03 Agu 2017 10:20

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Sistem Pertanian

MyPassion

oleh

Prof Dr Ir Johannes Elie Xaveriano Rogi,MSi

(Guru Besar Dalam Bidang Geofisika dan Meteorologi/Agroklimatologi)

 

IKLIM yang adalah sintesis atau kesimpulan dari perubahan nilai-nilai unsur cuaca dalam jangka panjang di suatu tempat atau pada suatu wilayah. Sintesis tersebut dapat diartikan pula sebagai nilai statistik yang meliputi rata-rata, maksimum, minimum, frekuensi kejadian atau peluang kejadian dan sebagainya yang tidak berlangsung tetap atau mengalami perubahan. Iklim yang berubah merupakan suatu fenomena yang ditandai dengan berubahnya pola iklim dunia yang mengakibatkan cuaca tidak menentu dan mengakibatkan gangguan terhadap kelangsungan hidup manusia,  dan tanaman. Dampak perubahan iklim pada beberapa sektor berdasarkan hasil skenario model iklim global yang dilakukan oleh Pusat Riset dan Iklim Hadley (Hadley Centre for Climate Prediction and Research)  adalah:

a.            Dampak perubahan iklim pada vegetasi alamiah (Kehutanan);

b.            Dampak perubahan iklim pada sumber air;

c.             Dampak perubahan iklim pada cadangan pangan (Pertanian);

d.            Dampak kenaikan paras laut; dan

e.            Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia.

Sektor pertanian rentan terhadap perubahan iklim karena berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, indeks pertanaman, produksi dan kualitas hasil.  Data menunjukkan bahwa perubahan iklim berupa pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian antara 5 - 20% (Suberjo, 2009). Sebagai contoh, di bagian selatan Indonesia terjadi musim hujan semakin pendek yang berdampak pada sulitnya upaya meningkatkan indeks pertanaman, dan ini harus diatasi dengan menanam varietas yang berumur lebih pendek, atau merehabilitasi jaringan irigasi.  Di bagian utara Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, terjadi peningkatan musim hujan yang akan menurunkan hujan musim kemarau dan resiko kekeringan pada musim kemarau.  Adanya resiko dampak perubahan iklim perlu diantisipasi dengan berupaya memanfaatkan iklim sebagai peluang diversifikasi, peningkatan kualitas produk dan minimalisasi resiko.

 

Proses Terjadinya Perubahan Iklim.

Naiknya suhu udara global sudah dimulai sejak awal revolusi industri.  Pengamatan menunjukkan bahwa peningkatan suhu global sejak akhir abad 19 sampai saat ini berkisar antara 0,3oC sampai 0,6oC, dan peningkatan sebesar 0,2oC sampai 0,3oC terjadi dalam periode 40 tahun yaitu dalam periode 1954-1994.  Naiknya suhu gobal ini disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akibat aktifitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, kegiatan industri konversi lahan dan pertanian.  Di atmosfer terdapat tiga gas rumah kaca utama, yaitu: karbon dioaksida, CO2, metana, CH4, dan nitrogen dioksida, NO2/ Adapun Besar kecilnya GRK di atmosfer akan bergantung pada besar kecilnya aktifitas manusia yang terkait dengan emisi GRK tersebut. GRK merupakan suatu analogi terhadap kemampuan gas-gas atmosfer dalam menangkap panas seperti yang terjadi pada rumah kaca.  Jadi GRK di atmosfer diibaratkan sebagai suatu kubah kaca yang besar yang melingkupi bumi.  Pengaruh rumah kaca secara alami dibutuhkan untuk kehidupan karena kalau tidak ada gas-gas ini, suhu udara pada malam hari di permukaan bumi akan sangat dingin. Apabila konsentrasinya meningkat maka akan terjadi peningkatan suhu udara yang berlebihan yang disebut pemanasan global yang dapat berakibat mencairnya es-es di kutub. Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC) telah menyusun berbagai skenario proyeksi GRK sampai tahun 2100.  Berdasarkan pendekatan modeling, diperoleh bahwa apabila konsentrasi CO2 meningkat dua kali lipat dari konsentrasi saat ini maka diperkirakan suhu udara global akan meningkat antara 1,3 sampai 2,7oC. Perubahan ini akan mengakibatkan terjadinya perubahan sistem iklim global akibat terjadinya perubahan berbagai proses fisika di atmsofer. Perubahan dan variabilitas iklim merupakan fenomena anomali iklim yang menjadi perhatian serius karena berdampak besar terutama terhadap sektor pertanian.  Di Indonesia, dalam 30 tahun terakhir telah terjadi beberapa kali kondisi iklim ekstrim yang ditandai oleh frekuensi variabilitas iklim yang semakin tinggi. Variabilitas iklim Indonesia sangat berkaitan erat dengan ENSO (El Niño Southern Oscillation) di Samudera Pasifik (Trenberth et al. 1995, Kirono & Khakim 1999; Naylor et al. 2002) dan IOD (Indian Ocean Dipole) di Samudera Hindia (Saji et al. 1999; Webster et al. 1999; Ashok et al. 2001; Mulyana 2001, Jourdain et al., 2013). Munculnya fenomena El Niño kuat sebanyak tujuh kali sepanjang 20 tahun terakhir disertai dengan fenomena IOD positif yang hampir terjadi bersamaan yang mengakibatkan deraan kekeringan yang cukup serius.

