15 Agu 2017 13:29

OMG!! Diduga Kekurangan Oksigen, Puluhan Bayi dan Anak-anak Tewas

MyPassion
NYAWANYA TERANCAM: Anak-anak yang dirawat di Rumah Sakit Baba Raghav Das tidak mendapat suplai oksigen yang memadai. (RAJESH KUMAR SINGH/AP PHOTO)

MANADOPOST- Sebanyak 64 bayi dan anak-anak yang dirawat di Baba Raghav Das (BRD) Hospital, Gorakhpur, Negara Bagian Uttar Pradesh, India, tewas. Dugaan sementara, mereka harus kehilangan nyawa karena kekurangan oksigen.

Pushpa Sales yang menyediakan oksigen untuk rumah sakit milik pemerintah tersebut menghentikan suplai gara-gara BRD menunggak pembayaran sebesar 6,9 juta rupee atau setara dengan Rp 1,4 miliar.

Efek skandal kematian itu, penduduk langsung mengecam dan meminta Kepala Menteri (setara gubernur) Uttar Pradesh Yogi Adityanath untuk mundur dari jabatannya. Adapun kepala BRD akhirnya berhenti sementara hingga penyelidikan usai dan membuahkan hasil.

”Pemerintah negara bagian (Uttar Pradesh, Red) bertanggung jawab penuh atas kasus itu. Kepala menteri dan menteri kesehatan harus segera mundur dan para dokter seharusnya tak disalahkan,” ujar salah satu pemimpin senior di Partai Kongres, Ghulam Nabi Azad.

Kantor perdana menteri India langsung mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya memonitor kasus itu. Penyelidikan masih dilakukan. Tapi, otoritas yang berwenang menampik anggapan bahwa kematian bayi dan anak-anak itu terjadi karena kekurangan oksigen.

Pejabat Dinas Kesehatan di Uttar Pradesh Prashant Trivedi mengakui bahwa ada masalah dengan pipa-pipa yang menyuplai oksigen. Tapi, masalah itu sudah diatasi dengan tabung oksigen cadangan. ”Jadi, laporan kematian anak-anak karena kekurangan oksigen itu tidak benar,” ujarnya.

Komisaris Polisi Gorakhpur Anil Kumar mengakui bahwa ada kematian puluhan bayi di BRD dalam rentang waktu lima hari. Yaitu mulai Senin (7/8) hingga Jumat (11/8). Dia juga membenarkan bahwa BRD memiliki utang kepada Pushpa Sales.

Namun, Kumar yakin bahwa penyebab kematian pasien di BRD bukanlah masalah oksigen. Menurut dia, para pasien itu meninggal karena penyakit yang diderita. Versi Kumar, sebagian besar pasien yang meninggal memang sakit parah. Beberapa di antaranya menderita radang otak. Sabtu (12/8) ada 11 lagi pasien anak yang meninggal di luar 64 pasien itu. Lagi-lagi, Kumar yakin bahwa mereka meninggal dengan wajar.

Pernyataan para pejabat itu bertentangan dengan kesaksian keluarga korban. Keluarga yakin bahwa oksigen menjadi faktor utama kematian putra-putri mereka. Puncak krisis oksigen tersebut Kamis lalu (10/8). Saat itu oksigen sudah sangat tipis sehingga pihak rumah sakit menggunakan 52 tabung oksigen cadangan.

Namun, jumlah tersebut sepertinya tidak mencukupi. Hari itu 30 pasien anak meninggal dunia.
”Kami melihat bayi kami berjuang untuk bernapas dan kami tidak bisa melakukan apa pun,” ujar Parmatma Gautam. Keponakannya yang masih berusia satu bulan, Roshan, menjadi salah satu korban tewas saat suplai oksigen berhenti.

Sekitar pukul 01.00 waktu setempat keesokan harinya, tabung oksigan cadangan juga mulai habis. Rumah sakit menggunakan ventilator manual yang harus ditekan setiap beberapa detik.

Saksi mata melihat dokter panik dan menelepon Pushpa Sales agar kembali mengirim oksigen karena para pasien mulai meregang nyawa. Pushpa Sales akhirnya setuju. Tapi, oksigen yang dikirim terbatas dan dengan cepat habis.

(AFP/BBC/sha/c11/any)

Kirim Komentar