04 Sep 2017 12:09

Transformasi Jalan Roda Manado

MyPassion

WISATA di Kota Manado tidak mungkin diceritakan tanpa menyinggung Jalan Roda (Jarod). Nama itu merujuk pada gugusan rumah kopi ini terletak di satu kawasan, yang disebut Jalan Roda atau Jarod. Jalan Roda terletak tak jauh dari zero-point kota Manado. Sejarahnya dengan jelas mendeskripsikan pemilihan nama tersebut.

 

Jalan Roda

Awalnya, kawasan ini merupakan pusat pertemuan para pedagang dari pelbagai daerah di pedalaman Minahasa. Alat transportasi yang mereka gunakan adalah roda (semacam pedati) yang ditarik oleh sapi atau kuda untuk mengangkut hasil bumi mereka dan kemudian dipasarkan di Manado. Karena itu, tempat tersebut juga berfungsi sebagai stasiun roda. Demikian, jalan tersebut dinamakan Jalan Roda, yang kemudian digunakan sampai sekarang walaupun alat transportasi tersebut kini telah digantikan oleh kendaraan bermotor.

Selain sebagai stasiun roda, Jalan Roda menjadi tuan rumah bagi pertukaran informasi dan tempat pertemuan bagi para pedagang. Rupanya, fungsi inilah yang menyejarah dan dilestarikan terus-menerus oleh pelbagai generasi: Jalan Roda sebagai tempat diskusi dan berbagi cerita.

Transformasi struktural Jalan Roda sungguh menarik untuk ditelusuri. Awalnya, Jalan Roda merupakan perpanjangan atau perluasan wilayah domestik karena lebih merupakan tempat untuk berdagang dan mengumpulkan kapital. Hasil yang diperoleh dari proses perdagangan ini kemudian akan dibawa kembali ke rumah (wilayah domestik). Wilayan ini masih masuk dalam cakupan ranah pribadi/privat. Dengan demikian, dalam struktur ini, Jalan Roda menjadi perluasan ranah pribadi bukan ranah publik.

Dalam hal ini, penulis merujuk pada struktur ranah publik dan ranah pribadi/privat yang didasarkan pada dikotomi klasik bangsa Yunani. Bagi bangsa Yunani, yang dianggap pribadi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga (Oikos).  Sedangkan, ruang publik adalah kehidupan yang terejahwantah dalam agora (pasar). Agora merupakan tempat dimana warga berdiskusi secara rasional tentang hal ikhwal polis (negara kota).

Orang tentu bisa saja mengkritik penulis dengan bertanya secara tajam: mengapa menggunakan paradigma Yunani kuno untuk Jalan Roda yang mempunyai sudut kultur yang berbeda? Justru bagi saya ini yang menarik. Dengan sudut kultur yang berbeda, karakteristik spasio-temporal yang berbeda, ternyata Jalan Roda mengalami transformasi struktural yang agak mirip dengan transformasi struktural ruang publik berdasarkan teori Jürgen Habermas, seorang filsuf kontemporer asal Jerman yang lahir tahun 1929.

Ruang Publik dan Sejarahnya

Dalam dunia Yunani Kuno, Aristoteles (384-322BC) membuat dikotomi antara ruang publik dan ruang pribadi. Ruang publik mengacu pada sebuah ruang kongkrit dalam kehidupan publik terutama yang berhubungan dengan dunia politik. Ruang ini secara langsung dibedakan dengan ruang pribadi yang menyangkut rumah tangga. Ruang publik secara khusus mengacu pada agora (pasar) dalam sebuah polis (negara kota). Ini merupakan tempat warga yang bebas dan rasional membahas tentang segala hal yang berhubungan dengan kelangsungan polis.

Di zaman Romawi, ide ruang publik tersebut diterjemahkan sebagai publicus yang mengacu pada sekumpulan orang atau subjek. Kumpulan ini secara langsung dibedakan dengan privatus yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Dikotomi publicus dan privatus ini kemudian dibawa sampai Abad Pertengahan ketika raja atau tuan-tuan tanah dan representasi mereka membedakan diri dari Oikodespotes/Paterfamilias (kepala rumah tangga).

Kemudian di Abad Pertengahan terjadi pergeseran. Raja-raja dan tuan-tuan tanah mulai merepresentasi diri mereka sendiri. Konsekuensinya, mereka merupakan satu-satunya representasi publik. Dengan demikian, arti publik di sini menjadi membingungkan karena tidak lagi mengacu pada tempat tertentu atau orang-orang yang berkumpul di tempat itu untuk membicarakan tentang hal-hal publik. Di sini, arti publicus dan privatus menjadi kabur. Keduanya direduksi dalam diri raja atau tuan tanah.

