25 Okt 2017 10:52

Pelantun Gereja Tua Itu Kini Berpulang

MyPassion
Foto: Facebook

Nama Benny Panjaitan lekat dengan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Sederet lagu lawasnya dihafal di luar kepala. Tak terkecuali bagi beberapa kepala daerah. Seperti Jantje Wowiling Sajow (JWS), James Sumendap, Syerli Sompotan, juga Wakil Ketua DPRD Sulut Wenny Lumentut.

 

LAGU berjudul ‘Deritaku’ yang dinyanyikan Panjaitan Bersaudara (Panbers) favorit Wakil Ketua DPRD Sulut Wenny Lumentut. Bahkan sosok Benny Panjaitan, sang vokalis, yang tutup usia pada Selasa (24/10) kemarin, sempat punya kenangan bersama politikus Partai Gerindra ini. “Saat kampanye Pilkada di Tomohon 2005 lalu, almarhum bersama saya,” sebut Lumentut, sambil menunjukkan foto bersama almarhum. “Dia adalah sosok yang mudah bergaul dan komitmen. Saya senang pernah bekerjasama dengan Benny Panjaitan,” tuturnya.

Kabar dukacita inipun mengundang tanggapan dari Bupati Minahasa Jantje Wowiling Sajow (JWS). Sebagai salah satu penikmat lagu-lagu Panbers, JWS memuji sepak terjang Benny Panjaitan. “Penyanyi yang legendaris yang tidak pernah dilupakan. Apalagi kita yang umur 50-an, banyak kenangan manis,” kunci JWS yang mengaku menyukai lagu Panbers berjudul ‘Lama Kunantikan’.

Ungkapan duka pun datang dari Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap. Lagu-lagu Panbers yang dinyanyikan almarhum menurut Sumendap, memiliki banyak kenangan. “Saya senang dengan lagu berjudul Cinta dan Permata. Kita kehilangan musisi berbakat,” singkatnya.

Ketua Komunitas Musik Manado (Komudo) Syerly A Sompotan (SAS) juga menuturkan dunia musik Indonesia kehilangan musisi legendaris. "Banyak karya sang legendaris terkenal. Tidak sedikit juga menyukai lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Benny Pandjaitan. Seperti lagu Ku Coba Bertahan. Memang belum sempat bertemu dengannya tapi sering mengikuti berita-beritanya," terang Wakil Wali Kota Tomohon ini.

Diketahui Benny Panjaitan yang sering menciptakan lagu-lagu Panbers menghembuskan nafas terakhir di rumahnya di kawasan Ciledug, Tangerang, kemarin pukul 09.00 WIB. Benny wafat dalam usia 70 tahun akibat stroke yang sudah dideritanya sejak 2010.

Hingga kemarin (25/10), jenazah masih berada di rumah duka RS Dharmais, Jakarta Barat. “Rencananya mau dimakamkan Kamis (26/10) di TPU Menteng Pulo dekat makan keluarga,” kata Dino Panjaitan, putra sulung Benny yang juga vokalis grup Panbers Junior. Ketika ditemui kemarin, Dino dan sang ibu, Nancy Sitompul, tampak tegar walau mata mereka sembap usai menangisi kepergian Ben untuk selamanya.

Kemarin sore, kondisi rumah duka dipenuhi oleh kerabat dan sahabat Benny. Para personel Panbers pun hadir. Mereka adalah Asido Panjaitan, Isran Panjaitan, Maxi Pandelaki, dan Hans Noya. Lewat speaker, suara Benny yang menyanyikan lagu-lagu Panbers terdengar. Beberapa lagu yang diputar antara lain Gereja Tua, Musafir, Terlambat Sudah, dan Nasib Cintaku.

Dino mengungkapkan sang ayah meninggal dengan sangat tenang. Tanpa ada gejala ataupun tanda tertentu. “Cuma memang dua hari ini papa diam terus. Kalau saya ajak bicara, dia Cuma memandang saya dengan tatapan kosong,” ujar Dino. Padahal, Benny selalu tersenyum atau memberi isyarat dengan mengacungkan jempol jika diajak bicara oleh Dino.

Nancy, yang selama 7 tahun ini menjadi pengingat Benny untuk minum obat, juga syok dengan kepergian suaminya. Pagi hari, sebelum Benny wafat, Nancy tengah menyiapkan bubur untuk sarapan suaminya. Saat sedang berada di dapur, tiba-tiba perawat Benny memberitahu bahwa kondisi pria yang juga memainkan gitar ritmis itu menurun. “Pas saya tengok ke kamar, dia sudah nggak ada,” kata Nancy.

