01 Agu 2017 10:12

Jangan Terjebak Gadget, Perbanyak Kegiatan Rohani

MyPassion

MANADO - Teknologi terus berkembang pesat. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena informasi menjadi tak terbatas. Namun, penggunaan gadget harus dikontrol. Terutama untuk anak-anak. Jangan sampai, gadget membuat anak-anak ketergantungan dan menjauh dari pergaulan.

 

Ketua Komisi Pelayanan Anak Sinode GMIM Pnt Meike Munaiseche-Pangemanan menilai, gadget tak hanya memiliki sisi positif namun juga sisi negatif.  “Tak mengapa mengikuti perkembangan zaman yang ada. Namun jika melihat sisi negatifnya, sudah dengan jelas anak-anak mulai terganggu berbagai aktivitas, mulai dari minat kerohanian, pergi ke sekolah minggu, dan ibadah-ibadah yang diikuti tak fokus,” ungkapnya.

Ditambahkannya, kebiasaan anak-anak jika sudah memegang gadget adalah bermain game. “Sukanya mereka itu biasanya main game online, media sosial dan lain sebagainya. Makanya sekarang kami akan menciptakan program-program kreatif, agar anak-anak tak sepenuhnya terpengaruh dengan gadget,” ucapnya. “Memang menjadi upaya untuk menciptakan kegiatan merangkul mereka, agar terlibat lagi dalam ibadah dan kegiatan kerohanian. Begitu juga dalam talenta harus tersalur bakatnya ke hal positif dalam pelayanan. Selain itu juga keterlibatan orangtua sangatlah penting,” imbuhnya. 

Lanjutnya, orangtua adalah yang terdekat. Jadi peran orangtua sangatlah penting. “Sehingga patutlah membentuk anaknya saat di rumah menjadi pribadi yang baik mencermati dengan bijak hal tersebut,” tuturnya.

Senada, Ketua Pemuda GPdI Sulawesi Utara Pdt Hanny Awuy  menyampaikan, penggunaan gadget saat ini akan mendapatkan dukungan kalau itu digunakan kepada hal-hal positif. Tapi kalau pada hal-hal yang mengganggu itu perlu ada perhatian. “Karena hadirnya gadget canggih mengurangi makna saat anak-anak muda ini beribadah, sekolah dan kuliah. Biasanya tak fokus hanya asik dengan gadget sendiri,” ujarnya.  “Edukasi di rumah harus diberikan sebaik mungkin dengan cara berinteraksi langsung. Jangan mengajarkan atau memberikan anak-anak keleluasaan memegang gadget. Karena peran pendampingan orangtua itulah yang penting,” sebutnya.

Ketua Lesbumi Nahdlatul Ulama Sulut Taufiq Bilfaqih menambahkan, ia prihatin terhadap fenomena ini. Coba diingat masa-masa kekanak-kanakan dulu, punya permainan-permainan tradisional yang mampu menumbuhkan semangat setia kawanan. “Misalnya saat bermain petak umpet, karet, kelereng dan lain sebagainya membuat interaksi secara nyata secara langsung ada hubungannya dengan sosial,” katanya.

Namun, lanjut Taufik,  problemnya sekarang ketika diperhadapkan dengan perkembangan yang ada, banyak menjadikan pribadi-pribadi individualistik. “Dalam artian, anak muda disibukan dengan smartphone, aplikasi yang membuatnya hanya berinteraksi dengan mesin. Tidak secara tatap muka pertemuan yang dilakukan,” katanya.

Sehingga, dikatakannya, hal-hal seperti gotong royong, kebersamaan, semangat saling bersaudara itu terdegradasi. Karena sudah terjebak oleh dunia gadget tersebut.  “Ini bukan berarti kita melawan globalisasi perkembangan teknologi. Namun hal ini telah menjadi masalah terhadap nilai-nilai kebudayaan,” paparnya.  “Jadi dalam konteks agama harus menanamkan nilai kerohanian, agar mengangkat keimanan setiap generasi mudanya, agar tak terjebak pada dampak buruk teknologi gadget,”  harapnya. (ela/ite)

Kirim Komentar