 

Karakteristik Dampak Perubahan Iklim terhadap Pergeseran Musim.

Iklim merupakan pencirian dari keadaan atmosfir di atas dan dekat permukaan bumi pada suatu periode waktu tertentu (Bey dan Las, 1991). Input yang diperlukan oleh model dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok yaitu: kelompok data iklim, kelompok data tanah, kelompok data tanaman dan kelompok data teknik budidaya. Dari keempat kelompok tersebut, data iklim merupakan kelompok data yang sangat dinamis dan memiliki variasi yang sangat tinggi, tidak hanya secara spasial tetapi juga secara temporal. Karena itu tidak berlebihan untuk menyebutkan bahwa penampilan suatu tanaman dari waktu ke waktu dan dari suatu tempat sangat bervariasi terutama karena adanya variasi iklim secara temporal dan spasial. Data iklim merupakan data-data yang direkam dari sensor-sensor cuaca yang terdapat dalam stasiun klimatologi atau hasil pendugaan dari berbagai media seperti pemodelan dan penginderaan jauh melalui satelit, dari segi substansi, dan menggambarkan kondisi fisik atmosfer yang terukur dalam skala ruang dan waktu tertentu. Kondisi fisik atmosfer ini dapat dijelaskan sebagai unsur-unsur cuaca yang terdiri dari hujan, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, angin dan radiasi matahari yang saat ini terus mengalami perubahan. Perubahan iklim dengan segala penyebabnya secara faktual sudah terjadi di tingkat lokal, regional maupun global.

Peningkatan emisi dan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) mengakibatkan terjadinya pemanasan global, diikuti dengan naiknya tinggi permukaan air laut akibat pemuaian dan pencairan es di wilayah kutub. Naiknya tinggi permukaan air laut akan meningkatkan energi yang tersimpan dalam atmosfer, sehingga mendorong terjadinya perubahan iklim, antara lain El Nino dan La Nina. Fenomena El Nino dan La Nina sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca/iklim di wilayah Indonesia dengan geografis kepulauan.

Sirkulasi antara benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Atlantik sangat berpengaruh, sehingga wilayah Indonesia sangat rentan terhadap dampak dari perubahan iklim. Hal ini diindikasikan dengan terjadinya berbagai peristiwa bencana alam yang intensitas dan frekuensinya terus meningkat. Fenomena El Nino adalah naiknya suhu di Samudera Pasifik hingga menjadi 31°C, sehingga akan menyebabkan kekeringan yang luar biasa di Indonesia. Dampak negatifnya antara lain adalah peningkatan frekuensi dan luas kebakaran hutan, kegagalan panen, dan penurunan ketersediaan air. Fenomena La Nina merupakan kebalikan dari El Nino, yaitu gejala menurunnya suhu permukaan Samudera Pasifik, yang menyebabkan angin serta awan hujan ke Australia dan Asia Bagian Selatan, termasuk Indonesia. Akibatnya, curah hujan tinggi disertai dengan angin topan dan berdampak pada terjadinya bencana banjir dan longsor besar.

Perubahan iklim sudah berdampak pada berbagai aspek kehidupan dan sektor pembangunan di Indonesia. Sektor kesehatan manusia, infrastruktur, pesisir dan sektor lain yang terkait dengan ketersediaan pangan (pertanian, kehutanan dan lainnya) telah mengalami dampak perubahan tersebut. Di sektor pertanian, sama dengan sektor lainnya, belum ada studi tingkat nasional yang mengkaji dampak perubahan iklim terhadap sumber daya iklim, lahan, dan sistem produksi pertanian (terutama pangan). Beberapa studi masih dilakukan pada tingkat lokal, seperti pengkajian dampak perubahan iklim pada hasil padi dengan menggunakan model simulasi. Kerentanan suatu daerah terhadap perubahan iklim atau tingkat ketahanan dan kemampuan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, bergantung pada struktur sosial-ekonomi, besarnya dampak yang timbul, infrastruktur, dan teknologi yang  tersedia. Perubahan iklim antara lain menyebabkan kekeringan dan banjir, yang berdampak terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.  Hal ini terjadi melalui pengaruhnya terhadap pola dan waktu tanam serta indeks/intensitas pertanaman (IP).  Ketiga komponen agronomis tersebut sangat terkait dengan perubahan jumlah dan pola curah hujan (ketersediaan air), pergeseran musim (maju mundur dan lamanya musim hujan/kemarau).   Kejadian   El Niño diperkirakan menyebabkan peningkatan luas areal padi sawah terkena kekeringan dari 0.3-1,4% menjadi 3,1-7,8%.  Pada kejadian La Niña, dengan areal yang puso dari 0.004-0,41% menjadi 0.04-1,87%. Sedangkan  pada tahun basah (La Niña) areal terkena banjir meningkat dari 0.75-2,68% menjadi 0,97-2,99%. Penurunan produksi akibat banjir dan kekeringan meningkat akan 2,4-5% menjadi lebih dari 10% (Badan Litbang Pertanian, 2011).

