26 Agu 2017 10:42
Amphitheater Sarat Cerita Mistis

Sering Dikunjungi Paspampres di Malam Hari

MyPassion
INDAH: Bukan hanya latar belakang pemandangan Gunung Lokon, petak sawah dan pemukiman, Amphitheater sarat sejarah. Disitu, tersimpan kubur zaman dulu, hingga cerita mistisnya.

TERLETAK di Kelurahan Woloan I Utara, mendapati tempat ini tergolong mudah. Tempat wisata yang sering menjadi tempat pentas seni ini, hanya beberapa ratus meter dekat dengan pemukiman warga Woloan. Atau sekira 40 menit dari Kota Manado dengan perjalanan darat. Jadi, warga dengan mudah bisa menunjukkan lokasinya.

Amphitheater didirikan Pemerintah Kota Tomohon pada 2006 silam. Walau belum lama berdiri, namun, aroma sejarah, begitu kental di setiap bagian tempat ini. Selain dihiasi pernak-pernik sejarah, disini terdapat beberapa macam waruga. Dari yang bermotif hingga yang mempunyai nilai mistisnya.

Dulu, tempat ini, merupakan pemukiman masyarakat. Namun, seiring zaman, warga lebih memilih ke tengah kota. “Dulu nama tempat ini bernama Nimawanua, kemudian menjadi Woloan,” ujar Didi Karundeng, penjaga Amphitheater.

Didi mengaku sudah lama menjadi penjaga tempat ini. Sejak didirikan, memang diakuinya sudah kurang terawat. Meski begitu, banyak wisatawan yang datang di hari-hari libur, dan weekend

Satu per satu benda-benda bersejarah diperkenalkannya. Dimulai dari patung di depan saat melewati pintu masuk. Dia menceritakan, Patung Kabasaran dengan tinggi hampir dua meter ini, mendeskripsikan postur fisik orang Minahasa zaman dulu. Tubuh kekar berotot, tinggi, dan tegap. “Memang dulu banyak yang bilang semua berbadan besar dengan mata yang tajam,” katanya sembari mengatakan Tarian Kabasaran merupakan tarian perang suku minahasa yang kini menjadi tarian untuk menyambut tamu.

Kemudian Didi menjelaskan tentang waruga (kubur Suku Minahasa) yang berada di sekitaran tempat itu. Beberapa waruga, ada yang bermotif kalung. Juga motif bayi. Beberapa tidak bermotif. Kata Didi, motif kalung menggambarkan kepemimpinan. Artinya, waruga tersebut adalah kubur milik seorang pemimpin. “Waruga bermotif kalung di situ, bermarga Runtu, bebernya.

Untuk waruga bermotif bayi, kata Didi, adalah milik biang kampung. Atau sekarang yang sering disebut bidan. 

Menariknya, terdapat sebuah waruga yang berada beberapa meter lebih jauh dari amphitheater dan waruga lainnya. Waruga yang satu ini bentuknya agak berbeda. Karena bagiannya menyatu dengan akar pohon rindang di belakangnya. Konon, waruga tersebut adalah milik prajurit yang berhasil menggagalkan rencana Suku Bantik untuk menguasai Minahasa. Sehingga memiliki kekuatan mistis yang banyak dipercayai orang. “Dari pejabat, hingga pengawal presiden pernah datang kesini,” bisiknya.

Diungkapkannya, kedatangan Presiden Jokowi awal tahun, menjadi bukti kepopuleran kekuatan mistis waruga tersebut. Paspampres Jokowi datang ke waruga ini tengah malam dan mengelilingi waruga. Bukan hanya Paspampres Jokowi, beber Didi, Paspampres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah kesini. “Beberapa pemimpin daerah juga pernah kesini. Semuanya datang di malam hari,” kuncinya. (***)

Kirim Komentar