07 Agu 2017 11:46

Narkoba dan Kurikulum Kehidupan

MyPassion

PADA hari Kamis, 27 Juli 2017, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Utara mengadakan Pelatihan Penggiat Anti Narkoba di Lingkungan Pemerintahan. Atas nama Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat, Bpk. Sam G. Repy, mengundang penulis sebagai salah satu pemateri dalam pelatihan tersebut.

Walaupun pelatihan dalam konteks pencegahan dan pemberdayaan masyarakat tersebut senantiasa relevan, signifikansi dari kegiatan ini terasa semakin mendesak. Alasannya adalah bahwa sejak keberhasilan Polri dan BNN menggagalkan penyelundupan 1 ton sabu dari China (Kamis, 13 Juli 2017), berita tentang narkoba kembali hangat. Tim Gabungan Satuan Tugas Merah Putih (petugas Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dan Polresta Depok) menjadi pusat perhatian karena keberhasilan tersebut. Kemudian, dalam kurun waktu tiga hari setelah aksi di atas (14-16 Juli 2017), Kantor Bea Cukai bekerja sama dengan BNN mampu mengungkap lima kasus penyelundupan dengan total lebih dari 50 kilogram sabu.

Belum lama setelah pengungkapan di atas, Polda Metra Jaya kembali menguak kasus penyelundupan 41,6 kilogram sabu dari China pada tanggal 18 Juli 2017. Kemudian, pada tanggal 26 Juli 2017, BNN bekerja sama dengan Kepolisian dan Bea Cukai kembali menggagalkan penyelundupan 300 kilogram sabu dari China. Serial kasus di atas semakin dihangatkan oleh berita penangkapan artis peran Tora Sudiro dan istrinya atas dugaan penyalahgunaan psikotropika.

Perang Komprehensif

Semua berita ini telah menambah daftar panjang litani perang Indonesia terhadap narkoba. Namun, tanpa mengurangi penghargaan terhadap prestasi-prestasi di atas, bidang pemberantasan narkoba ini perlu senantiasa dilihat secara integral dengan bidang-bidang lain yang meliputi pencegahan, pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi, hukum dan kerja sama. Inilah konteks dari kegiatan yang dilaksanakan oleh BNN Provinsi Sulawesi Utara.

Perang komprehensif terhadap narkoba terimplikasi dalam pernyataan Sri Mulyani setelah pengungkapan kasus penyelundupan 300 kilogram sabu di Jakarta Utara tersebut. Kasus-kasus penangkapan di atas harus dilihat dari perspektif pencegahan meledaknya potensi menakutkan dari penggunaan total sabu tersebut. Ia menegaskan bahwa pengungkapan dua kasus penyelundupan sabu (1 ton dan 300 kilogram) telah mencegah penggunaan sabu oleh sekitar delapan juta pengguna.

Pencegahan penggunaan narkoba dan pelibatan masyarakat dalam perang komprehensif tersebut sementara dijadikan habitus (kebiasaan) melawan trend penggunaan narkoba. Kebiasaan yang terbentuk dari pengulangan-pengulangan gerakan anti narkoba diharapkan akan menghadirkan sebuah tradisi hidup tanpa narkoba.

Kurikulum Hidup

Di tengah kondisi darurat narkoba ini, perang komprehensif ini tak hanya mencakup keutuhan program yang mencakup ranah pemberantasan, rehabilitasi, pencegahan, dan pemberdayaan masyarakat. Perang ini harus juga mengasumsikan kerja sama global yang bahkan melampaui ranah intelijen belaka.

Pelatihan Penggiat Anti Narkoba di Lingkungan Pemerintahan, yang dilaksanakan oleh BNN Provinsi Sulawesi Utara, merupakan usaha untuk mengambil bagian dalam perang komprehensif tersebut. Ketika memberi materi, penulis mencoba untuk membawa peserta dalam satu proses yang berbeda.

Penulis menjanjikan bahwa sepanjang proses tersebut penulis tidak akan menyebutkan kata “narkoba”. Pernyataan ini mulai mengusik peserta. Bagaimana mungkin sebuah materi dalam Pelatihan Penggiat Anti Narkoba disampaikan tanpa menyebutkan kata narkoba?

Penulis menjanjikan bahwa proses ini akan dilalui dalam empat bab inti yang dibungkus dengan pendahuluan dan penutup. Dalam bagian pendahuluan, penulis memulai dengan term “Kurikulum Hidup”. Dalam bagian ini, penulis menegaskan bahwa manusia harus merencanakan hidupnya. Ia harus mengarahkan hidupnya pada pemenuhan kapasitas dirinya. Justru karena tidak semua manusia mampu untuk merencanakan dan mengarahkan hidupnya, “kurikulum hidup” menjadi relevan dan mendesak.  

