09 Okt 2017 10:59
Tidak Konsisten Dengan Hasil Konsultasi Remaja

Wilayah Manado Teling Sesalkan Sikap KPRS

MyPassion
Dukungan penatua yang ada di Manado.

MANAD0—Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) Manado Teling menyesalkan hasil keputusan Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) ke-30, mengenai tempat rapat pemilihan KPRS 2018.

Sekretaris BPMW Manado-Teling Pnt Dr Nico Lumintang mengatakan, sebagaimana info dari Ketua KPRW Pnt Noldi Lela hasil pleno konsultasi remaja di Bitung sudah memutuskan wilayah Manado Teling yang akan menjadi tuan rumah pemilihan KPRS 2018.

“Konsultasi juga menetapkan wilayah Manado Teling sebagai calon tunggal. Tapi anehnya dalam draft program KPRS yang masuk dalam sidang sinode, KPRS mengusulkan Dua  wilayah sebagai tempat rapat pemilihan KPRS 2018, sehingga rapat seksi mengadakan voting untuk menetapkan tuan rumah dan akhirnya tuan rumah berpindah ke wilayah Amurang Satu,” katanya.

Menurutnya, hal ini menimbulkan banyak pertanyaan ke KPRS. Seharusnya KPRS diharapkan dapat mengawal hasil konsultasi tersebut, yang diketahui oleh seluruh pnt remaja yang hadir dalam konsultasi. Supaya hal ini menjadi perhatian khusus dari seluruh pnt remaja.  “Karena sangat memiriskan, rasanya  rekan-rekan KPRS menghianati hasil konsultasi yang adalah wadah pengambilan keputusan tertinggi diantara para penatua remaja,” sesalnya.

Dia mengungkapkan, dalam waktu dekat ini para pnt remaja akan meminta pertanggung jawaban dari ketua KPRS sebagai peserta sidang. “Ada apa ini, sehingga hasil konsultasi berubah. Apakah KPRS tidak mampu mengawal hasil konsultasi atau ada kepentingan lain yang mencoba mendorong, sehingga KPRS tidak dapat mempertahankan hasil konsultasi,” tanyanya.

Lanjut, kenapa hasil pleno calon tuan rumah pemilihan KPRS 2018  adalah calon tunggal,  namun dalam draft pengusulan program KPRS memasukkan dua calon tuan rumah. “Inilah yang menjadi pertanyaan dari para pnt remaja. Yaitu   Pnt Frangky Sumakul, Pnt Bony Rompas, Pnt Alfa Ombong, Pnt Jhoni Lintang, Pnt Rhoudy Sumanti, Pnt Steven Rondonuwu, Pnt Feiby Lontoh, Pnt Rhisky, Pnt Dicky Syaranamual, Pnt Sanny Samola, Pnt Arnol Makawiahe, Pnt Johanes Rantelangan, Pnt Irwany Maki, Pnt Jofli Kaparang, Pnt Yani Papia, Pnt Saldi Jacob dan hampir sebagian besar pnt remaja se-Kota Manado,” katanya.

Dia menuturkan, ini artinya pelecehan terhadap hasil konsultasi yang digumuli dan yang telah diputuskan bersama oleh seluruh pnt remaja di Bitung. Ditambah juga tuan rumah beberapa kegiatan berpindah tempat seperti HPRS, konsultasi tahunan, dan lain-lain. “Kami sangat mengharapkan Koordinatorium Rayon 2 Manado dapat menyikapi persoalan ini, dengan memfasilitasi agar KPRS dapat mengklarifikasi hal ini sebagai pertanggung jawaban dalam pelayanan pembinaan ini,” harapnya.

Memang dibeberapa kesempatan katanya, KPRS menjelaskan lokasi tuan rumah berubah karena KPRW dan BPMW tidak kompak dalam pengusulan tuan rumah kegiatan. Namun yang terjadi di wilayah Manado Teling, surat permohonan tuan rumah diurus oleh KPRW dengan ditandatangani oleh BPMW dan seluruh Ketua BPMJ se wilayah Manado Teling.

“Ini membuktikan BPMW dan KPRW Manado Teling kompak mengusulkan diri sebagai tuan rumah. Dan juga ada penjelasan dari KPRS hasil SMST adalah keputusan tertinggi sesuai tata gereja. Ini benar, namun rekan-rekan KPRS harus juga menyadari keputusan konsultasi adalah keputusan tertinggi dalam rapat para penatua remaja,” tegasnya.

“Seharusnya apa yang sudah menjadi keputusan konsultasi tidak boleh ditambahkan atau dikurangi. Harusnya hasil konsultasi dilaporkan apa adanya, bukannya menambahkan, yang akhirnya menimbulkan polemik,” pungkasnya. (ite)

Komentar
Kirim Komentar