11 Sep 2017 10:39

Hub Port Untungkan Sulut, Industri di Bitung Harus Dikembangkan

MyPassion
Jenny Karouw

MANADO—Menunjang jalur pelayaran dagang Roll On-Roll Off (RoRo), Pelabuhan Bitung terus didorong menjadi International Hub Port. Karena bakal rutin melayani jalur pelayaran dagang dari Bitung menuju General Santos, kemudian ke Davao, Filipina.

Keuntungan lain menjadi International Hub Port, Pelabuhan Bitung bisa dijadikan tempat transit untuk pelayaran internasional ke Jakarta atau Surabaya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Ir Jenny Karouw MSi menjelaskan, jika pelabuhan Bitung sudah ditetapkan menjadi hub port, akan sangat menguntungkan Sulut. “Kita meminta agar semua barang yang datang dari Filipina atau negara Asia Pasifik lain menuju Indonesia, agar masuk dulu ke Bitung. Baru kemudian disalurkan ke Jakarta atau Surabaya,” ucap Karouw.

Dia menjelaskan, peluang barang-barang dari negara Asia Pasifik masuk Sulut bisa lebih mudah. “Bitung kita akan kejar untuk menjadi hub port. Tidak perlu dibongkar di Bitung tapi hanya transit saja,” ungkapnya.

Lanjut Karouw, barang yang masuk tidak banyak. “Tapi barang yang mau dibawa ke Jakarta singgah dulu di Bitung,” katanya.

Untuk itu, terangnya, pemerintah sedang mengupayakan agar hal tersebut terealisasi. “Kami mendorong adanya regulasi yang menunjang dari pemerintah pusat. Di mana Bitung dijadikan International Hub Port,” pungkas Karouw.

Sementara itu, Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Davao-Filipina Berlian Napitupulu menjelaskan, pihaknya mendukung rencana penetapan Pelabuhan Bitung sebagai International Hub Port. Berlaku untuk negara-negara di Asia Pasifik termasuk Filipina. “Saya kira bagus menetapkan Pelabuhan Bitung sebagai pelabuhan internasional dan hub port negara-negara di pasifik,” ujarnya.  Secara kebijakan, kata Napitupulu, keputusan ini harus disambut baik oleh pengusaha.

Namun, Napitupulu menekankan, jika akan ditetapkan sebagai Hub Port, industri di Sulut khususnya di Bitung, harus dikembangkan. “Kelihatannya di wilayah ini belum cukup industri. Kapal yang sudah berlayar dari Jawa ke negara lain termasuk Filipina, mereka harus singgah di Bitung. Tapi jika barang tidak cukup, rugi kan,” ucapnya.

Solusinya, saran Napitupulu, perlu adanya pengepul. “Untuk menyiasati hal ini, di Bitung perlu ada pengepul. Agar tidak rugi,” katanya. “Karena jika barang cukup, bisa menggunakan kapal dari Jawa. Perlunya konsiliasi atau pengepul karena industri di Bitung atau secara umum di Sulut, masih terbatas,” pungkasnya.(fgn/har)

Kirim Komentar