21 Agu 2017 09:38
Untuk Indonesia, Bertugas di Negara Orang

Tiga Putra Kawanua dengan Pengakuan Diplomatik Internasional

MyPassion
DIPLOMAT TERBAIK KAWANUA: (Dari kiri ke kanan) Konsul Kehormatan untuk Republik Albania Fabian Pascoal, Konsul Kehormatan untuk Republik Malta Rocky Pesik, dan Konsul Kehormatan untuk Republik Latvia Ayub Yunus, saat menghadiri undangan sebagai tamu diplomat asing di upacara Hari raya Kemerdekaan 17 Agustus di Istana Negara. Foto: Rangga Mangowal/MP

Mereka adalah penerus Pahlawan Nasional asal Sulut LN Palar. Fabian Pascoal, Rocky Pesik, dan Ayub Yunus, tercatat sebagai diplomat terbaik yang dimiliki Indonesia. Mereka bertiga berdarah Sulut.

 

Laporan: Rangga Mangowal, Jakarta

KAWANUA patut berbangga. Putra-putra terbaik Sulut yang berkecimpung di dunia diplomatik tidak diragukan lagi kemampuannya. Setelah LN Palar terkenal diplomat ulung yang dimiliki Indonesia, saat ini ada tiga pemuda Sulut mengikuti jejak Pahlawan Nasional tersebut. Mereka adalah Konsul Kehormatan untuk Republik Albania Fabian Pascoal, Konsul Kehormatan untuk Republik Malta Rocky Pesik, dan Konsul Kehormatan untuk Republik Latvia Ayub Yunus.

Diplomat muda Sulut ini mewakili Indonesia di negara mereka masing-masing. Memang belum banyak masyarakat awam mengetahui jabatan Konsul Kehormatan. Dalam dunia diplomatik, perwakilan resmi suatu negara di luar negeri biasanya berada di kuasa Kedutaan Besar (Dubes). Tapi ada juga perwakilan resmi suatu negara di luar negeri dapat dijalankan jabatan yang dikenal dalam pergaulan internasional Konsul Kehormatan (Honorary Consul).

Indonesia sampai dengan pertengahan 2016, telah mengangkat 67 Konsul kehormatan di 58 negara sahabat. Mereka yang ditunjuk sebagai konsul kehormatan ini bukan berasal dari pejabat pemerintahan.

Dari sekitar 250 juta rakyat Indonesia, hanya 80 orang Indonesia mendapat kepercayaan sebagai konsul kehormatan dari sekitar 50 negara asing. Di antara 80 Konsul kehormatan tersebut tiga putra Kawanua  mendapatkan kepercayaan diplomatik internasional.

"Ini berawal Konvensi di Wina 1963. Lembaga Konsul kehormatan ini diatur rinci melalui Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1982. Suatu negara asing yang tidak mampu mengirim misinya dalam arti kedutaan atau konsulat, sangat bisa menunjuk warga negara setempat menjadi perwakilan negara. Memang ini tanggung jawab yang besar. Apalagi sebagai putra Kawanua tentu ada rasa kebanggaan tersendiri," ungkap Ayub Yunus, yang ditemui di gedung Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (19/8) lalu.

Dirinya menambahkan, untuk dipercayakan menjadi Konsul kehormatan Republik Latvia tidaklah mudah. Ada banyak proses ketat yang harus dilewatinya. "Jadi surat tugas ada dua. Negara pengirim dan dari negara penerima. Jadi dari sisi statusnya dan fungsinya sama dengan kedutaan dan duta besar hanya saja kita warga negara setempat," ungkap Ayub yang juga merupakan Sekjen Kerukunan Keluarga Kawanua (K3).

Para Konsul kehormatan di Indonesia membentuk suatu perkumpulan berbadan hukum bernama Association of Honorary Consuls to Indonesia (AHCI). Sulawesi Utara pantas berbangga karena para anggota AHCI memberi kepercayaan kepada Ayub Junus sebagai ketua umumnya.

Bahkan Ayub terpilih wakil ketua dari Komite Regional Asia Timur dari Federasi Dunia Organisasi Konsul kehormatan (World Federation of Consuls-FICAC) yang berpusat di Monaco.

"Tentunya ada kebanggaan sebagai Kawanua dipilih negara asing sebagai perwakilannya. 220 juta orang Indonesia yang bisa dipilih. Tapi saya yang dipilih. Itu adalah kebanggaan. Begitu juga rekan-rekan asal Sulut Fabian Pascoal dan Rocky Pesik. Saya bangga ketika ditunjuk pemegang jabatan dalam organisasi Konsul kehormatan ini. Saya sebagai ketua umum AHCI dan Fabian Buddy Pascoal membantu saya sebagai sekretaris jenderalnya," pungkasnya.

Senada disampaikan, Fabian Pascoal. Para Konsul kehormatan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Indonesia dan mendapatkan kartu tanda pengenal diplomatik. "Berbeda dengan diplomat karir. Kami tidak menerima gaji, tetapi mendapatkan hak-hak istimewa seperti akses ke beberapa fasilitas diplomatik tertentu dan akses ke jaringan pertemanan berkelas nasional dan internasional. Seperti mobil kita harus pakai bendera, tempat tinggal kita pakai bendera, dan juga hak istimewa kami ketika ingin bertemu menteri, kita wajib diterima. Tentunya untuk membahas sesuatu pekerjaan antar negara. Misalnya pengembangan bilateral kedua negara," ungkap Wakil Ketua Umum K3.

"Kami tentunya punya kontribusi ke depan. Jangan cuma asal dapat jabatan dan pangkat terus kita tidak berbuat sesuatu yang lebih dengan alasan sibuk dan sebagainya, harus ada result. Selama menjabat, kami terus memberikan kontribusi baik untuk negara yang kami wakili dan negara Indonesia, termasuk dalam kegiatan-kegiatan promosi kedua negara," tandasnya.

Selayaknya para duta besar, para Konsul Kehormatan juga diundang ke acara-acara kenegaraan dan nasional Indonesia serta kegiatan-kegiatan diplomatik kedutaan asing di Indonesia. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ketiga Konsul kehormatan asal Sulut tersebut juga diundang dan hadir pada perayaan HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus lalu. Mereka diundang dan duduk di kelompok Korps Diplomatik negara-negara asing. "Ini sebuah kehormatan, posisi Konsul Kehormatan yang dipercayakan negara asing adalah anugerah Tuhan dan berisi kesempatan berkontribusi bagi Sulut tentunya," ungkap Konsul Kehormatan untuk Republik Malta Rocky Pesik, selepas upacara bendera di Istana Negara.

Dia menambahkan, sebagai Kawanua yang dipercaya negara asing menjadi perwakilannya tentu ingin memberikan yang terbaik untuk Sulut. "Kami mempunyai akses ke negara asing lain. Kami bisa membantu dalam hal promosi Sulut ke negara asing. Seperti contoh, bisa menarik investor dari negara asing ke Sulut. Jadi kalau ke Indonesia kami bisa arahkan mereka ke Sulut dulu sebelum ke Jakarta. Contoh kecil seperti itu," pungkas Pesik.(***)

Kirim Komentar