09 Agu 2017 09:18
Jaga Budaya Menghormati, Junjung Tinggi Pendidikan

Melihat Pulau Talise Airbanua Peninggalan Belanda

MyPassion
SEMANGAT: Sebanyak 14 ibu-ibu PKK berlatih gerak jalan, di pulau Talise Airbanua, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, akhir pekan lalu. Foto: Dewi/Manado Post

Warga di pulau Talise Airbanua terbiasa hidup dalam gelapnya malam. Hanya temaram lampu botol yang menemani malam.

 

Laporan: Dewi Muntia, Arungbanua

Di tengah gelapnya malam, nyanyian warga diiring suara keyboard terdengar. Malam ini istimewa. Syukuran pisah sambut kepala SMP N 4 Satap dan SD N Airbanua. Semakin dekat semakin jelas terdengar suara canda tawa beberapa warga bercampur merdunya nyanyian yang lain. Di situ ada guru-guru dan siswa serta orang tua. Keramaian terpusat di tenda hijau itu. Sekelilingnya gelap gulita.

Warga pulau Talise Airbanua sangat ramah. Beberapa anak muda yang lewat di tenda memberikan ucapan selamat malam. Bukan hanya salam dari yang muda kepada yang tua. Kepada wartawan ini, seorang pria paruh baya menyapa sembari mengucap selamat malam. Opa Victor Bawia, namanya. Pria ini ternyata tokoh masyarakat di situ. Dia mantan hukum tua.

Meski jauh dari modernisasi, namun warga sadar pentingnya pendidikan. Semua anak disekolahkan. Bahkan sudah lebih dari 10 orang yang bergelar sarjana.

Hanya, warga masih bergantung pada pengobatan tradisional. Ada pula yang masih percaya dengan guna-guna. "Jika ada yang sakit, pemahaman mereka di guna-guna. Maka tidak pergi ke puskesmas, tapi ke dukun. Akhirnya meninggal," tutur Opa Victor.

Selain itu, keberadaan puskesmas yang masih terbatas fasilitas, terkadang mengharuskan warga dirujuk ke puskesmas daratan. Inilah yang sulit. Saat angin barat, ombaknya tinggi. Kalau nekat, nyawa jadi taruhan. Ada juga yang meninggal dalam perjalan laut ke Likupang.

Arungbanua, nama lain pulau ini terletak di  Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Arung artinya di bawah, dan banua artinya benua. Arungbanua adalah pulau di bawah lembah, diapit gunung di sisi utara, timur, selatan. Namanya kemudian menjadi Airbanua lantaran saat itu, orang Belanda tidak bisa mengucapkan kata Arungbanua. Sejarahnya, dahulu Belanda menjadikan pulau ini sebagai perkebunan kelapa.

Belanda mengambil buruh dari Sanger Talaud (Sangihe, Sitaro, Talaud). Dikenalah pulau itu sebagai Talise Airbanua. Ada peninggalan sejarah di pulau itu. Jauh sebelum kedatangan Belanda. Empat kubur yang kini tersisa batu saja. Tak ada nisan. Tak ada yang tahu kuburan siapa itu.

Transportasi umum perahu ke pulau ini dari Pelabuhan Likupang. Sekira dua jam perjalanan. Agak lama karena perahu biasanya singgah di pulau lain sebelum ke Arungbanua. Di perahu, penumpang dan barang dicampur. Sore itu, koran ini seperahu dengan batu dan kerikil.

"Biasanya perahu berangkat pukul 15.00. Tapi tergantung. Kadang bisa lebih cepat, dan kadang bisa lambat. Semua tergantung penumpang. Kalau pukul 14.00 kemudian tidak ada penumpang maka perahu langsung pulang ke pulau. Tapi bisa lambat, jika ada penumpang yang telfon untuk menunggu," beber nahkoda kapal Jefri Sarapil.

Suara bising mesin 40 PK dan alkon menandakan perahu segera berangkat. Perahu tua ini sebenarnya berbahaya. Sudah berlubang. Itulah mengapa ada alkon di situ. Gunanya sebagai penghisap air dari dalam perahu. Luas pulau Talise Airbanua sekira 509 hektar dihuni 570 penduduk. Selain bertani, warga menggantungkan hidup pada laut.

Ibu-ibu PKK di pulau ini kompak. Sore hari, mereka latihan gerak jalan untuk lomba kecamatan. Meski baru latihan, ibu-ibu terlihat sporty dengan sneakers (kets). "Kami latihan start dari jaga satu hingga empat. Dan ini sudah empat kali bolak balik," tutur Sance Makikama, warga jaga 1.

Di pulau ini, hanya ada tiga rumah yang memiliki generator. Bila malam tiba, warga kumpul di pantai, poskamling atau di tempat signal, tak jauh dari desa. Sambil duduk di tepi pantai, warga biasanya bermain keroncong. Yang lainnya menyanyi ataupun sekedar menikmati keramaian. Malam boleh gelap, tapi bagi warga, itu tak membuat suasana menjadi suram.(*)

Kirim Komentar