14 Sep 2017 11:16
Derita Desa Jiko Belanga di Boltim

Tak Ada Listrik-Telepon, Jalan Rusak

MyPassion
BAHAYA: Salah satu bus Damri Perintis mencoba melewati sungai di Jiko Belanga. Ini adalah akses satu-satunya yang harus dilewti jalur darat setiap hari. Foto: Lucky Mamahit

Umumnya desa di Sulut sudah menikmati listrik, termasuk jaringan telepon. Tapi tidak begitu di Desa Jiko Belanga, Boltim.

Laporan: Lucky Mamahit, Boltim

BEGINI mungkin nasib desa yang berada di wilayah perbatasan. Jauh dari kemajuan dan sentuhan pembangunan yang memadai. Salah satunya Desa Jiko Belanga, Boltim.

Desa yang terletak di Kecamatan Nuangan ini sangat memprihatinkan. Di tengah daerah lain sudah lama menikmati listrik daerah ini belum tersentuh sama sekali. Desa yang berbatasan dengan Kabupaten Bolsel ini hanya mengandalkan genset untuk peneragan. Yang lain bahkan masih menggunkan lampu tradisional berbahan minyak tanah.

Ini memang menjadi keluhan utama masyarakt di sana. Karena boleh dibilang masih ‘terisolasi’ dari kemajuan dan pembangunan. Apalagi bicara internet, masih sangat jauh tertinggal. Karena selain belum ada listrik, jaringan telepon juga nihil. Otomatis warga di sana tidak bisa berkomunikasi via telepon gengam seperti daerah lain.

“Ini memang menjadi masalah yang cukup berat yang harus dihadapi masyarakat kami sehari-hari,” ujar Riman Manuho, Kepala Desa Jiko Belanga.

Lanjutnya, sehingga masyarakat sangat berharap PLN segera masuk di Jiko Belanga. “Begitu juga jaringan telekomunikasi,” katanya.

Mengatasi masalah tersebut, Manuho mengatakan, sempat ada bantuan dari pemerintah panel dan baterai tenaga surya. "Tapi itu masih sangat kurang. Soalnya hanya mampu menyalakan tiga buah lampu untuk satu malam. Yang lainnya menggunakan genset. Padahal biaya bensin untuk genset mencapai Rp 1 juta setiap bulannya. Sementara masyarakat kami umumnya hanya nelayan," katanya.

Namun Sangadi keempat Jiko Belanga ini mengaku ada hal juga yang sedikit menghibur. Karena meski jauh tertinggal dari sisi pembangunan dan infrastrukur, tapi sudah ada beberapa anak Jiko Belanga yang sarjan.

“Di sini hanya ada sekolah satu atap. Tapi sudah ada puluhan anak yang mengenyam pendidikan sarjana,” jelasnya. Dia sendiri sudah berhasil menamatkan kedua anaknya sekolah pelayaran di Jakarta dan Surabaya.

Terpisah, Kepala Sekolah Dasar (SD) Satap Jiko Belangan Hesni Bernama mengatakan, saat ini sudah sedikit berkembang dibanding sebelumnya. Karena akses jalur darat sudah dibuka Pemkab Boltim. Sebelumnya, akses transportasi satu-satunya harus lewat laut jika ingin ke daerah lain. Termasuk jika ingin ke ibu kota kabupaten, Tutuyan.

Kepsek yang sudah mengajar di Jiko Belanga sejak 1985 ini mengatakan, jumlah siswanya saat ini lebih dari 90. “Tahun ini ada lima PNS dan dua honor yang mengajar. Namun, akan berkurang karena saya pensiun dan satu lagi akan pindah,” katanya.

Dengan berkurangnya pengajar, kondisi pendidikan di Jiko Belanga akan lebih sulit. “Karena 94 murid nantinya hanya akan dididik lima tenaga pengajar. Kasihan guru dan anak-anak," ungkap perempuan yang sudah 32 tahun mengabdi di Jiko Belanga itu.

Di sisi lain, waluapun akses jalur darat sudah dibangun, tapi kini sejumlah titik rusak. Bahkan ada yang sangat berpotensi longsor. Dari Jiko Belanga ke Tutuya ditempuh hampir dua jam dengan bus Damri Perintis yang melayani rute Jiko Belanga-Mahembang-Bitung.

Diungkapkan Julius Watuna, salah satu pengemudi Damri, ada dua bus perintis rute Jiko Belanga. Bagi pria yang sudah 16 tahun bekerja sebagai pengemudi Damri Perintis ini, melayani rute Jiko Belanga sangat ekstrim. "Dua tahun di sini, sudah merasakan sulitnya melewati jalur berbahaya," ungkap pria asal Tonsea ini.

Menurut pria 56 tahun ini, pengguna Damri Perintis bukan hanya masyarakat Jiko Belanga. Ada juga penumpang datang dari Bolsel. "Ada yang datang dari Posilagon, Desa Merdeka, Bolsel. Mereka datang menggunakan perahu, dengan tarif sekitar Rp 15 ribu," katanya.

Lanjutnya, di ruas jalan Jiko Belanga ada beberapa titik rawan longsor. "Sekarang sudah agak mendingan. Rawan longsornya tinggal beberapa titik. Itu yang selalu menjadi kekhawatiran saya. Ini soal membawa penumpang yang keselamatannya ada di tangan saya," katanya.

Dia pun berharap pemerintah segera memperbaiki ruas jalan Jiko Belanga yang rusak parah. (***)

Kirim Komentar