13 Okt 2017 10:10

Banjir Karangan Bunga, Jakarta Kehilangan Ahok

MyPassion
UNTUK AHOK-DJAROT: Ratusan karangan bunga memenuhi Balai Kota Jakarta jelang pergantian Gubernur DKI Jakarta, Senin (16/10) nanti.

JAKARTA- Jelang pergantian Gubernur DKI Jakarta Senin (16/10), ratusan karangan bunga memenuhi Balai Kota Jakarta. Bahkan karangan bunga yang dikirimkan pendukung Ahok-Djarot meluber hingga trotoar Jalan Medan Merdeka Selatan. Karangan bunga ini memuat ungkapan terima kasih, dukungan, kesedihan, dan rasa patah hati warga Ibu Kota.

 

Hal itu bukanlah suatu yang mengherankan. Karena upaya itu dilakukan masyarakat untuk melepas kelengseran Gubernur Djarot Saiful Hidayat. Per 16 Oktober mendatang, tahtanya akan digantikan pasangan gubernur dan wakil gubernur baru. Yakni Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Kepemimpinan Djarot di DKI Jakarta memang berlangsung tidak begitu lama. Dia hadir di Pemprov DKI Jakarta karena menggantikan Basuki Tjahaja Purnama. Baik sebagai wakil gubernur maupun gubernur. Sebab DKI Jakarta di periode 2012-2017 sempat mengalami tiga kali pergantian kepemimpinan. Pertama, Jokowi-Ahok, Ahok-Djarot, dan Djarot sendiri tanpa didampingi wakil gubernur.

Pergantian itu buntut dari Gubernur Jokowi ketika itu naik kelas menjadi Presiden Indonesia pada Pemilu 2014. Sehingga jabatannya harus digantikan sang wakil Djarot Saiful Hidayat. Karena durasi kepemimpinan masih jauh, maka Ahok harus didampingi seorang wakil. Ketika itu, partai pengusung Jokowi-Ahok menunjuk Djarot Saiful Hidayat, politikus PDI-P yang ketika itu sedang duduk di bangku DPR.

Lalu di akhir kepemimpinannya, Ahok pun harus lengser karena tersandung hukum. Akibatnya Djarot naik tahta jadi gubernur. Namun kepemimpinannya tidak sampai dengan setahun, Djarot tidak didampingi wakil .

Kembali pada karangan bunga. Papan bunga itu banyak disertai dengan tulisan-tulisan dan kalimat pujian. Sang pengirim seolah menunjukkan rasa bangga dan terima kasihnya. Tak ketinggalan, mereka menyertakan nama Ahok yang baginya bak pahlawan sejati, membela dan melindungi. Walaupun idolanya kini tak dapat dijumpai.

"Ahok-Djarot, The Best Governor Ever"

"Terima kasih atas perjuangan BADJA (Basuki-Djarot), akan kami kenang selalu"

"Terima kasih untuk Pak Basuki dan Pak Djarot, karya baktimu akan menjadi standar gubernur seluruh Indonesia"

Semakin sore dan hingga pagi, Kamis (12/10), jumlah karangan bunga dijajar hingga pintu masuk lantai satu ruang kerja Djarot semakin banyak. Seperti tak ada habisnya kenangan masa-masa pemerintahan pasangan itu.

Warga masyarakat hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS) lingkungan Balai Kota berlalu lalang di depan barisan karangan bunga. Sesekali mereka berhenti untuk sekadar membaca rangkaian kata yang ditujukan kepada bosnya.

Paling menyentuh, salah satu karangan bunga berisi pernyataan bahwa Ahok-Djarot telah menjadi standar pemimpin yang terbaik. Seolah selama ini belum ada penyandang gelar DKI 1 yang mampu menjadi contoh bagi pemimpin berikutnya.

"Kau tetap di hatiku, terima kasih telah menjadi standard yang baik bagi Gubernur yang lain"

Melihat fenomena karangan bunga kembali terjadi, di balik kaca jendela mobilnya, mantan Wali Kota Blitar itu mengaku kaget. Dia merasa masa pemerintahan satu periode DKI bersama Ahok, bahkan Joko Widodo alias Jokowi yang kini adalah Presiden RI masih banyak kekurangan.

"Tentu saja dalam masa pemerintahan kami Pak Jokowi, Ahok dan saya masih banyak kekurangan," ujarnya kala telah memandangi puluhan karangan bunga berisikan namanya.

Politikus berusia 55 tahun itu mengucapkan terima kasih atas semua apresiasi yang diberikan masyarakat selama memimpin Ibu Kota.

"Terima kasih atas segala bentuk apresiasinya, saya terima kasih selama ini dapat support betul dari mereka (masyarakat)," tuturnya dengan logat khas Jawa-nya. Entah hingga kapan, tentunya karangan bunga akan terus berdatangan. (jpnn/vip)

Kirim Komentar