05 Okt 2017 09:24

TNI Gigih Jaga Perbatasan

MyPassion
JAGA PERBATASAN: Personil TNI-AD Serda Frenky Tendeng (kiri depan) bersama anggota TNI yang menjaga Pulau Kawaluso saat hendak melakulan patroli laut. Foto lain, personil TNI AL (kiri) sedang berjaga di Pulau Marore. Foto: Sriwani Adolong

SANGIHE—Pasca ditetapkann Marawi, Filipina, sebagai darurat militer Mei lalu, penjagaan di wilayah perbatasan diperketat. Ratusan prajurit TNI/Polri dikerahkan ke daerah perbatasan dengan negara yang dipimpin Rodrigo Duterte itu. Salah satunya di Pulau Kawaluso, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Sudah berbulan-bulan bertugas, prajurit TNI yang berjaga di sana tetap semangat. Di antaranya Sersan Dua (Serda) Frenky Tendeng. Personil TNI-AD Kodim 1301 Satal ini mengungkapkan sangat bangga menjadi prajurit. Karena mengabdi untuk NKRI. Dia mengaku menikmati tugasnya berjaga di pulau perbatasan. Meski berbagai hambatan dan tantangan sering datang menghadang.

Dia mengisahkan, di awal tugasn sebagai satuan tugas (satgas) pulau terluar, tantangan utama yaitu tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Karena hampir satu bulan tower jaringan telekomunikasi rusak. Sama halnya dengan jaringan internet Wifi Nusantara yang juga hilang. Namun itu tidak membuat semangatnya pudar. Beruntung ada alat komunikasi Halong Tenggo (HT). Namun dia  harus naik ke atas gunung untuk memberikan laporan ke komando taktis (kotis).

"Selama hampir satu bulan tidak bisa berkomunikasi dengan sanak saudara yang berada di Tahuna. Tapi bukan suatu alasan. Yang penting sehat dan bisa memberi laporan. Dan saat ini sudah hampir lima bulan menjaga perbatasan. Sangat bersyukur sudah ada jaringan ponsel meski di tempat tertentu. Dibantu juga dengan jaringan Wifi Nusantara di SD GMIST Pniel Kawaluso, sehingga sudah bisa membaca berita lewat media online. Dengan begitu tidak akan ketinggalan informasi," tutur Tendeng.

Selain itu, sulitnya transportasi laut juga menjadi tantangan. Karena seringkali ketika kehabisan logistik dia dan anggota satgas harus bersabar menunggu kedatangan kapal. “Dan nantinya salah satu yang menjadi penanggung jawab dengan se-izin komandan kodim (dandim) harus pergi ke Tahuna untuk membeli logistik sebanyak mungkin untuk persediaan. Tetapi jika tidak ada kapal dan cuaca baik, maka bisa naik pamboat milik warga,” katanya.

Lanjutnya, semua tantangan yang dihadapi selama bertugas di pulau terluar adalah hal biasa. “Yang terpenting saya dan lima anggota satgas Pulau Kawaluso saat ini masih tetap sehat dan bisa selalu memberikan informasi terkait situasi dan kondisi yang ada," ungkapnya.

Kopda Choirul, personil TNI-AL yang bertugas di Pos AL Marore situasinya mirip. Di sana juga kesulitan jaringan komunikasi. "Komunikasi dengan keluarga di Tahuna seringkali terhambat dengan jaringan. Tetapi beruntung keluarga tetap mensupport, memberi semangat dalam tugas pekerjaan saya. Dan ini membuat keluarga merasa berbangga karena saya bisa melindungi masyarakat yang ada di pulau," tutur Choirul. (tr-08/can)

Kirim Komentar