14 Agu 2017 10:25
Main Gawat, Pemakai Tembus 1.030

Legislator Narkoba Tembus Mabes Polri

MyPassion

MANADO— Jangan main-main dengan kasus narkoba. Instruksi Kapolri Jenderal Tito  Karnavian jelas dan tegas. Siapa saja terlibat disikat habis. Ya, kasus RL alias Roosmerry, legislator Minsel terjerat sabu jadi atensi Mabes Polri. “Kami akan dalami dan cek langsung di lapangan kasus tersebut (Roosmerry Cs)," ungkap Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Daniyanto, saat dihubungi harian ini, Minggu (13/8), kemarin.

 

Dirinya pun akan melakukan koordinasi dengan Polda Sulut terkait kasus tersebut. Nantinya, akan di-check dan re-check, sehingga tidak salah dalam penilaian. “Saat ini, belum bisa  mengambil keputusan, sebelum ada fakta dan kronologis dari kasus tersebut,” tegasnya.

Lanjutnya, sampai saat ini (semalam, red) belum menerima laporan lengkap. "Sampai saat ini belum ada laporan dari Dirnarkoba Polda Sulut," tandasnya. Terkait hal ini, Direktur Anti Narkoba (Dirnarkoba) Polda Sulut Kombes Pol Wihastono Pranoto berjanji mengungkapkan kronologis kasus, pekan ini. “Nanti kita rilis pekan depan (kronologi penangkapan pekan ini, red),” singkat Pranoto.

Informasi dihimpun, terduga narkoba RL alias Roosmerry (38), anggota legislator Fraksi Gerindra DPRD Minsel, belum dilakukan penahanan. Roosmerry bersama rekan prianya JL alias Jhon ditangkap di Apartemen MTC Manado, pekan lalu. Pasca ditetapkan tersangka, Roosmerry belum ditahan dan masih bebas berkeliaran.

Sementara itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI pun turut menanggapinya. "Saya sudah konfirmasi ke Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP), informasinya kasus tersebut yang menangani Polda Sulut, bukan BNNP Sulut. Tapi, katanya sudah sementara diproses," beber Juru Bicara BNN RI Kombes Sulistiandriatmoko via telepon, Minggu (13/8), kemarin.

Dijelaskannya, BNN tidak bisa memberi tanggapan lebih terkait status tersangka. Karena berada sepenuhnya di kewenangan Polda Sulut. "BNN tidak bisa memberi evaluasi mengapa hal itu bisa terjadi, karena kewenangan penanganannya sepenuhnya ada pada Polda Sulut. Namun saya yakin, semuanya akan diproses sesuai hukum yang berlaku," urainya.

Di sisi lain, kejahatan narkoba terus diperangi Badan Narkotika Nasional (BNN). Di Sulut, sudah ada 1.030 orang, yang terlibat penyalahgunaan sesuai data BNN provinsi, selang tiga tahun terakhir .

Kepala BNN Sulut Brigjen Pol Charles Ngili pun merinci jumlah pecandu di Sulut. “Untuk tahun 2017, dari Januari hingga Juni, total pecandu atau penyalahguna yang direhabilitasi BNNP berjumlah 257 orang,” beber Ngili. Angka yang disebutkan, tak dapat dipungkiri masih berpotensi meningkat. Mengingat tahun ini masih beberapa bulan lagi.

Mulai tahun 2015, BNNP berhasil merehabilitasi 734 orang pengguna. Dari rehabilitasi tersebut terdiri dari 695 orang rawat jalan dan 39 orang rawat inap. Mantan Wakapolda Sulut itu juga mengatakan, dari 734 pengguna, jumlah pecandu laki-laki ada 591 orang atau 80,52 persen. Sedangkan pecandu perempuan 143 orang atau 19,48 persen. Sedangkan untuk 2016, lanjut Ngili, BNNP berhasil mengungkap 158 kasus. “Dengan rincian pengguna yang berasal dari pengangguran sebanyak 80 orang dari jumlah keseluruhan 158 orang. Ini berasal dari data rehab yang dilakukan BNN Sulut sepanjang tahun tersebut,” urainya.

Kata dia, dari 158 orang, 136 berjenis kelamin laki-laki dan sisanya 22 perempuan. Pecandu itu didominasi pengangguran 80 orang. “Dari jenis pekerjaan, pekerja instansi pemerintah ada sembilan orang. Sedangkan pekerja swasta dan pelajar masing-masing 56 dan 13 orang,” paparnya.

Umumnya, kata Ngili, angka pecandu yang direhab tahun 2016 turun signifikan dibanding 2015 lalu. Pada 2015, pecandu yang direhab mencapai 734 orang. “Turunnya angka ini juga menjadi bukti keseriusan BNNP dan jajaran di kabupaten dan kota dalam memerangi peredaran narkoba di Sulawesi Utara,” pungkasnya.(ctr-16/gnr)

Komentar
Kirim Komentar