Dampak Perubahan Iklim terhadap Sistem Pertanian.

Dampak perubahan iklim terhadap sistem pertanian jelas terlihat sekarang ini. Laporan ADB Tahun 2009 bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah menderita kerugian parah akibat perubahan iklim dengan biaya rata-rata perubahan iklim yang setara dengan 6,7 persen dari PDB setiap tahunnya terutama di Negara  Filipina, Indonesia, Thailand dan Vietnam, jika dilakukan skenario penanganan biasa. Negara Filipina, Indonesia, Vietnam dan Thailand diperkirakan akan mengalami penurunan hasil padi sekitar 50% pada 2100 dibandingkan dengan tahun 1990 rata-rata dengan asumsi tidak ada perbaikan sarana teknis akan menurunkan produksi 34% di Indonesia dan 75% di Filipina, dan mulai tahun 2020 akan terjadi hampir di semua Negara. Indonesia sebagai Negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara akan paling menderita akibat perubahan iklim terutama kekeringan dan banjir, karena fenomena ini akan menurunkan produksi pangan dan kapasitas produksi. Produk Domestik Bruto, PDB, Indonesia, 15% merupakan sumbangan dari sektor pertanian dimana 41% dari angkatan kerja tergantung dari sektor pertanian. Indonesia akan memiliki masalah serius akibat perubahan iklim jika tidak segera dilakukan penanganan teknis maupun non teknis melalui kebijakan yang dilakukan. Hasil kajian FAO (2005) menunjukkan variabilitas dan perubahan iklim mempengaruhi 11% lahan pertanian di negara-negara berkembang yang dapat mengurangi produksi bahan pangan dan menurunkan Produk Domesik Bruto (PDB) sampai 16%.

Indonesia memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau yang bagi satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama baik dalam saat terjadinya maupun lama kejadiannya. Hal ini antara lain tergantung pada letak geografis daerah yang bersangkutan. Daerah Indonesia bagian barat lebih banyak mendapat pengaruh dari Asia pada musim hujan, sedang daerah Indonesia bagian timur lebih banyak mendapat pengaruh dari Australia pada musim kemarau. Hal ini termasuk daerah atau wilayah Sulawesi Utara. Dalam dasawarsa terakhir ini wilayah Sulawesi Utara mengalami perubahan iklim yang cukup signifikan dari keadaan sebelumnya. Hal ini mengakibatkan berbagai masalah dan kerugian usaha tani. Contohnya musim tanam sudah tiba tetapi hujan tidak turun mengakibatkan bibit rusak, pengolahan lahan berulang atau bibit yang sudah ditanam mengalami kekeringan yang menimbulkan kerugian cukup besar, ataupun hujan yang berlangsung di atas normal yang mengakibatkan penggenangan lahan pertanian. Gangguan terhadap sistem pertanian terkait dengan tiga faktor utama, yaitu: faktor biofisik, genetik, dan manajemen. Kejadian iklim ekstrim antara lain menyebabkan: (a) kegagalan panen dan tanaman, penurunan indeks pertanaman yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi; (b) kerusakan sumber daya lahan pertanian; (c) peningkatan frekuensi, luas, dan intensitas kekeringan; (d) peningkatan kelembaban; dan (e) peningkatan intensitas gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) (Las et al., 2008a). Dalam sistem pertanian dampak perubahan iklim merupakan resultante antara perubahan luas tanam dan panen dengan produktivitas.  Kekeringan dan banjir berdampak terhadap produksi melalui luas areal panen, serangan OPT, pertumbuhan dan produktivitas tanaman.  El-Nino dan kekeringan berdampak lebih dominan terhadap penurunan luas areal panen seluruh komoditas dibanding terhadap penurunan produtivitas. Rata-rata untuk tingkat nasional penurunan luas areal panen seluruh komoditas pangan 0,25-11.25%, sedangkan produktivitas mengalami penurunan 0,08-2,27%. Sedangkan La-Nina dan kebanjiran menyebabkan penurunan produktivitas hampir seluruh komoditas, tetapi tidak terhadap luas areal panen.  Kalau dibandingkan secara nasional Sulawesi Utara tidak mengalami dampak El-Nino (menurunnya produksi pangan), sedangkan dampak El-Nino tertinggi terjadi di Provinsi Lampung (7,5%) disusul Kalimantan Timur (7,3%), Sumatera Selatan(5,4%), dan Jawa Tengah (4,9%).  Dampak La-Nina terhadap produksi pangan masing-masing wilayah jauh lebih beragam, untuk Sulawesi Utara belum ada data mengenai dampak dari terjadinya La-Nina.  Data nasional menunjukkan bahwa pada tahun El Niño, luas tanaman padi yang terkena kekeringan berkisar antara 300-850 ribu ha. Pada tahun La Niña, luas tanaman padi yang terkena banjir berkisar antara 200-350 ribu Ha. Kerusakan tanaman padi akibat kekeringan lebih parah karena berlangsung pada daerah yang lebih luas dan waktu yang lebih lama. Sebaliknya, banjir mempunyai karakterisik kejadian yang lebih lokal dengan waktu kejadian yang lebih pendek. 

