20 Sep 2017 08:33
Sondakh: Saya Pernah Tugas Patroli Luat di Seluruh Indonesia

Jenderal Bintang Empat Berdarah Minahasa Ini Disebut-sebut Bakal jadi Menteri

MyPassion
MASIH PENUH SEMANGAT: Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh di kediamannya di komplek perumahan angkatan laut, Kelapa gading, Jakarta Utara, Minggu (10/9). Foto: Rangga Mangowal/MP

Masyarakat Sulut, khususnya Minahasa patut berbangga. Cukup banyak putra kawanua yang berprestasi di bidang militer, terutama Angkatan Laut. Salah satunya Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh.

Laporan: Rangga Mangowal, Jakarta

PUTRA Minahasa ini merupakan salah satu dari beberapa jenderal TNI yang meraih bintang empat. Namun yang berasal dari Sulut hanya dua. Yakni Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh dan almarhum Laksamana TNI (Purn) Rudolf Kasenda.

Sama seperti Kasenda, Sondakh juga tidak lahir dan besar di tanah Minahasa. Namun ayahnya putra asli Minahasa.

"Papa dari Kanonang asli. Dia merantau ke Tobelo di Halmahera. Kemudian menikah dengan orang sana. Jadi saya lahir di sana. Sekolah sampai SMP di sana kemudia melanjutkan SMA di Ternate. Setelah lulus baru saya melanjutkan ke akademi angkatan laut," ungkap Sondakh di rumahnya, di komplek perumahan angkatan laut, Kelapa gading, Jakarta Utara, Minggu (10/9).

Sondakh mengenyam pendidikan angkatan laut sejak 1985 yaitu kursus Komandan Kapal Atas Air. Dia juga pernah mengikuti Operational Artilery di Yugoslavia dan Lemhannas.

"Setelah lulus, saya lanjut tugas di kapal hingga pangkat kolonel. Masa mudah saya memang banyak di atas air laut. Hanya turun kapal untuk sekolah lalu naik lagi dan turun lagi ketika ikut sekolah lagi," kata tokoh kawanua yang baru saja diberi gelar adat You Ente Kanonang oleh Rukun Kumanonang dan Majelis Adat Kanonang.

Lanjutnya, mungkin bagi sebagian orang berada di tengah laut lepas selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sangatlah menakutkan. Terkadang laut terlihat tenang, beberapa menit kemudian berubah menjadi badai. Namun bagi Sondakh, menghadapi keganasan lautan adalah makan rutin setiap hari.

"Saya pernah bertugas dalam patroli laut di seluruh Indonesia. Semua tugas di lautan itu menantang, seperti ombak tinggi dan besar. Tentunya itu bisa sangat menakutkan bagi sebagian orang dan itu sangat menantang. Tak semua orang mampu menghadapi dan kuat melawan kekuatan alam yang dahsyat itu," katanya.

Dia juga berbagi pengalaman saat operasi militer di Timor-Timur. Karena pada zaman itu alat komunikasi belum seperti saat ini. “Sehingga untuk saling berkomunikasi agak susah dalam melakukan operasi militer saat itu. Bayangkan ketika misalnya keadaan terdesak dan butuh bantuan di tengah laut, kita susah berkomunikasi untuk minta bantuan. Ditambah dengan amukan gelombang badai yang sering datang tiba-tiba, tentu sangat mendebarkan saat seperti itu," kenang pria pemilik postur tubuh tinggi itu.

Kini Sondakh sudah tidak bisa dikatakan mudah lagi. Umurnya sudah menapaki 69 tahun. Namun fisik dan semangatnya masih bisa mengalahkan anak mudah.

Karena keuletan dan kepintarannya, Mantan Kepala Staf TNI Angkatan laut (Kasal) ini disebut-sebut bakal mendapat ‘kursi’ dalam perombakan kabinet jilid III nanti. Rumor berkembang dia disiapkan sebagai Menteri Pertahanan. Wajar saja. Karena pengalamannya mengarungi samudera, membuat Sondakh paham benar strategi militer yang tepat. Sondakh juga dinilai mampu menerapkan sistem dan strategi pertahanan dan membangun kekuatan TNI yang tepat berdasar dinamika lingkungan stategik. Termasuk kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

"Biar sudah umur begini tapi masih mantap. Semua masih ja pake. Maksudnya masih berfungsi. Masih semangat terus. Kalau untuk ke depan, yah berjalan saja. Semua sudah ada yang atur kan," kata Sondakh sembari tertawa.(***)

Kirim Komentar