24 Okt 2017 08:33

Hebat!!Dua Putra Sulut Ikut FPT Calon Duta Besar

MyPassion

MANADO—Gubernur Sulut 2005-2015 SH Sarundajang dan Djauhari Oratmangun pilihan tepat calon duta besar Filipina dan Tiongkok. Hari ini, dua putra terbaik Sulut itu akan mengikuti fit and proper test (FPT)  di Komisi I DPR RI.

 

“Fit and proper test ini sesuai peraturan perundangan, kami tanya visi misi, kami lengkapi data apa saja yang bisa dilakukan demi efektivitas peningkatan kerjasama untuk kepentingan bangsa Indonesia," kata Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin di gedung DPR, Senayan, Jakarta, kemarin. Total calon dubes yang mengikuti uji kepatutan dan kelayakan sebanyak 18 orang.

 

Sekadar diketahui, SHS dinilai tepat. Dia berteman akrab dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Pertemanan keduanya terjalin saat SHS masih Wali Kota Bitung dan Duterte Wali Kota Davao. Bahkan saat Duterte dilantik Filipina 1, SHS diundang khusus.

Tak hanya itu. SHS yang sukses mendamaikan Maluku dan Maluku Utara dinilai tepat untuk menaklukkan atau menghalangi organisasi ISIS di Filipina Selatan. Termasuk ada ribuan warga negara Indonesia yang tidak memiliki status kewarganegaraan. Pun maraknya pencurian ikan.

Sedangkan Djauhari dinilai tepat mengingat turis-turis Tiongkok paling banyak berdatangan ke Manado. Apalagi sudah ada penerbangan langsung Manado-Tiongkok. Negeri berpenduduk terbesar di dunia itu dikenal sebagai negara dengan ekonomi nomor satu sejagad raya

SHS merupakan Gubernur Sulut dua periode (2005-2010) dan (2010-2015). Sementara Djauhari Oratmangun, diplomat handal kelahiran Sulut 22 Juli 1957. Dirinya juga sudah kenyang dengan pengalaman bertugas sebagai Dubes.

Masuknya dua nama mentereng tersebut dalam daftar calon Dubes, mendapat tanggapan dari para Pakar Hukum Internasional Universitas Sam Ratulangi. Dr Natalia Lengkong MH menyebutkan, pengangkatan Dubes maupun Konsul adalah hak prerogatif Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Fit and proper test DPR terhadap para calon Dubes tersebut untuk menghasilkan rekomendasi kepada presiden dalam hal memutuskan siapa yang layak jadi duta,’’ jelas Dosen Pasca Sarjana Unsrat tersebut, diwawancarai kemarin.

Dirinya menekankan, keputusan untuk pemilihan Dubes berada di tangan presiden. Karena dijelaskannya, DPR hanya memberi penilaian dari tes wawancara berupa visi misi serta komitmen setiap calon. Lengkong yang pernah menyaksikan langsung fit and proper test calon Dubes membeberkan, setiap tes ada beberapa pertanyaan yang diberikan. “Kadang menyangkut soal pribadi dan hal-hal lain yang memang diperlukan. Tapi semuanya kembali pada keputusan presiden,’’ ungkapnya.

Menurutnya, tes tersebut memang harus dilakukan. Untuk memberikan keyakinan pada presiden terkait kesiapan setiap calon. “Agar saat bertugas nanti setiap Dubes ini akan bekerja dengan baik dan dapat menjalin kerja sama yang baik dengan negara yang menjadi tempatnya bertugas,” tandasnya.

Hal senada juga dikatakan Harold Anis MH. “Masuknya dua putra daerah Sinyo Harry Sarundajang dan Djauhari Oratmangun menjadi calon Dubes, membuktikan jika orang-orang Sulut memiliki kredibilitas yang bagus,” kata Anis, ketika diwawancarai kemarin.

Penempatan Dubes, dijelaskannya adalah hak prerogatif Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi). “Jadi kalau mereka masuk dalam daftar, itu berarti mereka dipercaya dapat memberikan kontribusi yang baik untuk Indonesia,’’ ungkap dosen Fakultas Hukum Unsrat ini.

Anis melihat, yang melatarbelakangi presiden memasukkan dua orang Sulut ini menjadi calon Dubes, karena Nyiur Melambai merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain. “Jadi dapat dengan mudah mengatasi persoalan yang ditimbulkan pada wilayah-wilayah perbatasan,’’ katanya. Meskipun menurut anis, perwakilan Sulut yang didaulat jadi Dubes itu bukan hanya kali ini saja. “Karena ada nama pak Jhony Lumintang,” bebernya.

Dirinya berharap, SHS dan Djauhari benar-benar terpilih jadi Dubes. Supaya bisa menunjukkan kinerja yang bagus untuk membangun Indonesia. Jika terpilih, keduanya dipastikan jadi kebanggaan Sulut.’ “Semoga mereka mampu memberikan kontribusi yang bagus untuk Indonesia, dalam hal kerja sama dengan negara lain,’’ tandasnya.

Selain SHS dan Djauhari, ada juga 16 nama yang berasal dari berbagai kalangan. Ada dari masyarakat, ada pula diplomat karier Kementerian Luar Negeri.

Diketahui, Komisi I DPR hanya akan merekomendasikan soal kelayakan 18 nama ini untuk menjadi Dubes Indonesia. Uji kepatutan dan kelayakan calon Dubes RI digelar hingga Selasa (24/10) hari ini. Mereka akan ditanya oleh Komisi I DPR berbagai hal yang menyangkut kerja Dubes RI.(ctr-02/gnr)

Kirim Komentar