Kejadian banjir dan kekeringan sangat berdampak buruk pada produksi dan produktivitas tanaman pangan. Banjir dan kekeringan akan merusak pertanaman dan mengganggu pertumbuhan tanaman sehingga produktivitas dan produksi tanaman pangan menurun bahkan terjadi puso.

Hasil penelitian Boer dan Subbiah (2005) melaporkan bahwa sejak tahun 1844 hingga 2009 masing-masing telah terjadi 47 dan 38 kali peristiwa El-Nino dan La-Nina yang menimbulkan kekeringan dan banjir serta gangguan terhadap produksi padi nasional. Kejadian El Niño diperkirakan menyebabkan peningkatan luas areal padi sawah terkena kekeringan dari 0.3-1,4% menjadi 3,1-7,8%.  Pada kejadian La Niña, dengan areal yang puso dari 0.004-0,41% menjadi 0.04-1,87%. Sedangkan  pada tahun basah (La Niña) areal terkena banjir meningkat dari 0.75-2,68% menjadi 0,97-2,99%. Penurunan produksi akibat banjir dan kekeringan meningkat akan 2,4-5% menjadi lebih dari 10% (Badan Litbang Pertanian, 2011).

Variabilitas dan perubahan iklim dengan segala dampaknya berpotensi menyebabkan kehilangan produksi tanaman pangan, 20,6% untuk padi, 13,6% jagung, dan 12,4% kedelai (Handoko et al. 2008). Sementara kebutuhan pangan terutama beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk. Diperkirakan pada tahun 2025 jumlah penduduk akan mencapai 262 juta jiwa dengan konsumsi beras 134 kg per kapita, dengan demikian kebutuhan beras nasional mencapai 35,1 juta ton atau 65,9 juta ton GKG (Budianto 2002).

Di Sulawesi Utara, berdasarkan hasil penelitian Hosang dan Rogi (2013) didapatkan bahwa kondisi ketersediaan beras mengalami defisit mulai tahun 2020 sebesar 47,4 juta Kg dan pada tahun 2030 mengalami defisit sebesar 150,3 juta Kg.  Penurunan produksi tersebut terjadi akibat petani masih menggunakan pola dan teknik tanam baku.

Kejadian banjir dan kekeringan dapat mengganggu tanaman pada stadia apapun dari persemaian hingga panen. Gangguan tanam bisa berupa gagal tanam setelah semai, tanaman rusak karena banjir, atau puso.  Selain itu, peningkatan intensitas banjir secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi karena meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Menurut Wiyono (2009), peningkatan frekuensi kejadian banjir dapat menimbulkan masalah berupa serangan hama keong emas pada tanaman padi. Di samping itu juga ada indikasi bahwa lahan sawah yang terkena banjir pada musim sebelumnya berpeluang lebih besar mengalami ledakan hama wereng coklat.

Untuk perkembangan hama mulai tahun 2006 sampai sekarang di Sulawesi Utara terjadi serangan hama tikus, wereng coklat, hijau, hama kepiding dan ini tentu saja berdampak terhadap penurunan produktivitas di areal terjadinya serangan dan akhirnya akan berdampak pada produksi. Peningkatan serangan OPT ini, untuk kasus di Sulawesi Utara peningkatan hama dan penyakit lebih banyak disebabkan curah hujan yang berada di atas normal.  Kondisi ini mempengaruhi kondisi iklim mikro terutama kelembaban nisbi menjadi lebih menguntungkan bagi perkembangan hama dan penyakit, Kelembaban nisbi mikro kurang dari 73% menyebabkan kematian pada nimfa wereng coklat (Isichaikul, 1994).  Perkembangan wereng coklat biasanya menjadi masalah pada musim hujan.

