuk bekerjasama menyelidiki aksi terorisme ini,'' tegas  Mirziyoyev. Fokus penyidik kemarin memang pada pelaku yang masih berada di rumah sakit. Senator AS Lindsey Graham meminta penyidik agar memperlakukan Saipov seperti seorang kombatan. Dengan begitu dia bisa ditanyai tanpa perlu didampingi pengacara.

Sementara itu anggota komunitas Uzbekistan di AS Mirrakhmat Muminov mengungkapkan jika Saipov adalah orang yang pendiam, gampang gugup dan agresif. Karena itulah dia jarang memiliki teman dan seperti hidup di dunianya sendiri. Terlebih kemampuan Bahasa Inggrisnya juga terbatas. ''Dia mulai belajar agama saat di AS,'' ujarnya. Di Uzbekistan, belajar Islam dipantau dengan ketat. Putra ketiga Saipov baru lahir beberapa bulan lalu. Muminov menegaskan jika komunitas Uzbekistan di AS siap ditanyai jika memang diperlukan.

Meski situasi masih mencekam, tapi penduduk New York memilih beraktivitas secara normal. Bahkan parade Halloween tetap digelar beberapa jam setelah serangan. Namun tentu saja parade tersebut dikawal dengan ketat oleh petugas keamanan.

''Saya tidak akan membiarkan kejadian ini membuat saya takut,'' ujar Cathryn Strobl salah satu peserta. Perempuan yang menggunakan kostum Buffy the Vampire Slayer itu menegaskan jika hidup harus terus berjalan.

Baik de Blasio maupun Gubernur New York Andrew Cuomo memang memastikan jika penduduk bakal aman. Penjagaan akan dilakukan di berbagai titik. Hal itulah yang mungkin membuat peserta parade tetap tenang. ''Lapor polisi saja jika memang ada yang mencurigakan,'' tegas de Blasio. Polisi juga akan mengamankan New York Marathon yang bakal berlangsung Minggu (5/11) nanti. Saat itu diperkirakan ada 51 ribu pelari dari berbagai negara yang hadir. (jpg/vip)

Kirim Komentar