20 Sep 2017 10:48

Guru Guardian Angel

MyPassion

Oleh Kosmas Sobon, S.Fil.,M.Pd; Dosen Unika De La Salle Manado

GURU yang profesional adalah guru yang kurang lebih memiliki empat kompetensi dasar yakni kompetensi profesional, kepribadian, pedagogik dan sosial. Hal ini sangat penting karena guru adalah  orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah. Dalam arti itulah, kompetensi guru merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh seorang guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta tanggung jawab terhadap murid-murid yang diasuhnya,sehingga tugasnya sebagai seorang pendidik dapat terlaksana dengan baik.

Ironisnya dewasa ini ada kekawatiran di dalam dunia pendidikan yang kini menyeruak ketika menyaksikan beberapa guru yang tidak menjalankan tugasnya secara profesional.  Ada beberapa kejadian di sekolah-sekolah di mana guru lebih banyak menghukum daripada memberikan pujian/penghargaan (reward) kepada siswanya. Dunia pendidikan yang harusnya penuh dengan kasih sayang, tempat untuk belajar tentang moral, budi pekerti, kesempatan untuk membentuk potensi, bakat, kemampuan mereka, justru sekarang ini dekat dengan tindak kekarasan dan asusila.

Hal ini terjadi karena seorang guru kurang mampu mengenal, berelasi, bersahabat dan berkomunikasi dengan siswanya. Terjadi hubungan yang jauh antara siswa dan guru. Guru hanya bertugas sebagai pengajar, tanpa memperdulikan kebutuhan siswanya, tidak dapat menyentuh hati mereka, kurang menyapa mereka, dan konsekuensinya peserta didik tidak mengalami sebuah perubahan dalam hidup. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan.

Kurang lebih 300 tahun lalu, St. Yohanes Baptis De La Salle (1651-1719) telah memperkenalkan model pendidikan kepada orang-orang miskin (option for the poor) dengan berlandaskan pada  spiritualitas Lasallian yakni “Spirit of Faith, Service, Community.” Spiritualitas ini mendapat bentuknya dalam model pendidikan De La Salle, yakni pedagogik Lasallian, yakni teaching mind, touching heart, dan transforming live. Bagi De La Salle, salah satu indikator dari seorang guru yang profesional adalah guru yang mampu mencerdaskan dan memberikan pencerahan kepada peserta didiknya, yakni teaching mind. Namun tidak berhenti pada aspek kognitif semata tapi juga pada aspek afeksi, moral dan spiritual dengan cara menyentuh hati atau “touching hearts” para anak didik.

De La Salle mengajak agar seorang guru yang profesional bukan hanya mengandalkan salah satu aspek pendidikan yakni intelektual, tetapi juga aspek afeksi, kehidupan relasional, kedekatan, dan persahabatan yang mendalam dengan peserta didiknya. Seorang guru menjadi sehati dan sejiwa dengan mereka yang diajarkannya, memberikan teladan dan kesaksian hidup yang baik bagi anak didiknya. Artinya seorang guru dapat menolong peserta didiknya, jika ia mampu mengenal, bersahabat, dekat, dan menyentuh hati peserta didik.

“If you do not know your students, you cannot help them.” Dengan bertindak demikian, seorang guru dapat menyentuh hati anak didiknya, mendorong dan menggerakkan hati mereka sehingga membawa pembaharuan dalam hidup mereka itulah yang De La Salle maksudkan “transforming lives”. Dengan demikian proses pendidikan De La Salle adalah proses perpaduan antara pikiran (mind), hati (heart) dan kehidupan yang transformatif (life).  Idealisme seorang guru tersebut menjadi sebuah harapan dan kemampuan utama yang harus dimiliki oleh guru-guru yang ada di Indonesia.

Untuk menjawab kualitas guru yang baik, St. John Baptis De La Salle menawarkan sebuah model guru yang profesional. Bagi De La Salle, seorang guru Lasallian (Lasallian teacher) perlu memiliki komitmen berkembang khususnya dalam proses mengembangkan aspek kemanusiaan, melayani peserta didik dengan kelemah-lembutan, kesalehan, dan kesabaran serta memberikan kesaksian hidup mereka kepada peserta didik.

De La Salle mengajak guru untuk tidak mementingkan diri sendiri (unselfis), penilaian yang jujur, transparansi tanpa ada unsur transaksional, siap untuk dievaluasi oleh siapa saja, selalu bersedia dan mudah didekati atau dijumpai (the teacher is always approachable) baik di dalam maupun di luar kelas. Guru Lasallian memberikan perhatian yang penuh terhadap keunikan anak didik demi pengembangan mereka secara menyeluruh. Ia juga adalah seorang pembelajar seumur hidup  yang senantiasa meningkatkan kemampuan profesionalnya demi pelayanan pendidikan.

Bahkan De La Salle menegaskan guru adalah malaikat pelindung (guardian angel) bagi peserta didiknya. Seperti malaikat, seorang guru bertugas untuk melindungi, memelihara dan menghantar siswanya pada pengetahuan akan nilai-nilai kebenaran yang pada akhirnya menghantar mereka pada kepercayaan akan Tuhan.

Akhirnya St. John Baptis De La Salle mengemukakan 12 keutamaan dari seorang guru Lasallian, yakni: keseriusan (gravity), keheningan (silence), kerendahan hati (humility), penuh kehati-hatian (prudence), arif/bijaksana (wisdom), sabar (patience), kontrol diri (self-control/reserve), lemah-lembut (gentleness), punya semangat (zeal), waspada (vigilance), kesalehan (piety), dan murah hati (generosity). Untuk itu, jika anda ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang spiritualitas guru Lasallian, marilah datang bergabung dengan kami khususnya yang ingin menjadi Guru Sekolah Dasar di Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Katolik De La Salle Manado.(***)

Berita Terkait
Komentar
Kirim Komentar