Perubahan iklim juga memberikan pengaruh terhadap sistem air pertanaman dengan terjadinya peningkatan suhu udara dan curah hujan. Peningkatan suhu udara akan meningkatkan laju evaporasi dan evapotransipirasi (Krysanova dan Wechsung, 2002), sehingga menyebabkan meningkatnya kebutuhan air untuk irigasi, walaupun total curah hujan selama periode tanam sama.  Ketersediaan air yang semakin langka pada masa sekarang dan masa datang, dan kebutuhan air irigasi yang meningkat, akan semakin memperburuk dampak perubahan iklim apabila tidak dilakukan upaya yang memperhitungan tingkat risiko iklim. Hujan lebat yang diestimasi akan semakin tinggi frekuensi dan intensitasnya di masa datang akan menyebabkan tingginya aliran permukaan.  Konversi penggunaan lahan dari pertanian ke non pertanian yang tidak terkendali akan menyebabkan semakin luasnya permukaan yang kedap (impermeable). Dengan meluasnya permukaan lahan yang kedap air, mendorong semakin seringnya banjir di musim penghujan dan kelangkaan air di musim kemarau. Untuk mengatasi ini, pemerintah harus berupaya mengendalikan alih fungsi lahan terbuka hijau menjadi lahan dengan permukaan kedap akibat pembangunan jalan, perumahan dan bangunan lain. 

Selain beberapa akibat yang dipaparkan terdahulu, perubahan iklim juga menyebabkan akses masyarakat petani terhadap pangan terganggu, yang secara langsung maupun tidak langsung, berakibat menurunnya penghasilan masyarakat petani, khususnya petani tanaman pangan. Akibat yang lebih parah dialami oleh buruh tani yang mengandalkan pendapatannya dari jasa kegiatan on-farm seperti pengolahan tanah, menanam, menyiang, memupuk, panen dan lain-lain.

Petani merupakan konsumen terbesar (>60%) bagi sebagian besar produk pangan terutama beras. Penundaan waktu tanam menyebabkan pula penundaan waktu panen, sementara itu kebutuhan (demand) terhadap pangan hampir tidak mengalami perubahan.  Hal tersebut menyebabkan cadangan pangan di tingkat rumah tangga dan makro secara nasional dalam berbagai bentuk dan jenis pangan akan berkurang bahkan defisit.  Dengan demikian, akses masyarakat untuk mendapatkan pangan semakin rendah karena makin menipisnya ketersediaan pangan dan menurunnya kemampuan/daya beli masyarakat terhadap pangan dan akhirnya berimplikasi terhadap ketahanan pangan masyarakat.

Dalam World Food Summit 1996 (FAO, 1996) dikemukakan bahwa ketahanan pangan mencakup empat unsur yaitu: (i) Ketersediaan (food availability), (ii) akses penduduk terhadap pangan (access to sufficient food),  (iii) stabilitas (stability of food stock), dan (iv) pemanfaatan pangan (utilization of food, which is related to cultural practices).  Dari keempat unsur terebut yang paling rawan terkena dampak perubahan iklim adalah stabilitas pangan (food system stability), karena secara simultan ditentukan oleh ketersediaan temporal dan akses terhadap pangan (FAO, 2007).

Perubahan iklim, yang menyebabkan terjadinya perubahan cuaca akibat naiknya suhu, menyebabkan musim tanam dan tempat penanaman mengalami perubahan. Rundengan dan Rogi (2012) dalam penelitiannya mendapatkan bahwa waktu penanaman padi terbaik di Sulawesi Utara adalah bulan Maret.

 

Penerapan Model Simulasi untuk Prediksi Dampak Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Tanaman.

Model simulasi tanaman saat ini merupakan alat untuk dapat memprediksi produksi yang berkaitan dengan iklim terutama digunakan untuk tanaman pangan. Beberapa model telah dikembangkan untuk menghubungkan pengaruh variabel iklim terhadap produksi tanaman sperti Huda et al (1976) yang mempelajari kontibusi variabel iklim untuk memprediksi produksi jagung, Hill et al (1979) dan Sudira (1985) mempelajari variabel iklim pada kedele.  Handoko (1994) membangun model untuk tanaman padi, model dinamika nitrogen untuk tanaman kelapa sawit oleh Rogi (2002) serta model perkembangan dan pertumbuhan untuk tanaman Jarak oleh Djufry (2005) dan Salwati (2012) untuk tanaman kentang.  Input model terdiri dari unsur-unsur cuaca berupa radiasi surya, suhu dan kelembaban udara, kecepatan angin dan curah hujan; sifat fisik tanah (kapasitas lapang, titik layu permanen dan parameter evaporasi tanah); sifat kimia tanah (pH, nitrogen total); input agronomis (varietas, laju penggunaan benih, irigasi, pemupukan nitrogen); serta kondisi awal berupa kadar air tanah dan nitrogen mineral (NH4 dan NO3) dari berbagai lapisan tanah.

