13 Okt 2017 10:24

Jelang Musdalub, SVR-CEP 50-50

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Partai Golkar (PG) Sulut kian dimatangkan. Nama mantan Ketua DPD I PG Sulut Stefanus Vreeke Runtu (SVR) dan Ketua DPD II PG Minahasa Selatan (Minsel) Christiany Eugenia Paruntu (CEP), tetap jadi pembicaraan hangat para pecandu politik. Dua figur ini, dikabarkan bakal head to head dalam Musdalub nanti.

 

“Kader partai bisa ikut daftar dalam pencalonan ketua DPD I nanti. Tak ada larangan,” beber Sekretaris PG Sulut Edison Masengi, kemarin. Baik SVR maupun CEP, termasuk kader Beringin lain, dikatakan Ketua Fraksi PG DPRD Sulut ini, bisa masuk dalam penjaringan. “Segera setelah pendaftaran di KPU, kita bersiap pada tahapan Musdalub,” tukasnya.

Di sisi lain, dari 15 kabupaten/kota, baik SVR maupun CEP ‘menyimpan’ pendukung. Bisa dikatakan masih sama kuat. Kabar beredar, meski empat pelaksana tugas (Plt) yang ditetapkan beberapa waktu lalu dianulir DPP, namun ternyata proses pergantian tetap berjalan. Sejumlah alasan mengapa harus ada pergantian Plt, sedang dilengkapi. Jika hal tersebut terjadi, maka pendukung CEP akan berkurang. SVR bisa berjaya. Hanya saja, jika empat ketua DPD II ini tak terganti, jadi ancaman serius bagi SVR.

Di sisi lain, Plt Ketua DPD I PG Sulut Hamka Kadi saat diwawancarai menegaskan, saat ini PG Sulut sedang konsentrasi menyelesaikan syarat yang diminta KPU untuk verifikasi peserta Pemilu 2019. “Kita sedang fokus pada pendaftaran di KPU. Usai ini, baru kita gelar Musdalub. Rencananya kita daftar serentak pada Sabtu (14/10) nanti,” beber Kady, yang memimpin rapat DPD I PG, akhir pekan lalu.

Hanya saja banyak pihak menilai Musdalub belum  tentu menyelesaikan masalah internal partai. Seperti diungkapkan Pengamat Politik Sulut Dr Burhan Niode. “Bisa asalkan figurnya harus mampu menjembatani perbedaan antar fraksi dan diterima semua pihak,” ujar Niode.

Ditambahkannya, PG Sulut adalah bagian dari DPP PG, sehingga mau tidak mau harus ada figur yang bisa menjembatani pusat dan daerah. "Persoalannya sekarang, Ketua Umum PG (Setya Novanto, red) sedang terlibat masalah. Sehingga itu membutuhkan legitimasi daerah. Maka tentunya yang dicari adalah mereka yang segaris. Maksudnya bisa mendukung kepemimpinan Setnov," urai akademisi Unsrat ini, sembari menambahkan yang tidak segaris partai pasti akan disingkirkan.

Senada Dr Stefanus Sampe. Keutuhan Musddalub tergantung hasil nanti. Apakah berhasil mengakomodasi kelompok atau faksi yang kalah. “Jika tidak, justru usai Musdalub akan membuat konflik lebih meruncing. Itu yang kiranya harus diperhatikan elit partai," paparnya.

Lanjutnya, konflik internal PG seharusnya cepat diselesaikan agar bisa membangun kekuatan kembali untuk Pilkada dan Pemilu nanti.

“Konflik internal yang berlarut-larut akan merugikan dan melemahkan partai. Konsolidasi organisasi sebaiknya sudah terjadi sebelum Pilkada. Selain konflik internal, beberapa kader PG juga diterpa isu pelanggaran hukum,” paparnya. Dia menilai, jika performa PG saat ini lagi menurun. “Sangat sulit bagi PG memainkan peran rekrutmen, khususnya menentukan siapa yang tepat untuk dicalonkan dalam Pilkada atau Pemilu nanti,” kunci dosen Unsrat Manado ini. (ctr-03/gel)

Kirim Komentar