11 Sep 2017 10:33
Satu Motif Butuh Waktu Dua Minggu

Bernostalgia dengan Kampung Halaman Lewat Batik Bercerita Karya Sizzy Matindas

MyPassion
Sizzy Matindas

Walau Sulut bukan sentra penghasil batik, tapi beberapa warga Sulut sukses mengembangkan keragaman budaya Bumi Nyiur Melambai di bidang ini. Salah satunya Sizzy Matindas.

Laporan Rangga Mangowal, Jakarta.

BATIK merupakan kain khas Indonesia. Kain batik penuh dengan corak beragam. Di tiap corak memiliki arti serta nilai seni dari masing-masing daerah penghasil batik. Oleh Sizzy Matindas, dia pun mengembangkan Batik Bercerita sejak tiga tahun lalu.

Lahir dan besar di Manado, Sizzy yang merupakan alumni SMA Negeri 1 Manado ini melanjutkan kuliah ke Jakarta. Kegemarannya di dunia seni desain membuat Sizzy meneruskan kuliah di Universitas Trisakti dan mengambil Teknologi Grafika yang berfokus pada desain grafis. “Saya sangat senang dan suka menggambar. Setelah lulus, saya menggeluti desain interior selama kurang lebih tujuh tahun," ungkap Sizzy, di kediamannya di wilayah Kelapa Gading, Jakarta Timur, Jumat (8/9).

Sizzy mulai tertarik di dunia batik ketika dia diundang dalam salah satu iven fashion show batik di Jakarta. “2014 akhir, saya mulai tertarik di batik. Di fashion show batik, saya melihat batik-batik bertema daerah. Akhirnya mencoba memulai batik khas Sulawesi Utara,” lanjutnya.

Awam di dunia batik, Sizzy mengawalinya dengan melakukan riset mengenai batik. Mulai dari proses pembuatan, serta sejarahnya.

“Akhirnya saya tahu bahwa dari Sulut ternyata tidak ada batik khas. Saya ingin berimprovisasi dengan batik Sulut. Riset pun dilakukan dengan mencari informasi dari beberapa budayawan sulut,” sebutnya.

Batik Bercerita bagi Sizzy Matindas juga dipengaruhi hobi Sizzy mendengar lagu-lagu daerah Sulut. Apalagi di lagu-lagu itu, banyak mengenai kisah-kisah dahulu kala.

Dari awal desain, Sizzy lebih memilih menggambarnya dengan tangan. “Tidak suka mendesain menggunakan komputer karena terkesan gambarnya akan kaku. Jadi semua handsfree. Untuk prosesnya bisa satu sampai dua minggu menggambar. Baru setelah itu saya kirim ke pengrajin untuk dibuat," jelasnya.

Dikisahkan Sizzy, desain awal batiknya bertema Miara si Luri. “Itu berasal dari lagu daerah Minahasa Miara si Luri. Jadi latar belakangnya di Minahasa. Tekstur yang berbukit-bukit, pohon kelapa, sawah, rumah Minahasa dan Gunung Lokon, serta dua orang laki-laki dan perempuan menggunakan baju adat,” katanya.

Ada juga batik motif Daun Gedi, Manguni, dan Kabasaran. Untuk motif Tomohon Kota Bunga, sebut Sizzy, dia mengisahkan kehidupan Tomohon dari arah Manado, sampai ke Danau Linow.

Perempuan pemilik kulit putih ini mengakui, ada banyak kendala di awal meniti karirnya di bidang tersebut. Kendala paling serius saat mencari pengrajin batik untuk membuat desain batiknya. “Karena tidak semua pengrajin mau menerimanya. Itu karena proses pelukisan batik ke kain agak susah. Dan berbeda dengan motif yang biasa,” ujarnya.

Pada 2015, SIzzy digandeng salah satu event organizer untuk expo kopi dari Amerika. Dia ditawari untuk mendesain batik sesuai tema kopi. “Biasanya yang diangkat adalah pengrajin batik. Tapi kali itu, mereka sangat ingin mengangkat desainer batiknya,” sebut Sizzy.

Di awal 2016, Sizzy juga ikut dalam acara ASEAN di Los Angeles, Amerika Serikat. “Saat itu saya mengangkat desain batik bertema Tarsius dan Selat Lembeh. Saya sangat senang bisa memperkenalkan daerah asal ke Amerika lewat batik bercerita itu. Harapan saya, bisa menarik minat warga mancanegara untuk datang ke Sulut, dan melihat Tarsius dan Selat Lembeh secara langsung," ungkapnya.

Sejumlah warga Kawanua mengaku terkesima dengan desain Batik Bercerita ini. Karena mereka bisa bernostalgia secara tidak langsung dengan kampung halaman.(***)

Kirim Komentar