Hasil-hasil simulasi model juga dikembangkan oleh oleh Fischer et al (2002) yang terkait dengan perubahan iklim bahwa sampai tahun 2080 produksi pangan turun 0,6-0,9%.  Salwati (2005) menggunakan simulasi tanaman untuk menganalisis dampak perubahan iklim terhadap waktu tanam terhadap umur dan produktivitas kentang. Analisis dilakukan dengan simulasi waktu tanam tiap 10 hari (dasarian) mulai 1 Januari sampai 31 Desember di Minahasa, Alahan Panjang, Pangalengan, Wonosobo, Pasuruan, dan Selatan (Kawasan Modasi) Deli Serdang. Prediksi perbedaan waktu tanam terhadap umur tanaman dan produktivitas dianalisis pada keenam sentra produksi kentang tersebut, secara umum umur tanaman kentang yang panjang akan menghasilkan produktivitas tinggi dibandingkan umur tanaman yang pendek. Prediksi waktu tanam kentang (varietas Granola) saat ini di Minahasa Selatan menunjukkan produktivitas maksimum (18 ton ha-1) dapat dicapai apabila kentang ditanam pada awal Juni. Di daerah Minahasa Selatan tersebut, untuk mencapai produktivitas di atas 15 ton ha-1, penanaman kentang saat ini dapat dilakukan mulai dari Februari minggu ketiga sampai Juni minggu ketiga. Produktivitas di bawah 12 ton ha-1 didapatkan apabila kentang ditanam pada Juli minggu ketiga, sehingga pada waktu tanam ini tidak dianjurkan untuk menanam kentang. Sementara itu, produktivitas maksimum (21 ton ha-1) di Alahan Panjang dapat dicapai pada waktu tanam September minggu kedua sampai Desember minggu ketiga, sedangkan waktu tanam yang lain menghasilkan produktivitas di atas 15 ton ha-1. Produktivitas kentang tertinggi pada sentra-sentra produksi kentang yang lain juga dicapai pada waktu tanam yang berbeda-beda. Dengan menjalankan model berdasarkan waktu tanam tiap dasarian dari Januari hingga Desember, diperoleh produktivitas tiap waktu tanam tersebut yang bervariasi dan waktu tanam optimal didefinisikan sebagai waktu tanam yang menghasilkan produktivitas tertinggi. Waktu tanam optimal pada kondisi peningkatan suhu udara dan penurunan curah hujan berdasarkan Skenario Minggu I, II dan III akan menyebabkan penurunan produktivitas kentang pada keenam sentra produksi masing-masing 11%-29%, 22%-43%, dan 28%-57%. Pangalengan juga diprediksi akan mengalami penurunan terbesar pada waktu tanam optimal tersebut pada Skenario Minggu II dan III sebesar 43%, dan 57%.

Pengaruh perbedaan varietas terhadap hasil tanaman kentang juga diprediksi menggunakan model simulasi untuk periode fase-fase perkembangan serta hasil umbi tanaman. Hasil prediksi menunjukkan varietas Atlantis memerlukan jumlah hari yang lebih lama untuk menyelesaikan masing-masing fase perkembangan tanaman dibanding Granola, sehingga umur kentang varietas Atlantis (116 hari) lebih panjang dari Granola (110 hari) pada tempat dan waktu tanam yang sama. Umur tanaman yang lebih panjang menyebabkan biomassa umbi varietas Atlantis lebih tinggi dari Granola. Produktivitas Atlantis sebesar 25 ton ha-1, sedangkan Granola hanya 16 ton ha-1. Varietas Atlantis memiliki nilai Radiation Use Effisiency (RUE) sebesar 1,79 g MJ-1, sedangkan Granola sebesar 1,12 g MJ-1, Hasil penelitian Rogi (2015) mendapatkan nilai RUE untuk kentang Granola yang dikembangkan di dataran medium sebesar 0,14 g MJ-1.

Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan terutama pada respirasi.  Dalam proses respirasi, hasil fotosintesis akan diubah menjadi CO2 dan H2O, sehingga semakin besar respirasi laju pertumbuhan tanaman menjadi berkurang, oleh karena itu peningkatan suhu udara harus dikendalikan (Handoko, 1994).  Hasil penelitian (Matthews et al., 1997) menunjukkan bahwa berdasarkan simulasi tanaman, kenaikan suhu rata-rata 10C akan menurunkan produksi padi 5-7%. Penurunan hasil tersebut disebabkan oleh berkurangnya pembentukan sink, pendeknya periode pertumbuhan, dan meningkatnya respirasi (Matthews dan Wassmann, 2003).

