19 Sep 2017 10:55

PDI-P Hati-hati di Minahasa

MyPassion

MANADO—Nama-nama kandidat yang akan bertarung di Pilkada Minahasa 2018 mendatang kian mengerucut. Partai Golkar sudah memantapkan pilihan pada pasangan Ivan Sarundajang (IvanSa) dan Careig N Runtu (CNR). Partai Gerindra, Partai Demokrat, dan Partai NasDem mulai didekati James Arthur Kojongian (JAK).

 

Paling ditunggu sekarang adalah siapa pasangan calon yang akan diusung PDI Perjuangan (PDI-P). Dari kabar beredar, Banteng masih berunding terkait siapa kandidat kuat yang bisa mengimbangi duet klan Sarundajang-Runtu. Sekretaris PDI-P Sulut Franky Wongkar saat diwawancarai Sabtu (16/9) pekan lalu, pendaftaran untuk Pilkada Minahasa belum akan dibuka. “Dalam waktu dekat kita akan buka pendaftaran untuk Sitaro dan Bolmut. Khusus Minahasa, ada mekanisme partai mengatur. Bertahap. Karena tujuan kita adalah menang,” ujar Wongkar.

Menurutnya, meski partai lain sudah mengumumkan dan menetapkan calon, PDI-P tak akan terpengaruh. “Partai punya strategis masing-masing dalam menghadapi Pilkada. Minahasa sekarang ini dipegang PDI-P. Kami targetnya mempertahankan itu,” tegas Wongkar.

Di sisi lain, dari informasi yang dihimpun Manado Post, peluang Jantje Wowiling Sajow (JWS) untuk diusung PDI-P sangat terbuka. Di samping ketua DPC, JWS juga adalah incumbent bupati. “Asal survei JWS sesuai dengan syarat yang ditetapkan partai,” sebut sumber resmi Koran ini.

Hanya saja selain JWS, nama Robby Dondokambey mencuat bakal maju dari partai berlambang banteng ini. Kemudian di papan dua ada beberapa nama yang muncul. Bendahara PDI-P Minahasa Jeiny Mumekh salah satu kandidat kuat. Dari kalangan birokrat muncul nama Jefry Korengkeng dan Roy Roring.

Sekretaris PDI-P Minahasa Arnold Winowatan menjelaskan, mekanisme penjaringan calon partai moncong putih ini dilakukan dengan sistem terbuka terbatas. “Untuk prosesnya, kita terus berkoordinasi dengan DPD. Yang pasti kita jalankan sesuai aturan dan mekanisme partai,” singkat Winowatan.

Pengamat politik Stefanus Sampe mengakui PDI-P masih berhati-hati menetapkan calon. Menurutnya, PDI-P harus mencari calon yang populer untuk menyaingi IvanSa dan CNR. “Perlu ada survei yang independen dari PDI-P untuk mendapatkan pasangan yang tepat,” tutup Sampe.

PDI-P, lanjutnya, terkesan masih memastikan kekuatan menjadi lawan nanti. “Jika sudah diketahui, maka formasinya akan menyesuaikan. Strategi kemudian bagaimana kekuatan yang dibangun dalam menyeimbangkan kekuatan pihak lawan,” paparnya.

Lalu siapa kemungkinan yang akan diusung PDI-P untuk bisa mengalahkan lawan? Dikatakan Sampe, paling penting adalah menyeimbangkan kekuatan di masing-masing dapil. “Evaluasi hasil pada Pilkada sebelumnya. Saya rasa kekuatan lawan sudah bisa diketahui melalui hal tersebut. Apalagi baik IvanSa maupun CNR sudah pernah bertarung di Pilkada lalu, jadi basis massanya sangat jelas,” tukas Sampe.

Di sisi lain akademisi Unima Titof Tulaka mengatakan, sangat wajar jika partai berhati-hati menetapkan calon di Pilkada Minahasa. “Gengsi Minahasa sangat tinggi. Apalagi PDI-P, yang sedang memegang kursi incumbent. Mereka pasti bidik kemenangan di Minahasa,” sebutnya.

Dia melanjutkan, agar bisa menang, PDI-P harus memilih calon yang punya elektabilitas tinggi dan memang benar-benar dicintai masyarakat. “Harus seimbang juga posisi calon bupati dan wakilnya. Pertimbangkan dapil masing-masing figur. Itu yang terpenting,” pungkasnya.(gel)

Kirim Komentar