09 Okt 2017 10:54

Terima Kasih, Pak Polisi!

MyPassion

SUDAH sekitar seminggu, penulis menyadari bahwa masa berlaku SIM (Surat Izin Mengemudi)-nya sudah nyaris habis. Karena itu, pada hari Jumat minggu yang lalu (6 Oktober), penulis mengunjungi bagian pengurusan SIM Polres Minahasa. Saat itu, situasi di bagian tersebut cukup lengang.

Seorang pegawai dan polisi menyambut dan menanyakan intensi kunjungan dengan ramah. Setelah menjelaskan maksud, penulis kemudian diberi informasi secukupnya tentang persyaratan administratif untuk memperpanjang SIM A. Seluruh syarat kemudian dipenuhi dan penulis langsung diundang untuk proses pengambilan gambar diri dan sidik jari.

Sang polisi yang bertugas saat itu mengisi sela-sela proses tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan ringan sekitar tempat tinggal penulis. Sedemikian ringannya, sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menghadirkan nuansa interogasi. Sebaliknya, suasana yang tercipta digarisbawahi oleh rasa tenang dan akrab selama proses berlangsung. Penulis sendiri lebih menyukai kesan ini dari pada diam yang janggal atau ketegangan yang tak perlu.

Penantian itu tidak panjang. Setelah gambar diri dan sidik jari diambil, tak lama kemudian mesin cetak beroperasi dalam kondisi yang cukup senyap. Sang polisi kemudian mengambil hasil cetakan dan menyerahkannya sambil berkata “Silahkan, Pak. Ini berlaku selama lima tahun.”

Sambil terkejut dengan cepatnya proses yang dialami, penulis bergegas, mengambil SIM A yang diserahkan, dan berkata “Terima kasih, Pak!” Dalam kekaguman, pegawai dan polisi yang tadi menyambut, juga disalami oleh penulis. Kepada mereka, penulis juga mengucapkan terima kasih.

Tidak ada kesan sulit dan berbelit. Tidak ada percakapan semu dan tendensius yang mengarah pada praktek pungli dan gratifikasi. Tidak ada waktu yang terbuang percuma untuk birokrasi yang tidak pantas dan berlebihan.

Yang ada hanyalah persyaratan perpanjangan SIM berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1993, Pasal 224. Yang ada hanyalah tarif perpanjangan SIM A sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2010 (lihat lampiran peraturan tersebut). Yang ada hanyalah proses pemenuhan persyaratan dan tarif seperlunya. Yang ada hanyalah percakapan penghancur kekakuan dan rigiditas. Yang ada hanyalah penggunaan waktu yang efisien dengan hasil yang efektif. Yang ada hanyalah ekspresi pelayanan publik.

Disclaimer

Sebelum lanjut lebih jauh, penulis hendak menegaskan sebuah penyangkalan. Deskripsi di atas bukanlah serta merta sebuah kebenaran institusional dan universal. Ini adalah personal lived experience (pengalaman pribadi yang “dihidupi”).

Peristiwa ini “personal” karena mengacu pada pengalaman pribadi penulis. Pengalaman ini “lived experience” karena ia tidak hanya lewat begitu saja dan menjadi koleksi bygones. Sebaliknya, pengalaman ini coba direflesikan secara layak.

Dengan demikan, pengalaman ini tidak bisa digeneralisasikan kepada keseluruhan institusi. Secara logis, generalisasi itu akan mengakibatkan kesesatan berpikir. Dalam Ilmu Logika Dasar, kesesatan berpikir ini disebut sebagai kesesatan komposisi. Kesesatan ini terjadi ketika apa yang berlaku secara personal dianggap sebagai kebenaran bagi suatu kelompok secara kolektif.

Jadi secara logis, pengalaman individual ini tidak bisa menjadi suatu kepastian bahwa seluruh jajaran Kepolisian Resor Minahasa sudah mempraktekkan “excellent public service”. Tentang hal ini, tentu dibutuhkan penelusuran lebih lanjut. Namun, sebagai sebuah asa, kita berharap bahwa polisi-polisi dan pegawai yang bertugas tersebut menjadi gambaran nyata wajah polisi yang telah bermetamorfosis.

“Propositional and Prepositional Gratitude”

Secara umum, terima kasih merujuk pada jawaban yang seharusnya diberikan oleh seseorang ketika mengalami bantuan/kebaikan dalam berbagai wujud. Sedemikian luasnya konteks dan alasan orang berterima kasih, sehingga para filsuf, yang memberi perhatian pada konsep tersebut, membaginya dalam dua kategori.

Dalam ulasan Tony Manela, profesor filsafat di Georgetown University, Washington, DC, kedua kategori tersebut dibedakan atas “propositional gratitude” dan “prepositional gratitude”.