Sebelumnya, pada Minggu sore (22/10), sempat tersiar hoax bahwa Benny sudah wafat. Entah siapa yang menyebarkan kabar tersebut. Begitu sampai di telinga Dino, dirinya kaget. “Saya tahunya dari fans Panbers yang ada di Italia lewat telepon,” kata Dino. Namun, alih-alih kecewa berat, Dino dan keluarga menanggapi hal itu sebagai wujud kepedulian terhadap ayahnya.

Benny sendiri, ujar Dino, memberikan respon tak terduga ketika mengetahui kabar itu. Setelah Dino mendengar hoax itu, dia langsung mengabari sang ayah. Benny, yang memang humoris dan ceria, malah tersenyum mendengarnya. Pria penghobi sepeda itu memang sudah tidak bisa bicara sejak 2014 lantaran stroke. Namun, dia masih bisa merespon apapun yang dia lihat atau dengar.

Untuk mengonfirmasi hoax, pada Senin (23/10), Dino dan Benny sempat ditemui beberapa media. Dino meluruskan kabar itu dengan menegaskan bahwa ayahnya baik-baik saja. Dino bahkan mencoba mengajak ayahnya mendendangkan lagu Deritaku dengan alunan gitar. Tak disangka, itu merupakan kali terakhir Dino bermain gitar dengan disaksikan Benny. “Ini tiba-tiba banget kondisinya menurun karena stroke memang fluktuatif,” ujar Dino.

Benny terakhir kali show bersama Panbers pada pertengahan 2012 di Sabang, Nangroe Aceh Darusallam. Sebelum show di Sabang, Panbers sempat manggung di Merauke, Papua, seminggu sebelumnya. Jarak dan jadwal yang padat membuat Benny kelelahaan. Stroke yang menggerogoti tubuhnya semakin parah.

Saat hendak show di Jakarta, kemampuan berbicaranya menurun. Sebelum kehilangan kemampuan berbicara, mendiang sempat berpesan ke orang-orang terdekatnya. Kepada sesama personel Panbers maupun Panbers Junior, dia meminta agar grup yang memulai karir pada 1969 itu tetap lestari dan eksis di belantika musik. Lantas, kepada Nancy, Benny meminta agar dirinya menjaga anak-anak. 

Sejak kehilangan kemampuan bicara, Benny yang duduk di kursi roda hanya menjadi penonton tiap kali rekan-rekannya manggung. Sebagai pengganti Benny, beberapa additional vocalist digandeng. Walau hanya menjadi penonton, Benny tetap menunjukkan antusiasme. “Wajahnya berbinar senang tiap kali lihat Panbers manggung,” kata Asido, yang juga merupakan adik Benny.

Setelah tak lagi bisa tampil bersama rekan-rekannya, Benny tak lantas meninggalkan Panbers sepenuhnya. Dia setia melihat Panbers tampil, baik di panggung maupun di studio musik saat latihan. Lagi-lagi jempol tangannya digunakan untuk memberi isyarat. Kalau para personel Panbers tampil dengan bagus, dia memberi jempol yang mengarah ke atas. “Tapi kalau kami mainnya kurang bagus, jempolnya diarahkan ke bawah,” tambah Maxi.

Yang lebih membuat nelangsa, pada 23 November mendatang, sebuah konser yang bertujuan merayakan karir musik Benny akan dilaksanakan.  Namanya Perjalanan Sang Legenda. Selain Panbers dan Panbers Junior, sejumlah penyanyi dan musisi pun diundang untuk membawakan lagu-lagu Panbers. Misalnya Dian Piesesha, Nia Daniati, Joy Tobing,  Edo Kondologit, Kelompok Penerbang Roket, dan Amigos.

Awalnya, Benny direncanakan hadir di konser itu sebagai tamu. Sayang, dirinya kini sudah tiada. Namun, konser tetap akan berlangsung. “Sebenarnya konser ini gagasan dari rekan papa, Trimedia Panjaitan dan T.A Roesland. Mereka mau bikin konser tribute untuk papa setelah banyak fans yang meminta,” kata Dino.

Bersamaan dengan konser, sebuah buku berjudul sama pun akan diluncurkan. Buku yang ditulis oleh Trimedia dan Roesland itu akan mengulas perjalanan hidup Benny selama aktif bermusik bersama Panbers. Dino dan pihak keluarga Benny berharap agar konser dan buku itu bisa menjadi kenangan berharga bagi para fans Panbers.

Tak hanya kerabat dan sahabat, sesama musisi pun berduka atas kepergian Benny. Salah satunya adalah Rian Ekky Pradipta, vokalis band D’Masiv. Bagi Rian, Benny adalah musisi panutan. D’Masiv sendiri sering berlatih di studio musik Panbers di kawasan Ciledug.(***)

Kirim Komentar