25 Sep 2017 12:20

Ketika Inovasi Mendisrupsi

MyPassion

KITA sedang hidup dalam dunia inovasi. Inovasi transportasi berbasis online (GoJek, GoCar, Uber, dan Grab) menghentak sistem transportasi berbayar (taksi dan angkot). Inovasi jual beli online (Bukalapak, OLX, Lazada, dll) kini menjadi alternatif sistem tradisional dan supermarket. Keduanya bersaing untuk merebut konsumer. Tours and Travel bersisian dengan penjualan tiket online (Traveloka, Nusa Trip, dll).

 

Fenomena seperti inilah yang kini dirujuk sebagai efek disrupsi. Term “disrupsi” merujuk pada konsekuensi yang dibawa oleh inovasi-inovasi revolusioner tersebut, yaitu bahwa mereka telah mendisrupsi atau menjungkirbalikkan kemapanan. Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, pernah menulis tentang efek disrupsi. Ia menjelaskan bahwa dunia kini sedang dilanda era disrupsi, tidak terkecuali Indonesia.

Tendensi dari era tersebut, sayangnya, masih berbanding terbalik dengan banyak praktek di Indonesia. Menurutnya, dunia global sudah berpikir tentang bagaimana menerapkan ilmu “masa depan” dalam kondisi “sekarang”. Namun, banyak pemimpin, politisi, birokrat, bahkan pengusaha masih berkutat dengan logika “masa lalu” untuk diterapkan atau sementara diterapkan “sekarang”.

Coba tengok yang terjadi sekarang. Birokrasi masih berkutat dengan prosedur yang berbelit sementara tantangan e-governance sudah sangat nyata. Penanganan UMKM sebagai proyek atau kebijakan pusat kini berhadapan dengan konsep “business startup”.  Kampanye politik berbasis uang dan sembako ditantang oleh fenomenon donasi perusahaan dan individu.

Dari Teknologi Menuju Inovasi

Konsep dan teori disrupsi mengacu pada teori disruptive innovation dari Clayton M. Christensen (1952-…), seorang profesor administrasi bisnis di Harvard Business School, Harvard University. Teori ini merujuk pada semua inovasi yang menciptakan pasar, nilai dan tradisi baru, yang kemudian menginterupsi kemapanan dari pasar, nilai dan tradisi lama. Inovasi tersebut bahkan merebut peran perusahaan, produk, konstelasi bisnis yang sementara “berkuasa”.

Teori ini merupakan evaluasi terhadap teori awal Christensen tentang efek disruptif di bidang teknologi (disruptive technologies). Ketika berefleksi lebih jauh, ia sadar bahwa ternyata teknologi bukanlah agen utama pembawa efek disrupsi. Memang benar bahwa perkembangan teknologi merupakan kondisi dasar yang memungkinkan terjadinya disrupsi. Namun, yang membawa efek disrupsi tak lain adalah inovasi yang tiada henti yang telah menghasilkan model-model bisnis yang revolusioner.

Fenomena Luas Efek Disrupsi

Ranah inovasi yang berdampak disruptif berawal dari bisnis. Model-model bisnis yang dikembangkan berbasis inovasi teknologi (GoJek, GoCar, Uber, Grab, Bukalapak, OLX, Lazada, Traveloka, Nusa Trip, dll) mengganggu kemapanan sistem bisnis tradisional.

Efek disrupsi juga terasa dalam relasi hubungan sosial. Kehadiran smart phone sebagai salah satu inovasi di bidang teknologi informasi, telah merekonstruksi struktur hubungan personal. Fenomena ini telah dibahas oleh Willy Kumurur dalam tulisannya di media ini pada hari Sabtu yang lalu (16/9/2017).

Menurutnya, salah satu yang direkonstruksi adalah ide “dekat”. Dengan penggunaan smart phone, sang pengguna “mendekatkan” dirinya pada dunia dan person dalam dunia maya. Sedemikian “dekatnya” dia, sehingga dunia dan person yang secara riil ada di dekatnya direlativikasi.

Konsep disrupsi ini juga berlaku dalam dunia birokrasi, politik, pemerintahan, sosial. Prosedur birokratis yang lambat dan berliku, sedang menghadapi guncangan dari konsep e-governance. Penganggaran yang tertutup dan memungkinkan rekayasa kini digugat oleh konsep e-budgeting yang mengutamakan keterbukaan dan anti program siluman. Pembangunan yang sentralistik kini menjadi lebih condong ke periferi/pinggiran (misalnya lapangan udara di Miangas, Poso, dan Ampena, tol Manado-Bitung, Trans Papua, dan tol laut).

Kampanye politik dengan membagi-bagi uang dan sembako kini berhadapan dengan anomali pengumpulan donasi dari relawan dan simpatisan. Pengumpulan masa berbayar digerogoti oleh konsep pengumpulan dana kampanye lewat makan berbayar bareng kandidat. Politisi yang malu dan takut diperiksa polisi dan KPK dipecundangi oleh sebuah anomali dalam politik Indonesia, yaitu inisiatif mendatangi kepolisian.

