09 Sep 2017 09:43
Silangen: Kemiskinan dan Pengangguran Turun

Masyarakat Bahagia, PE Naik

MyPassion
BAHAS EKONOMI SULUT: Dewan Gubernur BI Rosmaya Hadi saat memberikan cinderamata kepada Sekprov Edwin Silangen, Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw dan sejumlah panelis saat seminar perkembangan dan outlook perekonomian Sulut tahun 2017, kemarin (8/9).

MANADO—Pertumbuhan ekonomi (PE) Sulawesi Utara (Sulut) ternyata sedikit banyak dipengaruhi tingkat kebahagiaan masyarakat. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil di Sulut, sejalan dengan indeks kebahagiaan yang mencapai tiga besar terbaik se-Indonesia. Hal ini tak dipungkiri Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) Rosmaya Hadi yang menjadi keynote speaker dalam seminar terkait perkembangan dan outlook perekonomian Sulut tahun 2017.

“Warga Sulut bisa bersyukur karena memiliki pemerintah yang bisa meningkatkan kualitas kebahagiaan. Buktinya, Sulut jadi salah satu dari tiga provinsi terbahagia di Indonesia,” beber Rosmaya.

Perempuan berjilbab ini pun mengapresiasi pemerintah provinsi yang bisa bersinergi menjadikan masyarakat lebih bahagia. 

Selanjutnya, terkait perekonomian. Ia menegaskan, prospek perekonomian global saat ini masih sejalan dengan pergeseran sumber pertumbuhan ekonomi nasional. "Proses perbaikan ekonomi global ditopang membaiknya ekonomi Tiongkok. Sedangkan peningkatan ekonomi Amerika Serikat (AS) tidak setinggi yang diperkirakan sebelumnya," ujarnya.

Dia juga menyebutkan adanya risiko eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi prospek perekonomian. "Risiko eksternal mereda terutama terkait kenaikan Fed Funds Rate (FFR) dan normalisasi neraca Bank Sentral AS. Risiko internal terkait risiko domestik yang menyebabkan berlanjutnya proses konsolidasi korporasi dan perbankan," ungkapnya.

Sedangkan untuk Sulut secara khusus, Rosmaya menyebutkan, memiliki beberapa tantangan. “Tantangan yang harus dihadapi Sulut terkait perekonomian salah satunya perlu mendorong difersifikasi produk ekspor,” katanya.

Selain itu, lanjut Rosmaya, faktor penyaluran kredit yang rendah juga menjadi tantangan. “Tak hanya itu, pembangunan  infrastruktur yang belum memadai menjadi tantangan tersendiri untuk perekonomian Sulut. Juga kualitas SDM berpengaruh,” jelasnya.

Sektor pertanian, lanjut Rosmaya, juga memiliki sejumlah tantangan. “Seperti Nilai Tukar Petani (NTP) masih merugikan petani. Biaya produksi masih lebih tinggi dari biaya yang mereka hasilkan,” sebutnya. Kemudian, ia menambahkan, tantangan dalam hal promosi juga menjadin PR bagi pemerintah. “Promosi harus jalan. Karena, dengan melakukan promosi, kita dapat memperkenalkan potensi di daerah kita,” ungkapnya.

Sedangkan untuk sektor pariwisata, beberapa pekerjaan rumah harus diselesaikan pemerintah, lanjut Rosmaya. Yakni terkait infrastruktur pariwisata, transportasi dan kebersihan. “Selain itu, pengembangan souvenir juga menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pariwisata,” ungkapnya.

Namun, dengan berbagai tantangan tersebut, lanjutnya, Sulut juga memiliki potensi yang wajib dilirik. “Beberapa potensi yang dimiliki Sulut yaitu tentunya letak geografis. Dimana Sulut menjadi pintu gerbang Asia Pasifik. Potensi pariwisata juga cukup membanggakan. Bahkan, di Sulut hewan endemik Tarsius bisa menjadi potensi tersendiri,” pungkas Rosmaya.

Sementara, Gubernur Sulut Olly Dondokambey melalui Sekretaris Provinsi Edwin Silangen menjelaskan, perubahan ekonomi di Sulut salah satunya disebabkan penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran.  "Perekonomian Sulut senantiasa menunjukkan progres yang menjanjikan. Antara lain terindikasi dengan menurunnya angka kemiskinan menjadi 8,10 persen serta tingkat pengangguran terbuka, yakni 6,12 persen," kata Silangen.

Meskipun demikian, Silangen melanjutkan, tak bisa dipungkiri ke depan dinamika pembangunan di sektor perekonomian akan senantiasa sarat dengan tantangan dan peluang. "Bahkan pada triwulan kedua tahun 2017 ini, berdasarkan berita resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut yang dirilis Agustus, perekonomian Sulut tumbuh sebesar 5,80%, melambat bila dibandingkan dengan triwulan yang sama 2016," ujarnya.

Olehnya, diperlukan sinergitas dengan semua pihak terkait untuk menyikapi berbagai dinamika tantangan yang kemungkinan terjadi. Serta mengoptimalkan pencapaian sasaran di bidang perekonomian daerah pada triwulan III dan ke depannya. "Tentu sangat disadari bahwa upaya-upaya atau program yang dikerjakan sangat membutuhkan pemantapan, penyelarasan, sinergitas serta berbagai masukan dan informasi berharga dari segenap pihak terkait, utamanya Bank Indonesia," bebernya.

Seminar ini turut dihadiri Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw, Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut Soekowardojo, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Rudi Mokoginta, sejumlah pimpinan BUMN, pimpinan perusahaan, perbankan, termasuk ekonom dan para akademisi. (fgn/har)

Kirim Komentar