Menurut rekonstruksi Habermas, dengan bantuan kapitalisme, tumbuhlah makna dan konteks ruang publik yang baru di abad ke-17 dan 18. Ruang publik menjadi sebuah representasi baru yang terlepas dari urusan negara dan urusan rumah tangga. Di abad ke-18, karakteristik baru dari ruang publik adalah penggunaan pertimbangan rasional tentang hal-hal publik dalam komunikasi antar subjek.

Habermas menegaskan bahwa komunikasi rasional ini menjadi jamak di rumah kopi dan salon di dataran Eropa. Kegiatan ini mengacu pada pertemuan regular orang-orang terkemuka yang diakomodasi oleh seorang yang terpandang. Umumnya, pertemuan tersebut mengakomodasi kegiatan-kegiatan sastra pada waktu itu.

Berkembangnya kebutuhan komersial secara terbuka dan meningkatnya minat baca dan diskusi (ranah pribadi) mendorong munculnya ruang-ruang publik baru, yang terlepas dari ikatan negara dan rumah tangga. Ruang-ruang publik ini kemudian menjadi tempat dimana kontrol terhadap kebijakan-kebijakan negara dipraktekkan secara serius dan rasional. Inilah cikal-bakal dari ruang publik yang demokratis sekarang. Ditilik dari perkembangannya, ruang publik ternyata bertumbuh dari dinamika yang terjadi di ruang pribadi.

Tantangan Demokrasi Jalan Roda

Sekarang mari kita lihat Jalan Roda dalam perspektif rekonstruksi ruang publik di atas. Jalan roda juga awalnya merupakan perluasan ranah pribadi (ekonomi dan perdagangan). Dalam perkembangannya, Jalan Roda kini mengakomodasi berbagai diskusi politik dari berbagai sumber yang berbeda tanpa ada diskriminasi. Dalam arti ini, ia telah berkembang menjadi ruang publik dalam arti demokratis modern.

Sebagai ruang publik demokratis modern, Jalan Roda menawarkan aksesibilitas tinggi tanpa memandang status. Lagipula, ia menjadi tempat dimana kebijakan-kebijakan politik didiskusikan serta, dalam arti tertentu, dievaluasi dan dikontrol.

Tantangan Jalan Roda untuk menjadi ruang publik demokratis modern mencakup dua hal. Pertama, bagaimana setiap kebijakan pemerintah dikontrol secara rasional melalui diskusi-diskusi publik. Kedua, bagaimana setiap ide kreatif untuk pengembangan pelayanan publik, yang dihasilkan di Jalan Roda, bisa menjadi kebijakan publik pemerintah.

Ini harus dijawab oleh pemerintah dengan aksesibilitas dan sosialisasi kebijakan publik, serta keterbukaan untuk dikontrol. Hal ini juga harus dijawab oleh komunitas Jalan Roda dan komunitas ruang publik lain di Manado. Mereka harus menjadikan kebenaran dan kepentingan publik sebagai orientasi diskusi. Mereka pun harus tetap terbuka pada partisipasi aktif dari semua orang yang ingin terlibat.

Epilog

Di era pasca kebenaran, dimana hoax, fitnah, dan ujaran kebencian bertumbuh subur, kehadiran Jalan Roda dapat menjadi sebuah oase antithesis terhadap diseminasi hoax, dll. Ia dapat menjadi tempat dimana berita-berita diuji secara rasional. Setelah merunut kembali transformasinya, Jalan Roda merupakan bab yang “sayang kalau dibuang” dalam buku wisata Kota Manado.(***)

Berita Terkait
Komentar
  • MyPassion


    08 Sep 2017 15:15

    just share info aja, RATU MEDIKA adalah toko online yang menjual kursi roda travelling untuk jalan-jalan. Kursi roda liburan (kursi roda bepergian) ukuran kecil dan ringan. Kursi roda haji yang biasa digunakan saat naik haji dan naik pesawat. Kursi roda lipat ukuran mini yang ringan dan praktis masuk bagasi pesawat, untuk lebih jelasnya dapat membuka link ini: RatuMedika.com
  • MyPassion

    flyen
    05 Sep 2017 15:47

    Mulberry isn’t the only chanel replica handbags fashion house dealing with aging artisans and the replica miu miu handbags potential demise of traditional craftsmanship. With interest in trades and manual work waning, many brands have started taking steps to cheap oakley sunglasses save the industry from collapse. Chanel has slowly been acquiring struggling savoir-faire maisons, including replica handbags embroiderer Lesage, plumassier Lemarié and milliner Michel.
Kirim Komentar