Propositional gratitude” mengacu pada ucapan terima kasih dengan formulasi “Subjek+berterima kasih+bahwa+…” Misalnya, “Saya berterima kasih bahwa pengurusan SIM berjalan lancar.” Bentuk pertama ini merujuk pada pernyataan (proposisi) “pengurusan SIM berjalan lancar” sebagai hal yang membuat saya, sebagai subjek, berterima kasih.

Sedangkan, “prepositional gratitude” terungkap dalam formulasi “Subjek+berterima kasih+kepada+…+atas+…” Misalnya,“Saya berterima kasih kepada polisi dan pegawai yang terlibat dalam pengurusan SIM atas kelancaran proses dan sifat profesional mereka.” Yang digarisbawahi dalam bentuk kedua ini adalah saya (penerima kebaikan), polisi dan pegawai (penyedia kebaikan), dan hal yang membuat saya berterima kasih.

Dari pembagian konseptual di atas, kita bisa menegaskan perbedaan kedua bentuk tersebut. Pertama, bentuk I secara esensial terdiri dari dua elemen yang berhubungan erat. Sedangkan, bentuk II terdiri dari tiga elemen pembentuk yang tak terpisahkan satu sama lain. Karena itu, relasi kedua elemen dalam bentuk I disebut “dyadic relation (hubungan dua elemen)”. Sedangkan, relasi dalam bentuk II disebut “triadic relation (hubungan tiga elemen).”

Perbedaan kedua adalah bahwa ungkapan terima kasih bentuk II lebih spesifik daripada bentuk I. Walaupun, keduanya tetap mengungkapkan rasa terima kasih dalam konteks yang sama, yaitu pengurusan SIM. Spesifikasi bentuk II terungkap dalam tujuan ungkapan terima kasih (kepada polisi dan pegawai) dan alasan subjek berterima kasih (atas kelancaran proses dan sifat profesional).

Ketiga, ungkapan terima kasih bentuk II dialami sebagai ungkapan interpersonal antara penerima dan penyedia kebaikan. Terima kasih yang diucapkan juga dimaksudkan untuk mengangkat interaksi personal kedua pihak tersebut. Dengan demikian, relasi sosial antara “saya” dan “polisi dan pegawai yang terlibat” diperjelas dan dipertegas.

Sedangkan, bentuk I lebih merupakan ekspresi terima kasih yang intrapersonal. Dalan hal ini, yang ditekankan adalah hal yang membuat subjek berterima kasih. Ungkapan tersebut lebih mengeksplorasi apa yang dialami oleh subjek saja, tanpa menampilkan kepada siapa ungkapan terima kasih tersebut diberikan.

Keempat, karena sifatnya intrapersonal, bentuk I lebih merupakan ungkapan penghargaan, rasa syukur, dan kegembiraan sang subjek. Misalnya, ungkapan “Saya berterima kasih bahwa hari ini tidak hujan” lebih memperlihatkan rasa syukur dari sang subjek. Ia mungkin mengalami kondisi tidak hujan tersebut sesuai dengan harapannya.

Sedangkan, ungkapan “Saya berterima kasih kepadamu atas bantuan yang diberikan” lebih dari sekedar memberi apresiasi atau mengungkapkan rasa syukur dan bahagia. Ungkapan bentuk II ini melibatkan komitmen subjek dalam relasinya dengan sang penyedia bantuan. Misalnya, subjek berkomitmen dalam diri bahwa jika sang penyedia bantuan membutuhkan bantuannya kelak, maka sang subjek bersedia untuk memberikan bantuan. Komitmen ini semakin mempertegas relasi sosial penerima dan penyedia bantuan. 

Dalam konteks pengurusan SIM di atas, penulis dapat menggunakan kedua bentuk ekspresi terima kasih. Namun, kekuatan spesifikasi bentuk II yang secara eksplisit menyebutkan tujuan ungkapan terima kasih dan hal/alasan penulis berterima kasih, lebih layak untuk diungkapkan. “Saya berterima kasih kepada polisi dan pegawai yang terlibat dalam pengurusan SIM atas kelancaran proses dan sifat profesional mereka.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa relasi “saya” dan “polisi dan pegawai yang terlibat” bukan hanya relasi fungsional semata. Relasi penerima dan penyedia bantuan telah diangkat pada tataran relasi personal. Hubungan keduanya telah menjadi hubungan subjek dengan subjek yang dilandasi komitmen dan respek.

Epilog

Dengan menegaskan disclaimer di atas, penulis menganggap hasil refleksi ini sebagai ekspresi terima kasih. Dalam hal ini, penulis berusaha untuk mengungkap terima kasihnya dalam bentuk yang lebih patut daripada sebuah gratifikasi. (***)

Kirim Komentar