31 Okt 2017 09:09
Rustyawati: Bakso Terlihat Kekuningan, Kenyal dan Bisa Dipantulkan

OMG!!7,5 Ton Boraks Disita, Waspada Konsumsi Mie Bakso

MyPassion
AMANKAN: Syahrul Mamma (tengah) didampingi Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Kemendag Wahyu Hidayat (paling kiri) dan Rustyawati saat menyita 7,5 ton boraks tak berizin di gudang di desa Koka Kecamatan Tombulu, kemarin (30/10). Foto: Dok Kemendag

MINAHASA – Bagi anda yang sering mengkonsumsi mie bakso, wajib berhati-hati. Sebanyak 7,5 ton boraks (bahan pengawet mie, red), tak berdokumen resmi, sudah disita di salah satu gudang di Desa Koka, Kecamatan Tombulu, kemarin. Kepala BPOM Manado Rustyawati mengakui, bila pengolahan dan produk ini beredar ke masyarakat, besar potensinya menyebabkan sejumlah penyakit berbahaya, bahkan kematian.

Umumnya digunakan untuk mengawetkan mie basah, atau dicampur dengan daging untuk bakso. Nah, hasilnya bila menggunakan boraks, mie bisa lebih kuat dan tak mudah putus. “Daging bakso juga terlihat terang kekuningan seperti karet. Kenyal dan bisa dipantulkan karena tidak mudah pecah. Selain itu, boraks juga bisa dicampur dalam lontong dan kerupuk,” beber Rustyawati.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI sendiri menegaskan komitmennya untuk memerangi segala jenis tindakan usaha, yang berpotensi membahayakan masyarakat. Temuan 7,5 ton boraks tak berdokumen resmi langsung diseriusi. Setelah diusut, pelaku yang sudah menjalankan usahanya sejak tahun lalu ini, ternyata melanggar ketentuan izin usaha.

“Dimana gudang penyimpanan ternyata dipergunakan untuk menampung boraks dalam jumlah besar. Padahal, peruntukan awalnya untuk menyimpan sianida,” ungkap Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag Syahrul Mamma, Senin (30/10), kemarin.

Olehnya, pihaknya bakal mendalami kejadian ini, sehingga kelangsungan operasional tidak berpotensi menimbulkan korban jiwa kedepannya. “Masih kita telusuri, jangan sampai ini sindikat besar yang memproduksi makanan berbahaya. Izin pergudangannya akan kita lihat seperti apa, bisa kita cabut izinnya, kalau terbukti tidak sesuai,” tegas Mamma.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Minahasa Maudy Lontaan mengakui pihaknya tak tahu-menahu peruntukan penggunaan gudang. “Justru, waktu kita keluarkan izin hanya untuk menampung bahan-bahan produksi, tidak rinci apa bentuk dan jenisnya. Selain itu, perizinan ini juga berhubungan dengan Dinas Perizinan Terpadu Satu Pintu. Koordinasi pengawasan terus jalan, baik tingkat kabupaten dan provinsi,” beber Lontaan.

Terpisah, Bupati Minahasa Jantje Wowiling Sajow (JWS) nyatanya tak mengetahui detil operasional gudang tersebut. “Sempat kita usulkan untuk dibongkar. Karena berapa kali juga saya perintahkan Hukum Tua untuk cek ke lokasi, tapi selalu tertutup. Kita lihat, kalau memang menyalahi aturan, jangankan dicabut izinnya, proses hukum setimpal pasti menanti,” urai JWS.

Penjaga gudang Audi, mengaku tak tahu menahu detil barang yang masuk sejak tahun lalu ini. Dirinya hanya ditugaskan untuk menjaga barang tersebut. “Bahkan digunakan nantinya seperti apa dan untuk apa, saya tidak tahu sama sekali. Ini barang dari Palu, masuk lewat jalur darat. Sebelumnya yang masuk ke gudang itu, karbon aktif. Dan ini titipan saja,” ungkap Audi.

Diketahui, bila penyelidikan nantinya terbukti pemilik barang berbahaya ini tak memiliki izin yang legal, bisa diancam hukuman Penyalahgunaan Zat Berbahaya dalam Produk Pangan di Indonesia. Sesuai UU Perlindungan Konsumen 8/1999 tentang pelanggaran terhadap kesehatan konsumen. Dapat dikenakan hukuman maksimal 5 tahun. Denda hingga Rp 2 miliar. (cw-01/vip)

Kirim Komentar