19 Agu 2017 12:34

Lagi, Razia Narkoba di FIlipina, 25 Tewas di Tempat

MyPassion
LANGSUG DIEKSEKUSI: Dua perempuan menangis di depan jasad pria yang diduga pemakai atau pengedar narkoba yang ditembak mati di Manila kemarin. (Dondi Tawatao/Reuters)

MANADOPOST– Razia antinarkoba Filipina berlanjut. Kemarin (17/8) sedikitnya 25 tersangka penjahat narkoba dilaporkan tewas setelah operasi 24 jam di Metro Manila sejak Rabu (16/8). Sebelumnya, sekitar 32 tersangka lainnya tewas dalam baku tembak dengan tim antinarkoba Kepolisian Nasional Filipina (PNP) di Provinsi Bulacan.

’’Sebanyak 25 tersangka tewas dalam razia simultan di 18 lokasi berbeda di Metro Manila,’’ ujar Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Erwin Margarejo, petinggi Kepolisian Distrik Manila, dalam jumpa pers di ibu kota. Dia menyebut razia yang melibatkan baku tembak dan berujung dengan kematian banyak tersangka narkoba tersebut sebagai respons positif terhadap imbauan Presiden Rodrigo Duterte.

Pada Rabu lalu, presiden 72 tahun itu mengapresiasi positif operasi antirazia di Bulacan yang menewaskan 32 tersangka penjahat narkoba. Baik pengedar maupun bandar. Dalam pidato tanggapannya, Duterte menuturkan bahwa razia antinarkoba yang berujung dengan kematian banyak tersangka bisa menjadi pesan yang tegas bagi para penjahat narkoba. Dia berharap banyaknya korban jiwa dapat memberikan efek jera.

Kemarin, saat berkunjung ke kantor polisi Ozamiz di Kota Ozamiz, Provinsi Misamis Occidental, Duterte menyatakan bahwa Filipina telah menjadi negara narkotika. ’’Sekarang silakan kalian bertanya kepada rakyat Filipina begini, ’Apakah sekarang kita telah menjadi negara narkotika?’ Jawabannya akan iya,’’ tutur mantan wali kota Davao tersebut.

Sementara itu, Jubir PNP Kombespol Dionardo Carlos menjelaskan bahwa para tersangka narkoba itu tewas dalam baku tembak karena tim antinarkoba PNP membela diri. Dia menepis rumor yang beredar tentang kekejian tim antinarkoba kepolisian yang seenaknya menembaki para tersangka. ’’Apakah kalian masih menyalahkan polisi setelah tahu bahwa yang memicu baku tembak adalah para tersangka?’’ kritiknya.

Namun, seperti dalam razia besar-besaran di Bulacan, di Metro Manila tidak ada seorang polisi pun yang menjadi korban. Jangankan tewas, terluka pun tidak ada. Fakta itu membuat para aktivis HAM curiga. Wilnor Papa, salah seorang petinggi HAM Filipina di Amnesty International, khawatir aparat sengaja menggunakan razia antinarkoba serentak tersebut sebagai alasan untuk membantai para penjahat narkoba.

Kemarin Papa menyalahkan Duterte atas jatuhnya banyak korban jiwa dalam dua razia berdurasi masing-masing 24 jam tersebut. ’’Gara-gara pernyataan presiden, jenis pembunuhan seperti ini bakal terus berlanjut,’’ katanya dalam wawancara dengan Agence France-Presse. Dia mengacu pada pernyataan

Duterte yang akan dengan senang hati menghabisi 3 juta pecandu narkoba di bawah kepemimpinannya.
Aktivis HAM yang lain, Chito Gascon, mengungkapkan bahwa jaminan yang Duterte berikan kepada tim antinarkoba yang terlibat baku tembak dengan para penjahat narkoba membuat polisi lepas kendali. ’’Polisi bebas melakukan apa pun dalam razia antinarkoba karena presiden merestui kebrutalan mereka,’’ tegas pria yang menjabat chairman Komisi HAM Filipina tersebut.

Mendengar kritik itu, Kepala PNP Ronald dela Rosa langsung membela Duterte. ’’Presiden tidak memerintah saya untuk membunuh dan membunuh lagi. Saya juga tidak menginstruksikan anak buah saya untuk membunuh tanpa henti. Presiden hanya menegaskan bahwa perang melawan narkoba tidak bakal pernah berhenti,’’ paparnya. Dia menambahkan bahwa polisi hanya menembak tersangka yang melawan.

Razia antinarkoba di dua lokasi yang menjadi target utama pemberantasan narkoba Filipina itu tidak hanya menewaskan sekitar 57 tersangka. Namun, polisi juga menahan sedikitnya 223 tersangka lainnya. Total, ada 84 razia di Bulacan dan Manila. Sebagian besar razia bermula dari transaksi antara pengedar narkoba dan polisi yang menyamar menjadi konsumen.

(AFP/Reuters/sunstar/hep/c14/any)

Kirim Komentar