04 Sep 2017 08:43

Diplomat Diusir, Amerika-Rusia `Perang Dingin`

MyPassion
MEMANAS: Pemerintah AS mengaku pengusiran itu sebagai bentuk balas dendam atas Moskow yang memotong kehadiran Diplomat AS di Rusia. Foto: REUTERS/Stephen Lam

SAN FRANSISCO—Para diplomat Rusia mengosongkan tiga properti, termasuk gedung konsulat enam lantai, di San Fransisco, Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS mengaku 'pengusiran' itu sebagai bentuk 'balas dendam' atas Moskow yang memotong kehadiran Diplomat AS di Rusia. Dalam sebuah foto yang diunggah media setempat, tampak staf konsultan San Fransisco memindahkan peralatan, perabotan, hingga barang-barang kecil dari bangunan tersebut ke dalam minivan. Sekelompok pria terlihat di atap gedung konsulat melihat sekeliling, beberapa bagian mengenakan sarung tangan karet.

Penutupan yang diperintahkan oleh pemerintahan Donald Trump merupakan tindakan terbaru antara kedua negara yang tengah bersitegang. Aksi ini membantu menjerumuskan hubungan kedua negara dalam sebuah perang dingin lebih dalam lagi. “Tuduhan yang dibuat oleh pemerintah Rusia, termasuk bahwa pejabat AS mengancam untuk mendobrak pintu properti atau FBI membersihkan tempat tersebut, tidak benar," ujar seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan, mengutip Reuters, Minggu (3/9).

Departemen Luar Negeri AS menyatakan Pemerintah Rusia telah mematuhi perintah untuk menghentikan operasi tersebut pada hari Sabtu, (2/9) dan mengatakan tidak ada diplomat yang dikeluarkan akibat penutupan tersebut. "Rusia tidak lagi diizinkan menggunakan fasilitas ini untuk tujuan diplomatik atau konsuler," tegas pejabat departemen tersebut.

Juli lalu, Kremlin memerintahkan AS untuk memangkas jumlah staf diplomatik dan tekniknya di Rusia sampai setengahnya atau menjadi 455 orang. Pemangkasan ditujukan untuk menyamakan jumlah diplomat Rusia yang berada di AS.

Pada Sabtu pagi, awal bulan ini, bendera Rusia masih terlihat di atas konsulat di San Fransisco. Seseorang membuka jendela di atas pintu masuk utama dan menjepit bendera Rusia kecil di sana. Sebuah kontingen kecil media berita dan orang-orang yang ingin tahu berkumpul di bawah bangunan itu.

Gambar yang diposkan di media sosial pada hari Jumat, (1/9), menunjukkan asap hitam mengepul dari cerobong asap konsulat pada hari terpanas dalam sejarah yang tercatat di San Francisco. Asap tersebut memicu spekulasi bahwa staf diplomatik di dalam konsulat membakar dokumen sensitif.

Sebelumnya, Rusia diperintahkan untuk menutup konsulatnya di San Francisco dan dua kantor misi perdagangan karena tindakan Rusia yang dianggap tidak beralasan. Konsulat itu serta kantor misi perdagangan di New York dan Washington harus sudah ditutup Sabtu (02/09) akhir pekan ini.

Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat tersebut merupakan tanggapan atas pengurangan staf diplomatik AS di Rusia. Akhir Juli, Presiden Vladimir Putin memerintahkan pengusiran 755 staf diplomatik AS setelah Washington menerapkan serangkaian sanksi terhadap Moskow. Sanksi tersebut dijatuhkan terkait dengan invasi Rusia di Crimea, Ukraina, dan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS, yang antara lain terwujud dalam pengusiran 35 diplomat Rusia.

Presiden Barack Obama yang memerintahkan pengusiran tersebut dan juga penutupan dua kantor misi Rusia, Desember lalu. Putin tidak menanggapi langsung pengusiran oleh Obama tersebut namun setelah Presiden Donald Trump berkuasa, dia mengumumkan pada 31 Juli pengusiran 755 staf diplomatik AS sebagai balasan atas sanksi AS.

Para diplomat yang diusir harus meninggalkan Rusia pada Jumat (01/09), sehari sebelum penutupan konsulat dan kantor misi perdagangan Rusia. Seorang pejabat pemerintah AS mengatakan konsulat dan kediaman yang melekat serta dua kantor harus tutup namun tidak ada staf Rusia yang diminta untuk meninggalkan AS. Rusia juga boleh tetap memiliki propertinya namun tidak menggunakannya.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan tindakan itu 'dalam semangat keseimbangan' dan menuding Moskow atas semakin memburuknya hubungan bilateral namun sekaligus memberi pertanda ingin mengakhirinya. "Sementara ada ketidakseimbangan yang berlanjut dalam jumlah diplomat dan konsulat, kami memilih untuk mengizinkan pemerintah Rusia mempertahankan sejumlah kantor tambahan sebagai upaya untuk menahan memburuknya spiral dalam hubungan kami," seperti tertulis dalam pernyataan Departemen Luar Negeri AS, Kamis (31/8).

“Amerika Serikat berharap dengan bergerak ke arah keinginan Federasi Rusia untuk keseimbangan, kita bisa mencegah tindakan balasan lebih lanjut dari kedua belah pihak dan melangkah maju untuk mencapai tujuan yang ditetapkan kedua presiden: peningkatan hubungan kedua negara dan peningkatan kerjasama dalam area kepentingan bersama.”

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, sudah menelepon mitranya, Rex Tillerson, untuk mengungkapkan 'penyesalan atas eskalasi ketegangan dalam hubungan bilateral." Lavrov dan Tillerson rencananya akan bertemu pada Bulan September di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.(berbagai sumber/gnr)

Kirim Komentar