26 Agu 2017 09:45

Utamakan Pendidikan Keluarga dan Agama

MyPassion
Ilustrasi

MANADO -  Minuman keras (miras) masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi semua kalangan, termasuk tokoh agama di Sulawesi Utara (Sulut). Karena memicu kejahatan.

 

Pdt Dr Johan Nicolas Gara MA mengungkapkan, miras bukan dalang dari kejahatan tapi oknum yang menkonsumsinya. Karena miras dalam hal ini cap tikus dapat dikelola menjadi fasilitas produk seperti bio etanol dan yang baru saat ini antiseptik pembersih tangan.

“Seperti yang di Mitra kan sudah melakukan pembuktian kalau miras contoh industri yang harus dikembangkan. Kenapa di Mitra boleh Minsel dan Minahasa tidak bisa?,” tanyanya. “Jangan hanya dikonsumsi kemudian dampaknya melakukan kejahatan. Sebab kalau hanya melarang itu bukan jalan keluar yang terbaik dan tidak bisa menolong,” tambahnya.

Diungkapkannya, upaya-upaya mengelolah miras itu harus difasilitasi, dihargai, disupport dan diseriusi pemerintah. Karena miras dalam hal ini cap tikus sudah banyak membantu untuk menyekolahkan anak. “Orang yang minum miras bukan karena cap tikusnya tapi karena oknum yang mengkonsumsi. Artinya persoalan pertama kenapa demikian terjadi karena mereka tidak dididik untuk sanggup menghadapi godaan,” tegasnya.

Lanjut, karena mereka juga tidak dipersiapkan untuk memiliki kecerdasan menghadapi tantangan dan pencobaan termasuk pengaruh miras. Semua ini dapat dibangun melalui pendidikan di keluarga, agama dan pendidikan formal. “Karena orang yang mabuk karena miras diakibatkan frustrasi sosial,” sambungnya.

Senada, Ketua Jemaat GMIM Getsemani Gangga I Pdt Harald W Poluan STh mengungkapkan, pihak pemerintah dan aparat kepolisian sudah bagus karena hampir setiap hari mengimbau masyarakat baik di lingkungan pemerintahan, gereja maupun di kegiatan-kegiatan. “Yang menjadi persoalan sekarang masyarakat tidak bisa dibendung walaupun pihak pemerintah, kepolisian dan gereja sudah berusaha melarang untuk mengkonsumsi miras hingga mabuk-mabukan,” ungkap Poluan.

Namun, dikatakannya solusi yang harus dilakukan sekarang yakni memfasilitasi para petani aren agar bisa menghasilkan produk yang baik. “Harus dikembangkan menjadi olahan yang baik. Itu harus difasilitasi. Karena miras juga sudah menjadi dapur pencari nafkah. Makanya tidak bisa dipersalahkan juga,” katanya.

Ditambahkan, aturan yang sudah dibeberkan jangan sampai dilanggar. Dimana pun sudah diimbau kepada masyarakat terutama dalam Firman Tuhan dan sambutan dalam kegiatan. “Jadi untuk semua pihak tidak ada kata menyerah untuk terus mengimbau masyarakat agar tidak mengkonsumsi miras hingga mabuk dan melakukan kejahatan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Lesbumi NU Sulut Taufiq Bilfaqih S Sos membeberkan Miras ini masalah yang punya posisi standar ganda. “Kita melarang orang minum miras. Menghukum mereka yang mabuk apalagi jika pemabuk itu berbuat onar. Namun, negeri ini masih memberikan ruang kepada pemasok miras beraktivitas. Apalagi hasil pajak dari minuman beralkohol yang diperjual belikan pun begitu berpengaruh,” bebernya.

Diungkapkan, karena miras tetap ada, setiap individu juga harus dibekali dengan pengetahuan dan kesadaran secara spiritual. Apakah itu diterima dari ajaran agama, atau ajaran moral kemanusiaan.”Jika orang menghayati ajaran-ajaran agamanya, kemudian menyadari hakikat kemanusiaan, termasuk mengetahui efek negatif terhadap kesehatan tubuhnya, maka miras tidak akan punya pengaruh yang signifikan,” kuncinya. (tr-01/ite)

Kirim Komentar