12 Sep 2017 08:00

Beras Kemasan Dilarang Jual Mahal

MyPassion
Amran Sulaiman

JAKARTA – Menyusul diberlakukannya Harga Eceran Tertinggi (HET) bagi beras premium dan medium, Kementerian Pertanian (Kementan) bakal melarang penjualan beras kemasan kualitas premium dengan harga mahal. Mulai saat ini, seluruh beras premium baik curah maupun kemasan tidak boleh lagi dijual melebihi HET.

Dalam Rapat Kerja Anggaran dengan DPR Kemarin (11/9) Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, sudah sejak lama Kementan melakukan riset tentang harga beras di Indonesia. Ia menyimpulkan bahwa harga rata-rata beras di Indonesia sangat mahal. “Sekitar Rp 13.125 per kilogram,” kata Amran.

Kondisi tersebut, kata Amran disebabkan oleh produsen yang berlomba-lomba memproduksi beras dengan kemasan dan kualitas ‘premium’ serta menjualnya dengan harga yang mahal hingga menembus Rp 36.000 per kilogram. “Ini ada pergeseran besar dari beras medium dan premium, harga perlahan terkerek naik,” bebernya.

Pria asal Makassar ini yakin, bahwa penerapan HET akan menjadi solusi permanen yang secara bertahap bisa menurunkan harga beras nasional.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi mengungkapkan bahwa fungsi utama dari HET adalah mengendalikan batas tertinggi harga penjualan beras. Selain itu, untuk mencegah pemalsuan kualitas yang menjebak pembeli. “Ada beras yang dibungkus bagus, padahal ya kualitasnya di bawah itu,” paparnya.

Perilaku pasar seperti tidak hanya datang dari produsen. Konsumen di Indonesia juga belum sepenuhnya terdidik. Beberapa kalangan masyarakat masih bangga membeli beras dengan harga tinggi. “Akhirnya harga meroket liar, nggak bisa dikendalikan,” ungkap Agung.

 

Menurutnya, beras adalah kebutuhan pokok 2 juta rakyat indonesia. Produsen tidak boleh bermain-main dengan harga dan pemerintah harus mengawasi secara ketat. Tidak bisa diperlakukan seperti barang dagangan lainnya. “Kalau sabun nggak papa, mau bikin yang bagus sampai semahal apapun terserah,” ungkapnya.

Dengan adanya HET, Agung optimistis bahwa harga rata-rata beras di Indonesia bisa turun. Dibandingkan negara-negara tetangga, harga pangan pokok di Indonesia ini masih terhitung tinggi. Selain itu, perubahan harga beras bakal mempengaruhi komoditas pangan lainnya. “Kalau beras naik sedikit, yang lain naik banyak. Begitupun kalau turun. Bakal ada multiplier effect,” urainya.

Beras dengan kemasan bagus lumrah ditemui di jual di ritel-ritel modern.  Para periode Agustus lalu, harga kemasan ukuran 5 kilogram rata-rata Rp 80 ribu per kilogram atau Rp 16 ribu per kilogram. Saat ini, harga sudah mulai turun ke Rp 64 ribu per kilogram atau kurang lebih Rp 12.800 per kilogram.

Pihak pengusaha beras menyatakan tidak keberatan dengan hal ini, Komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food Anton Apriantono mengungkapkan bahwa selama ini produk beras Maknyuss produksi salah satu grup PT TPS dijual Rp 13 ribu per kilogram. “Kalau cuma turun ke Rp 12.800 masih bisa, kita nggak rugi,” kata Anton.

Namun, mantan menteri pertanian era SBY ini mengungkapkan, bahwa tuduhan Kementan tidak berdasar. Menurutnya, prosentase beras kemasan sangat kecil dibandingkan beras medium dan beras murah. “Cuma lima persen dari beras nasional, lebih banyak beras murahnya,” ujarnya.

Meskipun bisa membatasi produk dari pabrik beras kemasan, Anton mengatakan bahwa pihaknya bisa mengikuti pemerintah. “Asalkan harus adil, beras-beras impor yang harganya di atas Rp 12.800 juga harus dilarang beredar,” pungkasnya. (jpg/vip)

Kirim Komentar