29 Jul 2017 12:39
Hari Ini, Enam Negara Rancang Strategi

GEMPUR ISIS dari MANADO

MyPassion

MANADO—Letak geografis Sulut yang berbatasan dengan daerah konflik Marawi, Filipina, jadi perhatian serius. Hal ini membuat pemerintah pusat menyorot tanah Nyiur Melambai. Tujuannya untuk  mengantisipasi militan ISIS yang semakin tersudut akibat gempuran militer Filipina.

“Secara umum rapat ini untuk membicarakan isu global tentang penanganan teroris di dunia. Namun secara khusus wilayah daerah kita yang berada di perbatasan dengan negara tetangga Filipina, yang menjadi basis kelompok teroris, membuat pemerintah pusat memberikan perhatian untuk penanganan di wilayah perbatasan,” ungkap Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) saat gala dinner bersama peserta Filipina, Malaysia, Austarlia, Selandia Baru di Hotel Four Points by Sheraton Manado, semalam (28/7).

Lanjut OD, diskusi antiteroris bertema ‘Sub Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism’ yang akan digelar hari ini, mengindikasikan perlu ada kewaspadaan dini. “Negara kita, termasuk Sulut harus tetap waspada di wilayah perbatasan. Apalagi pada konflik di Marawi kelompok teroris mulai tersudut oleh gempuran militer Filipina,” paparnya.

Di sisi lain, OD berharap, pertemuan ini akan berdampak pada sektor pariwisata. “Menjadi tuan rumah konferensi level dunia ini, secara tak langsung berdampak pada promosi pariwisata Sulut, pada para peserta,” tandas Bendahara Umum PDI Perjuangan ini.

Diketahui, rapat koordinasi bersama delegasi enam negara termasuk Indonesi adalah kegiatan dari Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam). Kemarin siang juga sudah diadakan pertemuan pendahuluan regional bilateral. Pertemuan pendahuluan ini bersama tiga negara, Australia, New Zealand, Filipina. Turut hadir Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius, Penasihat Dewan Keamanan Nasional Filipina Gen Hermogenes Esperon, Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Gerry Brownlee, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan perwakilan dari delegasi. Pertemuan ini dimulai pukul 13.30 Wita, setelah Menkopolhukam Wiranto selesai menjalankan ibadah sholat dan rombongan Kapolri tiba di Hotel Four Points.

Wiranto mengatakan, pertemuan dengan tiga negara untuk memperjelas bahan-bahan akan dibahas hari ini. Semuanya tidak terlepas dari masalah menghadapi terorisme yang berkembang di wilayah Marawi, Filipina Selatan. “Hari ini belum termasuk dengan pertemuan nanti, formalnya besok. Kita akan melaksanakan pertemuan intens dari enam negara,” kata Wiranto. 

Kegiatan tersebut berjalan sekira tiga jam. Ada beberapa tahap kegiatan sesuai delegasi yang datang terlebih dahulu. Wiranto menjelaskan, pertemuan dengan Filipina untuk meminta penjelasan mendetail. Mengenai perkembangan aksi terorisme serta usaha ISIS untuk membangun basis baru di Filipina Selatan.

Sedangkan Australia sebagai co host yang merancang pertemuan ini mendata poin-poin yang akan dibahas nanti. “Untuk Selandia Baru sebagai negara yang sangat intens dan kuat usahanya melawan terorisme, kita minta masukan-masukan yang positif untuk digunakan dalam pertemuan besok (hari ini),” jelasnya.

Jaksa Agung Australia, Senator George Brandis usai pertemuan mengatakan, pertemuan ini sangat penting dalam mengkoordinir respon menghadapi ancaman teror. “ISIS telah mendeklarasikan keinginan untuk mendirikan negara khilafah regional. Situasi yang berkembang sekarang Filipina Selatan sangat mengkhawatirkan. Inilah sebabnya mengapa pemerintah Australia bersama-sama Indonesia, juga para menteri dan pejabat senior menjaga keamanan nasional di Filipina, Malaysia, Brunei dan New Zealand,” katanya. Bilateral Sub Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism ini merupakan tindak lanjut joint statement dalam International Meeting on Counter Terrorism di Bali pada 9 Agustus 2016.

Rapat persiapan ini juga dihadiri Kapolda Irjen Pol Bambang Waskito, Sekprov Edwin Silangen, Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat John Palandung, Kepala Biro Umum Clay June Dondokambey, Kasdam XIII/Merdeka Brigjen TNI Santos Matondang dan sejumlah pejabat dari Kemenkopolhukam.

Sebelumnya di Jakarta, Wiranto telah mengadakan Rakor pada Rabu (26/7) lalu. Yang dihadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris Komjen Pol Suhardi Alius, Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin, Sekretaris Kemenkopolhukam Mayjend Yoedhi Swastono, Deputi Koordinasi Politik Luar Negeri Lutfi Rauf, Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Irjen Pol Carlo Brix Tewu, serta kementerian dan lembaga terkait.

Dalam Rakor ini membahas Indonesia yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi melawan terorisme di kawasan Asia Tenggaran. “Acara SRM FTF-CBT akan dilaksanakan di Manado selama dua hari. Undangannya dari negara-negara yang berada di kawasan perairan Sulu Selandia Baru, Australia, Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina, dan Indonesia sebagai tuan rumah,” jelas Wiranto. Materi dalam pertemuan akan difokuskan pada bagaimana mempelajari anatomi, kondisi, situasi yang terjadi di Filipina Selatan untuk sama-sama menanggulanginya. Ditegaskan pula, semua negara Asia Tenggara sepakat untuk tidak mau wilayahnya dijadikan sebagai basis baru dari ISIS.

Sehingga Wiranto kembali mengingatkan bahwa sekarang Indonesia sudah cukup dikenal sebagai negara yang dapat melakukan langkah-langkah cukup efektif dalam melawan terorisme. “Indonesia mendapatkan apresiasi karena tidak hanya melaksanakan dari sudut hard approach yaitu dengan langkah-langkah tegas dan keras, tetapi juga dengan cara soft approach,” tandasnya.(***)

Kirim Komentar