Peningkatkan suhu akan menyebabkan meningkatnya penggunaan air oleh tanaman pangan melalui proses evapo-transpirasi sehingga secara kumulatif jumlah sawah yang diairi akan menurun. Akibatnya, luas panen akan menurun karena pasokan air untuk irigasi menurun dan tidak dapat memenuhi kebutuhan air ke sawah. Pada daerah yang mengalami kenaikan suhu udara, produksi pangan akan menurun lebih besar daripada daerah yang mengalami penurunan suhu udara.

Berdasarkan konsep thermal unit yang menentukan koleksi biomassa dan hasil panen, perubahan iklim akan menurunkan produksi semua tanaman pangan utama. Asnawi (2015) menyimpulkan bahwa jika tidak ada tindakan kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, diperkirakan produksi padi sawah akan menurun sebesar 20,3 persen, jagung akan menurun sebesar 13,6 persen.

Hasil simulasi model Tanaman padi yang dikem-bangkan Handoko (2000) dapat mensimulasi surplus dan defisit air di suatu lokasi, Penelitian yang dilakukan Panelewen dan Rogi (2013) diperoleh bahwa curah hujan yang mempunyai trend meningkat  di Sulawesi Utara terjadi pada bulan Januari, April dan November.  Sedangkan curah hujan yang mempunyai trend terendah terjadi pada bulan Februari dan September Sedangkan hasil pemetaan surplus air diperoleh hasil bahwa surplus air adalah daerah Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara dan Bolaang Mongondow Selatan. Berdasarkan hasil analisa dapat disimpulkan bahwa Secara spasial terlihat bahwa Kadar Air Tanah di Sulawesi Utara rata-rata berada 100-300 mm, sehingga sebagian besar wilayah Sulawesi Utara dalam keadaan Surplus air. Daerah yang banyak mengalami surplus air adalah daerah Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara dan Bolaang Mongondow Selatan yang merupakan daerah sentra produksi padi. Sementara defisit air terbesar di Sulawesi Utara hanya terjadi bahwa pada Bulan Oktober.

Strategi dan Langkah Operasional untuk Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim.

Perubahan iklim menimpa seluruh negara di dunia dengan tidak mengenal negara maju, berkembang dan terkebelakang, akan tetapi terdapat perbedaan yang menyolok antara negara maju versus negara berkembang, di satu sisi, negara-negara maju akan mengalami peningkatan produksi karena kesiapan infrastrukturnya juga secara geografis sebagian besar negara maju terletak di wilayah temperate maka naiknya rata-rata suhu global justru menyebabkan potensi sumberdaya lahan yang sesuai untuk digunakan sebagai lahan pertanian bertambah luas. Sebaliknya negara-negara berkembang justru mengalami penurunan produksi pangan. Khususnya di Asia Tenggara produksi serealianya diproyeksi turun 2,5–7,8%.

Bagi negara-negara berkembang, kompleksitas persoalan yang terkait dengan dampak negatif perubahan iklim bukan hanya berkenaan dengan turunnya laju pertumbuhan ekonomi, tetapi yang lebih gawat adalah meningkatnya jumlah penduduk miskin dan rawan pangan. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari: (1) sejak semula proporsi penduduk miskin memang lebih banyak, (2) sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, (3) penguasaan teknologi kemampuan permodalannya sangat terbatas sehingga kapasitas adaptasinya rendah, (4) risiko konflik antar kelompok masyarakat terkait dengan kemiskinan masih tinggi, dan (5) perubahan iklim juga mendagradasi kualitas kesehatan sehingga produktivitas kerja akibatnya juga menurun.

Langkah strategis yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat adalah program MITIGASI dan ADAPTASI.

Program Mitigasi adalah usaha menekan penyebab perubahan iklim, seperti gas rumah kaca dan lainnya agar resiko terjadinya perubahan iklim dapat diminimalisir atau dicegah. Contoh upaya mitigasi yang lain dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air antara lain: (i) Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan penaburan material semai (seeding agent) berupa powder atau flare, (ii) Usaha rehabilitasi waduk dan embung, (iii) Alokasi air melalui operasi waduk pola kering, pembangunan jaringan irigasi, (iv) Penghijauan lahan kritis dan sosialisasi gerakan hemat air, (v) Peningkatan kehandalan sumber air baku, (vi) Peningkatan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA), (vii) Pengembangan teknologi pengolahan air tepat guna, pembangunan dan (viii) Rehabilitasi waduk dan embung serta pembangunan jaringan irigasi.

