02 Sep 2017 10:02

Kawanua di Jepang Terbantu J-Alert

MyPassion
TETAP AMAN: Gubernur Olly Dondokambey (tengah) ketika bertatap muka dengan sejumlah warga Sulut di Jepang, Maret 2017 silam.

MANADO—Warga Kawanua yang bermukim di Jepang sempat dibuat was-was dengan misil yang diluncurkan Korea Utara. Terlebih warga Kawanua yang berada di Hokaido, Tokyo, dan Ibaraki.

Sterly Makalew, salah satu WNI yang bermukim di Ibaraki menerangkan, saat ini kondisi mereka sudah kembali aman. “Instruksi untuk mengungsi disampaikan hanya pada pukul 06.02 waktu setempat. Atau empat menit setelah peluncuran misil pada Selasa (29/8) lalu,” ujar Makalew saat dihubungi koran ini.

Cepatnya instruksi diperoleh, kata Makalew, karena di Jepang sudah menerapkan sistem J-Alert. Itu adalah instruksi otomatis. Dan terpasang lewat satelit ke seluruh sistem komunikasi di Jepang. Termasuk ke handphone seluruh operator.

“Bunyinya sama. Yaitu: Korut meluncurkan misil. Harap warga berlindung di gedung kokoh atau mengungsi ke tempat pengungsian yang telah disiapkan,” sebut Makalew, yang kini bermukim di Ibaraki.

Dikatakannya, Jepang telah menetapkan tempat-tempat pengungsian yang dibangun dengan kokoh. Untuk mengantisipasi dari terjangan rudal atau bencana alam semisal gempa bumi, tsunami, dan topan.

Pada saat kejadian, lanjutnya, alarm handphone dan sirene dari speaker-speaker TOA kantor-kantor pemerintahan meraung-raung. Tetapi tidak ada kepanikan dari warga Jepang untuk mengungsi. Mereka melaksanakan aktivitas seperti biasa. Hanya sibuk memperhatikan berita-berita, baik lewat internet maupun TV.

Ketegangan terasa hanya di dunia maya dengan banyaknya update status dan saling memberi kabar antar keluarga dan teman. “Mungkin karena ini baru pertama kali terjadi rudal Korut melewati Jepang. Sehingga menyebabkan J-Alert berfungsi. Tapi keadaan sekarang bukan dalam kondisi perang antara Jepang dan Korut,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pemerintah Jepang sangat luar biasa memproteksi warganya. Dalam waktu kurang dari lima menit sejak peluncuran dan rudal belum masuk wilayah Jepang, seluruh handphone membunyikan alarm. “Seluruh kantor pemerintah, TV, radio, dan jaringan komunikasi lainnya memberikan peringatan dan arahan,” pungkas Makalew.(har)

Kirim Komentar