13 Okt 2017 11:18

Panas Bumi Bisa Jadi Mapel

MyPassion

TOMOHON—Yayasan Pendidikan Lokon (YPL) mendukung pengembangan mata pelajaran panas bumi untuk SMA di Sulut. Menurut Wakasek Kurikulum SMA Lokon St Nikolaus Agnito, materi panas bumi bisa dimasukkan ke dalam kurikulum SMA sebagai mata pelajaran muatan lokal, institusional atau lintas minat. Namun, konsekuensinya harus dilihat secara bijak. 

 

“Jika menjadi mapel (mata pelajaran, red) muatan lokal atau institusional, maka materinya harus menjadi mapel yang berdiri sendiri,” ujar Agnito. Konsekuensinya, guru pengajar harus menguasai bahan ajar materi panas bumi dengan alat peraganya. Dibutuhkan alokasi waktu sendiri dalam kurikulum. Tak hanya itu, apabila menjadi muatan lokal untuk seluruh SMA Sulut, harus disahkan dengan SK gubernur. “Dan, sekolah yang tidak melaksanakan akan mendapat sanksi,” ujarnya.

Kalau materi panas bumi menjadi mapel lintas minat, tegas Agnito, materi itu bisa diintegrasi dengan pelajaran berbasis keilmuan dan pariwisata. Seperti, kebumian, geografi, fisika, ekonomi, Bahasa Inggris. “Yah, akan banyak guru yang terlibat. Itu resikonya. Lagi pula jiwa dan semangat lintas minat menurut peraturan, mendorong sekolah untuk melakukan sister school dengan pihak perguruan tinggi. Agar nantinya, mapel panas bumi berkesinambungan dengan kuliah,” paparnya.

Terkait ini, SMA Lokon telah beberapa kali workshop di sekolah. Terakhir dilaksanakan Selasa (3/10), pekan lalu. Sebelumnya, workshop dilaksanakan pada Januari tahun ini, juga September tahun lalu.

Workshop lanjutan terakhir, kembali menghadirkan pakar panas bumi Dr Pri Utami MSc PhD. Katanya, daerah di sekitar panas bumi selain berfungsi sebagai lumbung energi, juga dapat berfungsi sebagai laboratorium alam. Maka, menarik untuk diteliti dari segi ilmu kebumian, keanekaragaman hayati dan lainnya.

Biasanya lokasi di mana terdapat panas bumi, adalah daerah unik yang memiliki potensi wisata memikat. Seperti, pemandangan alam eksotik. Sebagai contoh, manifestasi panas bumi berupa tanah hangat, permukaan tanah beruap, mata air panas atau hangat, telaga air panas, kubangan lumpur panas.

“Itu semua harus dipelajari dengan cara melihat, mengamati dan meneliti secara langsung di lokasi panas bumi,” kunci Humas Yayasan Pendidikan Lokon Jimmy Pontoan. (tr-02/vip)

Kirim Komentar