10 Okt 2017 09:27
Setahun 130 Ribu Penderita Baru

700 Ribu Orang Sulut Bisa Sakit Jiwa

MyPassion

MANADO—Masyarakat Sulawesi Utara perlu memperhatikan kesehatan jiwa masing-masing.Masalah kesehatan jiwa merupakan suatu masalah serius. Data dari RSJ Ratumbuysang ada kecenderungan peningkatan penderita gangguan jiwa. Direktur RSJ Ratumbuysang dr Greity Giroth mengatakan, hal ini terjadi di Sulut seperti halnya di daerah lain di Indonesia.

 

Dalam sebuah survei, kata Giroth, 1 dari 4 orang di Indonesia bisa terkena sakit jiwa. Dengan tingkat gangguan jiwa ringan hingga berat. Itu berarti, dari 2.750.320 warga Sulut saat ini, ada sekira 687.580 orang yang berpotensi sakit jiwa.

Angka itu meningkat drastis dari perkiraan tahun lalu di angka 20 persen warga Sulut berisiko menderita gangguan jiwa. Atau masih pada jumlah 550.064 orang.

Survei terkini itu, menjadi tanda awas bagi seluruh warga Sulut pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia setiap 10 Oktober. “Pada tahun ini, hari kesehatan jiwa sedunia mengangkat tema kesehatan jiwa di tempat kerja. Karena dinilai, kondisi kesehatan jiwa dapat berpengaruh pada produktivitas pekerja,” ujar Giroth, tadi malam. 

Menurut Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Sulut Erents Sanggelorang SPsi MSi, dari 10 masalah kesehatan utama menyebabkan disabilitas, lima di antaranya adalah masalah kesehatan jiwa. Yaitu depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan obsesif kompulsif.

Diprediksi, sebut Sanggelorang, pada tahun 2020 mendatang, depresi akan menjadi penyakit urutan kedua dalam menimbulkan beban kesehatan.

Saat ini, lanjutnya, beban penyakit gangguan mental mencapai 13,8 persen dari seluruh beban penyakit di Indonesia. “Masyarakat kota-kota besar harus memiliki mental yang kuat. Jika tidak, mental mereka bisa sakit,” ucapnya.

Itu karena tekanan mental, psikologis dan emosional kota-kota besar cukup besar. “Mulai dari tekanan ekonomi, daya saing, dan sebagainya,” imbuhnya.

Karena itu, sebutnya, pemerintah harus lebih meningkatkan perhatian terhadap penanganan kesehatan jiwa. “Sarana dan prasarana masih dapat dikatakan jauh dari harapan. Itu perlu ditingkatkan,” imbuhnya.

Tak heran, banyak individu-individu yang sakit jiwa berkeliaran di jalan, dipasung di kamar karena tak punya biaya, dan lain sebagainya.

Menurutnya, seakan-akan pemerintah lebih terfokus pada penyakit fisik dibandingkan penyakit jiwa. Seharusnya, aspek kejiwaan juga menjadi perhatian yang perlu lebih disorot pemerintah. “Sehingga diharapkan kesehatan jiwa masyarakat menjadi lebih sehat, dan bukan sebaliknya, menjadi lebih sakit,” tandasnya.

Di sisi lain, fungsional psikiater RSJ Ratumbuysang dr Linny Liando SpKJ menambahkan, pemerintah maupun perusahaan perlu mengetahui kesehatan mental pekerjanya. “Orang bermental baik, pasti produktivitas kerjanya baik. Kalau mental pekerja buruk, otomatis produktivitas bakal terganggu,” katanya.

Dia menerangkan, ada multi faktor penyebab gangguan kejiwaan. Secara biologi, didalamnya ada pengaruh keturunan. Kalau faktor psikologi karena kepribadian yang membentuk gangguan jiwanya sendiri. Sementara faktor sosial atau stres berasal dari lingkungan sosial. “Untuk gangguan jiwa berat masuk faktor biologi. Sedangkan gangguan jiwa ringan tergolong dalam faktor sosial,” katanya.(lerby/ite)

Kirim Komentar