12 Sep 2017 08:52

Setara D-1, Dirikan Sekolah Formal Khusus Perempuan

MyPassion
Yohana Yambise

JAKARTA – Sekolah formal khusus perempuan akan didirikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA). Sekolah untuk lulusan SMA sederajat itu bahkan sudah dikonsultasikan ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Pada tahun depan ditargetkan sudah bisa dibuka pendaftaran untuk peserta didik.

          Menteri PPA Yohana Yambise mengungkapkan sekolah formal setara diploma satu (D-1) itu dibuat untuk meningkatkan kemampuan perempuan yang berada di kantong-kantong TKI. Sebab, potensi menjadi korban perdagangan manusia alias trafficking begitu besar. Lantaran, para perempuan yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) itu tidak memiliki kemampuan.

          “Kami meniru di Manila, Filipina. Sekolah formal Woman Technical College pakai sistem SKS,” ujar Yohana di komplek gedung DPR, kemarin (11/9).

          Dia menuturkan saat ini konsep untuk pembuatan sekolah tersebut sudah hampir selesai. Turut dipersiapkan pula Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mengurusi sekolah tersebut. “Materi pembelajarannya nanti lebih pada hospitality, menjadi baby sitter atau perawat orang jompo,” ungkap dia.

          Sudah dipersiapkan dana sekitar Rp 10 miliar untuk pendirian sekolah tersebut. Yohana berharap para kepala daerah bisa tertarik untuk mengirimkan surat permohonan pendirian sekolah tersebut. “Sebab kami belum punya sarana dan prasarananya. Sedangkan uang pendanaannya sudah ada,” jelas dia.

          Sekolah tersebut diharapkan bisa berdiri di kantong-kantong TKI. Seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Para perempuan yang berkeinginan menjadi TKW  itu akan dididik secara khusus terlebih dahulu sebelum diberangkatkan ke luar negeri. “Akan ada sertifikasi secara internasional dari Australia juga,” imbuh dia.

          Selain itu, Kementerian PPA juga mendorong pendirian sekolah formal untuk para perempuan. Yohana mengungkapkan bahwa sekolah tersebut akan meniru model pendidikan sebuah sekolah masyarakat di Poso. Nah, sekolah tersebut akan diduplikasi ke daerah-daerah lain. “Khususnya di daerah yang rawan trafficking dan kekerasan pada perempuan,” tutur Yohana. (jpg/vip)

Kirim Komentar