24 Agu 2017 13:56

Ngeri!!Jurnalis Perempuan Ini Dimutilasi dan Dibuang ke Laut Saat Liputan

MyPassion
MALANG: Kim Wall (kiri). Kapal selam yang menjadi tempat liputan terakhir Kim Wall (kanan). (Jens Noergaard Larsen/Scanpix Denmark via REUTERS)

MANADOPOST- Citra Denmark yang selama ini dikenal sebagai negara Skandinavia yang aman, bahagia, dan sejahtera mendadak ternodai oleh kasus pembunuhan istimewa. Korban adalah jurnalis lepas dari negara tetangga, Swedia, yang kerap menulis untuk media besar seperti The Guardian dan The New York Times.  Modusnya pun tidak biasa. Diajak liputan ke kapal selam, dimutilasi, lalu jasadnya dibuang ke laut.

Senin (21/8), jasad perempuan 30 tahun tersebut ditemukan di Koge Bay, Denmark. Kemarin (23/8), setelah melakukan uji DNA, polisi memastikan bahwa mayat dalam kondisi tidak utuh itu memang benar milik Wall yang raib sejak 11 Agustus. Investigasi awal menunjukkan bahwa kepala serta kedua tangan dan kaki Wall sengaja dipisahkan dari tubuhnya. Selain itu, polisi menemukan pemberat yang dikaitkan pada tubuh Wall. Itu semakin menguatkan dugaan pembunuhan.

Dalam jumpa pers, Jens Moller Jensen yang menjabat kepala unit pembunuhan di Kepolisian Kopenhagen mengatakan bahwa pihaknya mencari bagian tubuh Wall yang lain. Dia yakin serpihan tubuh itu masih ada di sekitar Koge Bay yang berjarak kira-kira 50 kilometer di sebelah selatan Pelabuhan Kopenhagen.

”Tubuh korban sengaja dimutilasi, sepertinya untuk menghilangkan gas dari dalam tubuh dan mencegah mayat mengapung,” kata Jensen. Sejauh ini, polisi belum bisa mengungkap penyebab kematian Wall. Tetapi, polisi yakin Madsen punya jawabannya. Sebab, pemilik sekaligus perancang kapal selam tersebut menjadi satu-satunya orang yang berada di dalam UC-3 Nautilus bersama Wall.

Setelah diselamatkan dari kapal selam yang tenggelam pada 11 Agustus, Madsen langsung diamankan. Dia menjalani pemeriksaan intensif terkait insiden yang membuat kapal selam 18 meter tersebut kandas di The Sound. Dan, kematian Wall tentunya. ”Sejak ditahan pada 12 Agustus, dia berkali-kali mengubah keterangannya tentang insiden tersebut,” kata Jensen.

Awalnya, pria 46 tahun itu mengatakan bahwa Wall tewas karena kecelakaan. Dia menyebut perempuan alumnus Columbia University itu jatuh dari kapal selam yang hendak tenggelam. Dia sempat mengaku mendorong Wall demi menyelamatkannya dari kapal selam yang kandas. Tetapi, setelah itu, dia mengubah keterangannya. Menurut dia, Wall tewas di dalam kapal selam sebelum UC-3 Nautilus tenggelam.

Di dalam bangkai kapal selam, polisi menemukan darah Wall. Sampel darah itulah yang dicocokkan dengan DNA pada sisir dan sikat gigi korban. Setelah itu, dicocokkan juga dengan sampel DNA pada mayat.

”Sekarang kami memeriksa pakaian yang Madsen kenakan pada hari tenggelamnya kapal. Jika kami bisa membuktikan ada noda darah di bajunya, dia akan menjadi terdakwa,” ungkap Jensen.

Sayangnya, upaya untuk membuktikan ada tidaknya noda darah pada pakaian Madsen membutuhkan waktu lama. Yakni, sekitar dua sampai tiga pekan. Sementara investigasi berlangsung, polisi melanjutkan interogasi terhadap Madsen. ”Ada dugaan bahwa dia sengaja menenggelamkan kapal selam tersebut. Tapi, kami perlu mengumpulkan lebih banyak bukti,” paparnya.

Wall bertemu dengan Madsen pada 10 Agustus untuk keperluan liputan khusus tentang UC-3 Nautilus yang dibuat sendiri oleh Madsen. Tetapi, sampai hari berikutnya, dia tidak kunjung pulang ke rumah.

Kekasih Wall pun melapor polisi. Setelah sekitar 10 hari berstatus sebagai orang hilang, jasad Wall akhirnya ditemukan. Kini, media ganti menyorot Madsen yang berjuluk Rocket Madsen karena proyek-proyek ilmiahnya.

Selain merancang dan membuat serta mendanai kapal selam, dia berambisi mengirimkan manusia ke luar angkasa dengan roket bikinannya. Oleh rekan-rekan dekatnya, Madsen dikenal sebagai pribadi yang temperamental.

Christian Jensen, pemimpin redaksi Politiken, harian terlaris Denmark, menyebut kematian Wall sebagai kasus paling spektakular sepanjang sejarah negerinya. Sebab, negara di kawasan Skandinavia itu dikenal sebagai negara yang damai. Angka kriminalitas di Denmark pun relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya.

”Kasus ini telah benar-benar mengubah Denmark. Semuanya berawal dari seorang ilmuwan gila yang semula kita sangka sebagai korban saat kapal selamnya tiba-tiba tenggelam. Kini, si korban berubah menjadi terduga pelaku,” ungkap Jensen seperti dilansir New York Times kemarin. Di mata dunia, citra Denmark sebagai negara yang aman, pro pendidikan, dan pro kesehatan gratis pun tercoreng.

Kini, publik Denmark mengaitkan kasus dugaan pembunuhan Wall dengan serial kriminal The Bridge. Kisah fiksi itu bermula dari penemuan mayat seorang perempuan yang sudah dimutilasi. Lokasi penemuannya pun di sekitar Selat Oresund yang memisahkan Denmark dan Swedia. Tetapi, si penulis skenario menolak jika karyanya dikait-kaitkan dengan kasus yang melibatkan Madsen tersebut. (*)

(AFP/Reuters/CNN/BBC/hep/c7/any)

Kirim Komentar