14 Okt 2017 10:10

Talaud Krisis Minyak Tanah

MyPassion
Sri Wahyumi Manalip

TALAUD—Lagi. Kabupaten Kepulauan Talaud krisis bahan bakar minyak jenis minyak tanah. Masyarakat mengeluh karena sering terjadi kelangkaan minyak tanah. Sekarang keberadaan minyak tanah susah didapat. Kalaupun ada harganya melambung tinggi

Kuota minyak tanah dirasa perlu ditambah. "Minyak tanah sering habis. Karena stok yang sering langka berpengaruh pada harga jual. Sekarang saja kosong, tidak tahu kenapa sering habis," ujar Hetty, warga Melonguane.

Mengenainya, Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip mengatakan ketersediaan stok BBM harus diantisipasi secara cermat, baik teknis distribusi maupun alokasi kuota. "Kita harus berupaya BBM tidak langka. Pihak APMS harus memperhatikan hal ini," katanya.

Ia menambahkan  karena berada di daerah kepulauan, agen penyedia diminta antisipasi stok BBM. Saat itu diyakini penyediaan BBM cukup, namun ternyata terkendala di mekanisme distribusi. Menurut SWM, antisipasi sangat perlu dilakukan. "Pemakaian meningkat. Jangan sedikit-sedikit terdengar BBM susah didapat. Kuota tentu perlu ditambah juga," tegasnya.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Kabupaten Kepulauan Talaud Natalianus Essing mengungkapkan, kuota minyak tanah bersubsidi untuk Talaud sebenarnya tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Kuota minyak tanah bersubsidi yang didistribusikan Pertamina setiap dua minggu sekali melalui agen minyak tanah (AMT) Hans Latjandu, perbulannya hanya 235.000 liter. Sedangkan di PT Karya Maranatha 205.000 liter. Jumlah total 440.000 liter untuk memenuhi 110.000 jiwa,” paparnya.

Jika dihitung, lanjut Essing, setiap orang per bulannya memperoleh 4,4 liter saja. “Sementara jumlah nelayan sekira 1.700. Sedikitnya mereka membutuhkan 25 liter minyak tanah per bulan untuk melaut. Jadi apapun konsekuensi, haruslah ada penambahan minyak tanah. Baiknya kuota minyak tanah untuk Talaud sebanyak 600.000 liter," tandasnya.(fik/gel)

Kirim Komentar