21 Agu 2017 10:23

Selamat Jalan `Bunda Teresa` Pakistan

MyPassion
DICINTAI WARGA PAKISTAN: Ruth Pfau (biru) semasa hidupnya mengabdikan diri untuk memerangi kusta dan membantu orang-orang susah di Pakistan. Foto: AFP Photo

KESEDIHAN mendalam masih dirasakan warga Pakistan setelah Ruth Pfau meninggal dunia, Kamis (10/8). Perbuatan mulia biarawati asal Jerman itu menyisahkan memori yang sulit untuk dilupakan. Layaknya Bunda Teresa, Pfau menghabiskan lebih dari setengah abad demi memerangi penyakit lepra dan merawat para penderita di daerah selatan Karachi, Pakistan.

Sabtu (19/8) pemakamannya diselenggarakan secara kenegaraan. Jarang sekali seorang Kristen dan warga negara asing, diberikan penghormatan seperti itu di Pakistan. Bahkan Presiden Pakistan, Mamnoon Hussain, pun menghadiri upacara pemakaman di katedral St Patrick. Ratusan orang berkumpul di sana untuk memberikan penghormatan terakhirnya.

Kerandanya, yang dibungkus bendera nasional, diusung oleh pasukan tentara dan staf Marie Adelaide Leprosy Centre yang didirikannya. Sebanyak 19 kali tembakan diletuskan sebagai penghormatan.  “Seluruh rakyat Pakistan memberikan penghormatan pada pekerjaan luar biasa Dr Pfau di negeri ini, dia akan terus dikenang. Kami kehilangan pahlawan nasional kami,” tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Nafees Zakaria, seperti dikutip AFP.

Ruth Pfau mendedikasikan hidupnya untuk memerangi lepra di kota pelabuhan di selatan Karachi sejak 1960 sampai meninggalnya dalam usia 87 tahun. Daerah itu adalah kawasan dengan populasi termiskin dan paling sakit.  Sosok yang dijuluki Bunda Teresa-nya Pakistan ini dan organisasinya bekerja sama dengan pemerintah dalam menangani masalah lepra di lebih dari 150 kota di Pakistan.

Mereka melatih juga para dokter, merawat ribuan penderita, dan membantu program nasional untuk menurunkan angka penderita lepra. Berkat jasanya, Pfau mendapat dua penghargaan nasional: Hilal-e-Imtiaz dan Hilal-e-Pakistan. Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbasi mengatakan, Pfau boleh saja lahir di Jerman. “Tapi hatinya selalu untuk Pakistan,” ujarnya.

Setelah Perang Dunia II yang mengerikan, Pfau memutuskan untuk terjun ke pelayanan kemanusiaan. Dia menjadi dokter dan bergabung ke ordo Daughters of the Heart of Mary, yang didirikan saat Revolusi Prancis. Dia tiba di Pakistan secara tak sengaja sebetulnya. Saat hendak ke India, terjadi masalah visa yang membuatnya harus melakukan perjalanan di Karachi. Di situlah dia menyaksikan diri koloni penderita lepra yang menyentuh hatinya. Pada saat terjadi banjir besar pada 2010, Pfau juga mendapat pujian karena upayanya dalam membantu korban. Ada jutaan orang yang kehilangan rumah akibat banjir besar itu. Rest in peace, Ruth Pfau. (berbagai sumber)

Kirim Komentar