17 Jul 2017 10:02

Telegram dan Ekstrimisme Media Sosial

MyPassion

BEBERAPA hari belakangan ini, berita tentang media sosial kembali menyeruak. Kali ini, Telegram menjadi bahan perbincangan. Telegram adalah layanan gratis, non-profit, berbasis cloud untuk pengiriman pesan dan saling tukar video, audio, foto, dan berbagai macam arsip atau file.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, telah memblokir layanan tersebut, walau tidak menyeluruh. Layanan tersebut baru diblokir di level browser komputer dan mobile. Namun, ia masih bisa diakses di layanan aplikasi mobile.

Alasan pemerintah untuk memblokir layanan Telegram adalah bahwa layanan banyak memuat propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dll. Hal ini diungkap oleh Dirjen Aplikasi dan Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan melalui keterangan resmi yang diterima KompasTekno, Jumat (14/7).

Pada dasarnya, pemblokiran ini merupakan warning serius dari pemerintah kepada pihak Telegram. Hal ini dilakukan setelah usaha untuk berkomunikasi dengan pihak Telegram yang dilakukan oleh pihak Kemenkominfo tidak mendapat tanggapan. Usaha pemerintah akhirnya menarik perhatian pihak Telegram. CEO Telegram, Pavel Durof, telah meminta maaf, walau sebelumnya ia mengaku tidak mengetahui bahwa Kemenkominfo telah berusaha menghubungi mereka sejak 2016.

Radikalisme dan Ekstrimisme

Kasus Telegram seakan menyambung kasus-kasus penggunaan media sosial dalam hal-hal yang ekstrim dan radikal. Untuk mencegah lupa, bulan Mei lalu pernah diberitakan bahwa Facebook-Google-Twitter dituding membantu ISIS. Dalam bulan yang sama, perhatian kita ditarik oleh pengumuman versi reality show dari film Hunger Games.

Belum lagi, kasus pemerkosaan seorang perempuan di Uppsala, Swedia, dipublikasikan secara live di Facebook. Pada bulan Maret, seorang gadis berumur 15 tahun dari Chicago, Amerika Serikat, diperkosa secara brutal oleh 5 atau 6 orang pria. Kejadian ini dipublikasikan secara live di Facebook yang ditonton oleh 40 orang.

Pada bulan April, seorang bekas pemungut kaleng berumur 74 tahun ditembak secara acak oleh seorang pria di Cleveland, Amerika Serikat. Penembak tersebut kemudian menunggah video pembunuhan tersebut di Facebook yang sempat bertahan selama 3 jam sebelum disensor. Ia kemudian ditemukan tewas bunuh diri.

Di akhir bulan April, seorang pria Thailand membunuh anaknya sendiri dan mempublikasikannya secara live di Facebook. Ia kemudian membunuh dirinya sendiri. Dua potongan video yang diunggahnya sempat bertahan selama kira-kira 24 jam sebelum disensor. Video pertama telah ditonton sebanyak 112.000 kali dan video yang kedua sebanyak 258.000 kali. Bahkan, kedua potongan video tersebut telah sempat diunggah di YouTube, Google, dan kemudian disensor 15 menit kemudian.

Di Indonesia, kasus serupa telah terjadi. Pada bulan Maret, seorang pria mempublikasikan secara live proses ia menggantung dirinya. Kejadian tersebut terjadi di Jakarta Selatan.

Kontribusi positif internet, secara khusus media sosial, dalam dunia komunikasi inter personal tidak bisa dibantah. Namun, mereka juga mengakomodasi kemungkinan-kemungkinan ekstrim dalam kehidupan privat dan sosial manusia. Mari kita telaah beberapa konsep revolusioner di belakang lahirnya internet dengan segala kemungkinannya.

Revolusi Konsep Dunia

Internet telah merevolusi cara manusia melihat dunia. Dalam kebudayaan Mesopotamia, Mesir, dan Yunani Kuno, dunia digambarkan sebagai benda datar. Namun, Pythagoras, Plato, dan Aristoteles mendeklarasikan bahwa bumi adalah bulat. Mereka memang juga berasal dari Kebudayaan Yunani Kuno. Namun, mereka merupakan representasi kelahiran pemikiran kritis filsafat yang mulai menggerogoti otoritas mitos dan mitologi. Pembuktian yang lebih empiris dari sudut pandang ilmu navigasi, bahwa dunia itu bulat, baru muncul sekitar abad ke-16.

Namun, zaman modern dengan revolusi transportasi secara radikal telah merubah cara pandang manusia tentang dunia. Walau secara nyata dunia itu bulat, namun secara metaforis, dunia dialami sebagai ruang datar. Alasannya adalah bahwa sistem transportasi modern telah merevolusi jarak, waktu, dan cara bertransportasi. Yang dulu memakan waktu tahun dan bulan, kini hanya hitungan jam dan menit.

Dunia yang secara metaforis dialami sebagai datar tersebut, kemudian direvolusi secara radikal oleh internet menjadi jaringan yang tidak berbentuk. Dunia kini dialami sebagai jaringan yang abstrak. Jaringan ini kini telah menghubungkan manusia satu dengan yang lain secara global.

12
Kirim Komentar