Bab I Potensialitas dan Aktualitas

Terinspirasi akan filsafat Aristoteles (384-322 SM), penulis mencoba untuk menghantar peserta untuk memahami manusia dari perspektif potensialitas dan aktualitas. Dari perspektif potensialitas, manusia tidak hanya mempunyai kemampuan untuk merubah sesuatu (seorang pematung mampu membuat patung). Manusia, terutama, mempunyai kapasitas untuk merubah dirinya sendiri dan mencapai tahap yang lebih baik.

Dari perspektif aktualitas, kapasitas tersebut menjadi aktual ketika manusia sedang mengusahakan pencapaian tujuan dan kesempurnaan hidupnya. Hal ini menjadi nyata ketika manusia sedang menjalankan program kurikulum kehidupannya untuk menjadi orang yang lebih baik. Hasrat dan kehendak orang untuk menjadi lebih baik merupakan ungkapan bahwa setiap manusia mempunyai tujuan (telos). Jadi, secara natural manusia mempunyai potensi untuk menjadi baik dan senantiasa terarah menuju kondisi yang lebih baik.

Bab II Actus Hominis dan Actus Humanus

Secara natural, tindakan-tindakan manusia merujuk pada kebutuhan dasar, insting natural, dan hasrat seksual. Tindakan manusia di level ini dinamakan actus hominis. Namun, di level ini, manusia tidak bisa dibedakan dari hewan karena hewan juga merujuk pada ketiga hal di atas ketika ia bertindak.

Di sisi lain, ada tindakan-tindakan manusia yang sangat khas manusia. Tindakan-tindakan ini merujuk pada ranah rasional dan moral. Tindakan ini dinamakan actus humanus. Manusia dapat menjalankan actus hominis pun actus humanus. Namun, untuk menegaskan status khasnya sebagai manusia, manusia senantiasa ditantang untuk memberi prioritas pada actus humanus. Sedangkan, actus hominis dipenuhi sejauh memenuhi kebutuhan biologis sebagai manusia.

Bab III Tanggung Jawab

Sebagai salah satu ungkapan actus humanus, manusia membuat keputusan moral. Tindakan yang berdasarkan keputusan moral perlu untuk dipertanggungjawabkan. Bagaimana memahami tanggung jawab? Tanggung jawab mencakup dua makna: accountability dan commitment. Seorang yang accountable berarti ia mampu menjawab semua pertanyaan menyangkut tindakannya. Ia pun harus mampu untuk menanggung semua konsekuensi dan efek dari perbuatannya.

Dari perspektif commitment, orang yang bertanggung jawab berarti ia mampu melaksanakan apa yang ia putuskan. Ia pun harus mampu untuk setia dan mengembangkan semua nilai dan makna yang berhubungan dengan keputusannya. Hal ini berarti bahwa seorang, yang telah memutuskan untuk menikah, harus mampu untuk melaksanakan keputusannya dan setia pada seluruh nilai dan makna yang terkandung dalam sebuah pernikahan.

Bab IV Otentisitas

Terinspirasi oleh filsafat Aristoteles bahwa manusia senantiasa mengarahkan dirinya pada telos, Charles Taylor (1931-…), seorang filsuf kontemporer asal Kanada, menegaskan konsep otentisitas. Ia menghubungkan konsep ini dengan pencapaian pemenuhan diri manusia (self-fulfilment). Di sini, Taylor menggambarkan usaha manusia mencapai otentisitasnya tidak bisa lepas dari konsep nilai masyarakat dimana ia hidup dan trend penegasan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Hal ini dicapai ketika secara tulus dan otentik, seorang individu menegaskan bahwa “inilah aku, inilah identitasku, inilah hasil pemenuhan segala potensi diriku!”

Epilog

Setelah menjelaskan empat bab di atas, para peserta semakin gelisah karena memang benar tidak pernah kata “narkoba” yang terungkap. Mengapa? Karena, elemen-elemen di atas merupakan bagian dari kurikulum hidup.

Dalam kurikulum hidup manusia yang telah memutuskan untuk serius dengan kehidupannya, narkoba memang tidak ada! Dalam proses pencapaian telos dan pemenuhan potensi ideal manusia, narkoba memang tidak ada! Jika secara otentik manusia menjalankan hidupnya, ia akan melihat narkoba sebagai sebuah antithesis. Tradisi kurikulum kehidupan inilah yang perlu didesak dalam tataran kesadaran manusia kontemporer.(***)

Kirim Komentar