26 Sep 2017 14:00
Per September 37 Kasus

Didominasi ASN, Angka Perceraian Naik

MyPassion
Ilustrasi

TALAUD—Jumlah janda di Kabupaten Kepulauan Talaud terus meningkat, seiring bertambahnya kasus perceraian. Januari hingga September 2017, berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), 37 pasangan bercerai. Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding 2016 yang hanya 30 akta perceraian yang dikeluarkan. “Jumlah tersebut didominasi ASN.

 

Angka perceraian meningkat setiap tahun. Jika dilihat akta perceraian yang dikeluarkan Disdukcapil, 2016 hanya 30 akta perceraian. Sedangkan 2017 sudah 37 yang tercatat di Disdukcapil. Semua telah melewati putusan pengadilan," ujar Kepala Disdukcapil Talaud Jabes Linda melalui Kepala Bidang Catatan Sipil Dra Suryati M Unas, Senin (25/9) kemarin.

Kasus perceraian di Talaud dikatakan Unas, lebih banyak lagi yang tak terdata. Sudah berpisah namun tidak berlandaskan hukum. Banyak yang sudah bercerai secara kekeluargaan tanpa membuat akta cerai. "Besarnya dana yang harus dikeluarkan saat persidangan menjadi alasan.

Para warga mengaku tak mampu bayar biaya perceraian di Pengadilan Negeri. Itu makanya yang membuat akta perceraian kebanyakan PNS, keluarga yang tergolong ekonomi memadai. Berbeda dengan di PN, kalau buat akta cerai di Disdukcapil tak ada biaya. Hanya bawa putusan pengadilan, akta pernikahan asli dan mengisi formulir saja," katanya.

Adapun penyebab perceraian beragam. Paling menonjol di antara semua kasus cerai, yakni tidak ada kecocokan lagi antara kedua pasangan. Keharmonisan pasangan suami istri dianggap tak terasa lagi. Terkait tingginya angka perceraian ini para tokoh agama turut angkat bicara.

Pdt John Melale mengatakan, meningkatnya jumlah perceraian menjadi keprihatinan tersendiri. “Gereja tentunya harus berperan mengatasi permasalahan ini. Gereja butuh bekerja keras untuk lebih memperkenalkan ataupun memberi pelayanan konseling kepada keluarga-keluarga yang ada," tandasnya.(cw-02/gel)

Komentar
Kirim Komentar