13 Sep 2017 09:31

Tak Ada Lawan, Yacob Dilantik Presiden Perempuan Pertama

MyPassion
Halimah Yacob

SINGAPURA – Hari ini, Singapura bakal memiliki presiden baru. Seharusnya, hari ini menjadi momen istimewa karena presiden kedelapan tersebut adalah perempuan dari etnis Melayu. Namun, kenyataannya, publik kecewa. Bukan pada sosok Halimah Yacob, perempuan yang akan menggeser Tony Tan dari kursi presiden. Tapi, lebih pada prosesnya yang dianggap tidak demokratis. Sekitar 5,6 juta penduduknya merasa tak dianggap.

Amandemen konstitusi Singapura yang membuatnya begitu. Peraturan baru membuat Halimah maju sendirian dalam proses pemilihan presiden. Karena tak ada lawan, Komisi Pemilihan Umum Singapura (PEC) merasa tak perlu melaksanakan pemungutan suara. Sebenarnya, Mei lalu, sudah ada yang menggugat amandemen yang diketok pada September 2016 tersebut karena dianggap tidak demokratis. Namun, pengadilan menolaknya.

Komentar pedas pun bermunculan di banyak media sosial. “Jangan menyebut ini pemilu jika kami tidak bisa memberikan suara,’’ tulis pengguna Facebook Fazly Jijio. Apalagi, Halimah berasal dari partai penguasa People Action Party (PAP). Jijio bukan satu-satunya yang memberikan komentar miring. Komentar-komentar itu mulai bermunculan saat PEC mengumumkan lolosnya Halimah sebagai kandidat presiden Senin (11/9).

Berdasar data yang dirilis perusahaan jasa konsultan Meltwater, sentimen negatif tentang pilpres mencapai 83 persen. Hanya 17 persen yang positif. Tagar #NotMyPresident di Singapura kian marak saja di media sosial. Tagar itu kini menjadi trending di Twitter dan Facebook. Apa pun komentar publik, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa Halimah bakal menjadi presiden kedelapan Singapura. Dia menjadi perempuan pertama yang memimpin negeri yang terkenal dengan Patung Merlion-nya itu.

Meski mewakili rakyat Melayu, sebenarnya Halimah tak berdarah murni. Ayahnya yang meninggal kala dia usia 8 tahun berasal dari etnis India. Mendiang ibunya, Maimun Abdullah, yang berdarah Melayu. Untuk sampai di posisinya sekarang, Halimah harus berjuang keras. Sejak ayahnya meninggal, ibunya berjualan nasi padang dengan menggunakan gerobak. Halimah kecil membantu mencuci piring, beres-beres, dan menyajikan makanan ke pembeli. Aktivitas itu membuat dia kelelahan dan akhirnya sering tertidur di kelas.

Halimah Yacob lahir di Singapura pada 23 Agustus 1954. Dia menempuh pendidikan di Singapore Chinese Girl’s School dan Tanjung Katong Girl’s School sebelum melanjutkan ke University of Singapore. Dia juga merupakan alumnus National University of Singapore (NUS). Tahun lalu dia dianugerahi gelar doktor kehormatan di bidang hukum oleh NUS. Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew juga pernah mendapatkan gelar serupa dari NUS.

Halimah menikah dengan pria berdarah Arab Mohammed Abdullah Alhabshee dan memiliki lima anak. Sejak digadang-gadang sebagai kandidat presiden, identitas etnis Halimah mulai diperdebatkan. Di kartu identitas dirinya, tidak terlampir bahwa dia adalah etnis Melayu. Mendiang ayahnya memang seorang etnis India muslim.

Ada tudingan, Halimah berusaha menghilangkan jejak bahwa dirinya adalah etnis campuran. Sebelumnya, di Wikipedia terdapat keterangan bahwa dia memiliki darah India, tapi belakangan keterangan itu telah dihapus. Entah bagaimana, yang jelas, Halimah telah mendapatkan sertifikat sebagai etnis Melayu dari Malay Community Committee setiap kali mencalonkan diri sebagai anggota parlemen sejak 2001 lalu.

Pengamat menilai, Halimah akan membawa beban berat saat menjabat nanti. Sebab, kemampuannya sebagai presiden dipertanyakan. Penyebabnya, Halimah tidak dipilih rakyat. Dia menjabat karena sistem. Yaitu, karena kandidat presiden yang lain tidak lolos kualifikasi.

“Dia akan menjadi presiden yang baik. Tapi, banyak penduduk Singapura yang berharap ada pemilu karena mereka merasa memiliki hak pilih,’’ ujar Zaqy Mohamad, anggota parlemen dari PAP. 

Diketahui, Halimah menjadi perempuan pertama yang mengetuai parlemen. Dia melepas jabatan tersebut untuk maju sebagai kandidat presiden ke-8 Singapura.

Sejatinya, terdapat lima orang yang mencalonkan diri. Namun, hanya ada tiga orang yang mengantongi sertifikat dari komunitas Melayu. Dua orang lagi tidak memiliki sertifikat tersebut. Pilpres kali ini memang khusus untuk etnis Melayu. Berdasar amandemen konstitusi tahun lalu, jika ada salah satu etnis yang tidak kebagian kursi presiden selama lima periode terakhir, etnis tersebut berhak atas pilpres istimewa. Presiden terakhir dari etnis Melayu adalah Yusof Ishak. Dia adalah presiden pertama Singapura yang menjabat 1965–1970.

Setelah sisa tiga nama, hanya ada satu yang dinyatakan lolos kualifikasi oleh Departemen Pemilu (ELD) Singapura. ELD tak menyebut siapa yang mendapatkan sertifikat kelayakan. Meski begitu, publik sudah tahu bahwa yang disetujui adalah Halimah. Sebab, pekan lalu perempuan 63 tahun itu menyatakan kepada publik bahwa dirinya maju sebagai kandidat presiden. Pengalamannya sebagai ketua parlemen sejak Januari 2013 membuatnya secara otomatis lolos.

“Saya berjanji melakukan yang terbaik untuk melayani rakyat Singapura dan itu tidak akan berubah terlepas ada pemilu atau tidak,’’ ujar Yacob. Perempuan yang pernah menjadi anggota People’s Action Party (PAP) tersebut memang secara otomatis bakal menjadi presiden jika hingga berakhirnya waktu pencalonan Rabu (13/9), tidak ada yang mendapat sertifikat kelayakan lagi. Penduduk Singapura tidak perlu lagi menjalani voting.

Dua kandidat lainnya yang tak lolos adalah Chairman Bourbon Offshore Asia Pacific Farid Khan dan CEO Second Chance Properties Mohamed Salleh Marican. Karena tidak pernah memiliki pengalaman di pemerintahan dan melamar dari jalur swasta, ada syarat yang harus dipenuhi Farid dan Salleh. Yaitu, perusahaan yang mereka bawahkan memiliki nilai USD 500 juta atau setara Rp 4,9 triliun selama tiga tahun berturut-turut.

“Meski saya kecewa dengan keputusan komite pemilu presiden, hal itu tidak akan menghentikan saya untuk terus melayani rakyat,” tegas Farid. Kekecewaan serupa diungkapkan Salleh. Meski begitu, keduanya menerima keputusan tersebut. (jpg/vip)

Komentar
Kirim Komentar