Program adaptasi adalah kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan diri dari perubahan iklim (termasuk di dalamnya variabilitas iklim dan variabilitas ekstrem) dengan cara mengurangi kerusakan yang ditimbulkan, mengambil manfaat atau mengatasi perubahan dengan segala akibatnya. Menurut Murdiyarso (2001), adaptasi terhadap perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang dilakukan secara spontan maupun terencana untuk memberikan reaksi terhadap perubahan iklim. Dengan demikian adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan strategi yang diperlukan pada semua skala untuk meringankan usaha mitigasi. Strategi antisipasi dan teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan aspek kunci yang harus menjadi rencana strategis Kementerian Pertanian dalam rangka menyikapi perubahan iklim. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tahan (resilience) terhadap variabilitas iklim saat ini dan mendatang. Upaya yang sistematis dan terintegrasi, serta komitmen dan tanggung jawab bersama yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan guna menyelamatkan sektor pertanian. Adaptasi terhadap perubahan iklim sangat potensial untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan meningkatkan dampak manfaat, sehingga tidak ada korban. Pengalaman menunjukan bahwa banyak strategi adaptasi dapat memberikan manfaat baik dalam penyelesaian jangka pendek dan maupun jangka panjang, namun masih ada keterbatasan dalam implementasi dan keefektifannya. Hal ini disebabkan daya adaptasi yang berbeda-beda berdasarkan daerah, negara, maupun kelompok sosial-ekonomi. Negara dengan sumberdaya ekonomi terbatas, tingkat teknologi rendah, informasi dan keahlian rendah, infrastruktur buruk, nstitusi lemah, ketidakadilan kekuasaan, kapasitas sumber daya terbatas; adalah memiliki kemampuan adaptasi yang lemah dan rentan terhadap perubahan iklim. Berlaku hal yang sebaliknya bagi Negara dengan sumberdaya ekonomi tinggi, tingkat teknologi tinggi, informasi dan keahlian tinggi, infrastruktur baik, institusi kuat, berkeadilan dalam kekuasaan, kapasitas sumber daya melimpah.

Adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan aspek kunci yang harus menjadi agenda pembangunan   nasional   dalam rangka mengembangkan pola pembangunan yang tahan terhadap dampak perubahan iklim dan gangguan anomali cuaca yang terjadi saat ini dan antisipasi dampaknya ke depan. Tujuan jangka panjang dari agenda adaptasi perubahan iklim di Indonesia adalah terintegra-sinya adaptasi perubahan iklim ke dalam agenda perencanaan pembangunan nasional.

Sepuluh tahun yang lalu, telah ditetapkan Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim dengan mengedepankan 8(delapan)  pendekatan, yaitu: 1) Mengintegrasikan agenda adaptasi perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan nasional seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Jangka Panjang, 2) Meninjau kembali dan menyesuaikan inisiatif atau program yang ada sehingga menjadi tahan (resilience) terhadap perubahan iklim,       3) Melembagakan pemanfaatan informasi iklim sehingga mampu mengelola resiko iklim, 4) Mendorong daerah otonom untuk mengintegrasikan pertimbangan resiko iklim ke dalam perencanaan pembangunan daerah, 5) Memperkuat informasi dan pengetahuan untuk mengurangi resiko iklim sekarang dan masa yang akan datang, 6) Memastikan tersedianya sumber daya dan pendanaan yang berasal dari dalam negeri untuk kegiatan adaptasi serta memanfaatkan semaksimal mungkin bantuan pendanaan internasional, 7) Memilih opsi no-regrets (tanpa penyesalan), yakni mengambil tindakan adaptasi, meski misalnya perubahan iklim tidak terjadi, sehingga manfaat yang diperoleh selain dapat mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim sekaligus mendatangkan manfaat bagi pembangunan nasional, dan 8) mendorong terbentuknya dialog nasional untuk mempercepat proses implementasi agenda adaptasi perubahan iklim di Indonesia.

Menurut Bates et. Al., (2008), adaptasi harus dilaksanakan secara bersinergi antara adaptasi yang dilakukan secara individu oleh petani, atau kelompok tani (autonomous adaptation) dan adaptasi yang direncanakan oleh pemerintah (planned adaptation). Adaptasi yang terencana seperti perubahan dalam kebijakan, institusi dan infrastruktur diperlukan untuk memfasilitasi dan memaksimumkan keuntungan jangka panjang dari program adaptasi  perubahan iklim. Adaptasi yang terencana difokuskan dalam pengembangan infrastruktur baru, kebijakan dan institusi untuk mendukung, memfasilitasi, mengkordinasikan dan memaksi-malkan pengelolaan lahan pertanian dalam menghadapi perubahan iklim. Program dan kebijakan adapatasi tersebut seperti meningkatkan investasi dalam membangun infrastuktur irigasi dan teknologi hemat air, menjamin infrastruktur pengangkutan dan penyimpan, membangun pasar yang mudah diakses dan efisien untuk memasarkan hasil dan sarana pertanian, termasuk skema harga dan bantuan keuangan, termasuk asuransi pertanian. (*)

Kirim Komentar