02 Agu 2017 10:22

Kominfo Buka Blokir Telegram

MyPassion
CEO Telegram Pavel Durov saat menemui Menkominfo Rudiantara. (Imam Husein/Jawa Pos/JawaPos.com)

JAKARTA–Pekan depan, Telegram akan bisa diakses kembali. Hal tersebut terungkap setelah Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara bertemu dengan CEO Telegram Pavel Durov di Jakarta kemarin (1/8). Ada beberapa hal yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Salah satunya adalah rencana untuk membukaan blokir terhadap 11 DNS (domain name system) Telegram. Rudiantara mengatakan, DNS Telegram sudah bisa dinormalisasi dalam waktu dekat.

”Tentu (Telegram) akan bisa diakses lagi. Kalau saya maunya secepatnya. Tapi jangan sampai nanti dibuka, terus terjadi yang dulu-dulu lagi,” katanya kepada wartawan.

Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, Rudiantara juga meminta Durov serius menanggapi keluhan dari Pemerintah Indonesia tentang konten-konten negatif yang bertebaran di kanal publik Telegram. Dengan datangnya Durov ke Indonesia, kata Rudiantara, itu menunjukan keseriusan Telegram bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam mengelola konten yang ada di kanal publik mereka.

Sebagai tindak lanjut dari komitmen ini, Kemenkominfo dan Telegram sepakat untuk mengatur dan mengelola prosesnya. Karena untuk menghadapi ancaman terorisme dan radikalisasi dibutuhkan kecepatan bertindak. Untuk itu, Rudiantara dan Durov sepakat prosesnya akan dibahas dalam pertemuan yang melibatkan tim teknis.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel A Pangerapan menambahkan, dengan adanya itikad baik dan komitmen dari Telegram untuk mengelola dan menangani isu-isu yang mengancam negara, melalui penyebaran isu-isu terorisme dan konten radikalisasi, maka sesuai dengan prosedur yang diterapkan, 11 DNS Telegram berbasis web segera dipulihkan.

”Kalau sudah resolve atau terindikasi resolve, kita akan proses segera. Insya Allah dalam waktu dekat. Minggu ini. Kita akan cari hari baiknya,” katanya.

”Minggu depan sudah bisa dibuka,” tambahnya.

Pada kesempatan itu juga, Durov kembali menegaskan komitmen Telegram untuk memerangi terorisme dan radikalisme lewat propaganda di kanal-kanal Telegram. ”Tadi kami berbicara tentang pemblokiran propaganda terorisme di Telegram. Yang memang merupakan komitmen kami secara global. Terutama di Indonesia,” kata Durov.

Sebagai langkah nyata, kata Durov, pihaknya telah memberikan akses komunikasi langsung kepada Pemerintah Indonesia. Sebelumnya, Rudiantara mengeluhkan akses komunikasi yang sulit dengan Telegram. Setelah pertemuan kemarin, keduanya sepakat untuk berkomunikasi secara lebih efisien.

”Sebelumnya kami menerima email dari Menteri. Sekarang, kita sepakat membuka jalur komunikasi yang lebih efisien. Yang bisa diandalkan. Yaitu Telegram,” ungkap Durov.

Durov juga berjanji akan memangkas durasi reaksi Telegram terhadap konten-konten negatif itu. Menurutnya, saat ini, Telegram telah menambahkan anggota tim moderator yang berbahas Indonesia untuk bisa merespons dengan cepat konten-konten tersebut sehingga bisa langsung ditutup.

”Saya harap, dengan ini, durasi reaksi jadi lebih cepat dan akurat dalam mengidentifikasi konten berbau terorisme/ISIS,” ucap Durov.

Semmy menjelaskan, upaya komunikasi untuk menangani masalah terorisme dan radikalisme bukan hanya dilakukan dengan Telegram. Menurutnya, platform lain, seperti Twitter, Facebook, dan WhatsApp, juga mendapat perlakukan yang sama. ”Kita menjalin komunikasi dengan semua platform. Kita akan bertemu juga dengan semuanya. Mereka partner pemerintah,” tutur Semmy.

Sebelumnya, Kemkominfo secara resmi mengumumkan telah melakukan pemblokiran terhadap 11 DNS Telegram per 14 Juli lalu. DNS Telegram diyakini bermuatan propaganda terorisme dan radikalisme. Ada juga konten paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan konten lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan Indonesia.

Sekedar diketahui, suasana pertemuan Rudiantara dan Durov tidak semenegangkan ketika Kemkominfo memutuskan untuk memblokir Telegram. Kala itu, kesalahpahaman sempat terjadi. Durov menuturkan, pertemuannya dengan Rudiantara sangat menarik dan cair.

"Saya sangat senang bisa berada di sini. Pertemuan tadi sangat menarik. Kami juga menyantap hidangan Indonesia untuk makan siang," kata Durov yang kerap mengenakan kaos hitam dalam berbagai kesempatan pada sesi konferensi pers.

"Tadi saya ajak makan. Ada sayur genjer, bakwan udang, sambal. Dia tadi tanya ini apa itu apa. Saya jelaskan," kata Rudiantara.

Setelah menikmati makan siang, Durov dan Rudiantara kembali ke kantor Kemkominfo. Sesampainya di Kantor Kemkominfo, keduanya langsung disambut puluhan awak media di pintu masuk. Jepretan flash dan serentetan pertanyaan langsung menghadang Rudiantara dan Durov. Tidak banyak informasi yang dibagikan kepada awak media saat itu.

Selepas memberikan statement dan menjawab pertanyaan pada sesi konferensi pers, Durov langsung meninggalkan kantor Kemkominfo. Selain menjalin komunikasi dengan Kemkominfo, Durov juga akan bekerja sama dengan komunitas lokal untuk lebih mengetahui apa saja yang mereka butuhkan dari Telegram.

Sepanjang jalan dari ruang konferensi pers ke mobil yang akan membawanya, Durov juga tidak keberatan memenuhi permintaan selfie dari para awak media dan pegawai Kemkominfo.

Durov mengakui kunjungannya ke Indonesia kali ini cukup berkesan. Ini jadi kali pertama dirinya menginjakan kaki di Jakarta. Bagi Durov, Indonesia adalah salah satu negara favoritnya. (jpg/can)

Berita Terkait
Kirim Komentar