Praktek mangkir di proses pemeriksaan dan pengadilan, sakit di saat pemeriksaan dan pengadilan, dan bertahan di luar negeri, kini ditertawakan oleh kesetiaan mengikuti proses pengadilan walaupun sarat perhatian dan demonstrasi. Koruptor yang meminta keringanan hukuman atau naik banding (walaupun ini memang hak yuridis subjek hukum) ditantang oleh praktek pencabutan banding demi kedaulatan kebenaran. Pengerahan massa demi menegaskan kehendak dikritik oleh praktek menenangkan massa dan meminta penghentian unjuk rasa demi ketentraman publik.

Pemimpin yang “elok” dan berbasis protokoler ketat dirongrong oleh gaya kepemimpinan yang merakyat, minim protokoler, dan berbasis kinerja. Gaya kepemimpinan tersebut mendisrupsi lika-liku politik birokrasi demi menjamin harga bensin di Papua sama dengan di Jawa dan di tempat lain.

Perbandingan praktek konvensional dan inovasi disruptif di atas memberikan gambaran bahwa praktek-praktek lama sementara didisrupsi kenyamanannya. Model bisnis berbasis teknologi informasi mendisrupsi ketentraman sistem bisnis tradisional. Demikian juga, praktek anomali di bidang politik, birokrasi, pemerintahan, dan sosial telah mendisrupsi kemapanan praktek-praktek tradisional.

Di sini, rakyat seharusnya tidak hanya menonton. Rakyat seharusnya memilih secara rasional praktek-praktek yang lebih memihak kepentingan mereka. Rakyat seharusnya menegaskan kembali kekuasaannya dalam sistem demokrasi ini. Ketika rakyat menjatuhkan pilihannya pada praktek-praktek anomali di atas, di saat itulah efek disruptif di ranah birokrasi, politik, dan pemerintahan Indonesia akan lebih masif.

Anti-Innovative Disruption

Namun, kejernihan rasional rakyat masih sering terganggu. Gangguan itu hadir melalui suguhan fenomena anti-kemajemukan, aksi teror, korupsi yang merajalela, dan kaum intelektual bangsa yang belum sepakat mengenai cara politik untuk mewujudkan tujuan kesejahteraan rakyat. Inilah wajah-wajah yang anti-innovative disruption.

Oknum yang menolak kemajemukan dan menggerogoti kontrak sosial bernegara kita disebut anti-innovative disruption. Alasannya adalah bahwa mereka mencoba untuk menerapkan teori lama, yaitu negara disandingkan dengan agama, ke dalam negara Indonesia “sekarang”.

Demikian juga dengan pemimpin lembaga negara yang berebut kuasa demi fasilitas. Mereka menjadi anti-innovative disruption karena mereka mau bertahan dengan pola pemimpin dan politisi yang koruptif dan egosentris. Pola tradisional tersebut ingin dipertahankan di masa “sekarang”. Padahal, rakyat semakin rasional. Mereka menuntut agar posisinya dalam dunia politik dikembalikan. Rakyat seharusnya menduduki pusat dari proses demokrasi, bukannya tampalan atau pinggiran.

Kaum teroris yang menebar ketakutan adalah anti-innovative disruption. Mereka mencoba untuk menggunakan cara lama, yaitu menegaskan kehendak dengan paksaan. Padahal, kini kehidupan politik dan sosial berbasis diskusi rasional dan semangat kosmopolitan (melihat individu sebagai warga dunia yang satu dan sama).

Demikian juga, birokrasi, politik, dan pemerintahan yang berbasis model tradisional yang koruptif. Mereka juga adalah anti-innovative disruption. Pengutamaan kepentingan/keuntungan pribadi dan kelompok adalah kebiasaan lama yang ingin tetap dipertahankan sampai sekarang.

Proses disrupsi ini bergerak perlahan, bertahap, tapi pasti. Bak, seekor katak melompat ketika bersentuhan dengan air yang sangat panas. Namun, ia menikmati ketika berada dalam air yang perlahan-lahan dipanaskan. Ia tak sadar akan bahaya yang mengintai. Sampai akhirnya, sang katak mati kepanasan.

Mereka yang anti-innovative disruption seharusnya membuat pilihan: bertahan kemudian menjadi tidak relevan atau beradaptasi. Contohnya, blue bird taxi mereformasi model berbisnisnya dan bekerja sama dengan startups GoJek melalui layanan GoCar. Penulis menyebut keputusan ini sebagai adaptive disruption (disrupsi adaptif). Mereka mengalami disrupsi dan kemudian beradaptasi dengan spirit di balik efek disrupsi tersebut.

Epilog

Disrupsi datang bagaikan gelombang pasang yang pasti. Ia siap mengoyak setiap bentuk kemapanan. Berhadapan dengan keniscayaan tersebut, creative adaptation adalah solusi harmonis.(***)

Komentar
  • MyPassion

    HIKI
    27 Sep 2017 14:56

    It’s a question that many people have been cheap mulberry bags asking us for the past two days. We have a bit of a size issue—we could have sold well, but we would have replica rolex watches needed a bigger space. The store is only 60 square meters and we have to make some choices. So we decided that with this space, we would fake chanel handbags only propose the woman’s cheap handbags and accessories, but at least most of those collections.
Kirim Komentar