22 Jun 2017 09:52

Digital Banking

MyPassion

Joy Elly Tulung, PhD

Dosen FEB Universitas Sam Ratulangi

Komite Pemantau Risiko Bank Sulutgo

KEMAJUAN teknologi informasi saat ini sangat cepat dan berdampak pada hampir semua lini bisnis, contoh paling nyata saat ini dimana kehadiran transportasi publik online yang tidak pernah kita bayangkan pada 2-3 tahun lalu, masyarakat sangat terbantu dengan kehadirannya dan tentunya menjadi tanda awas bagi transportasi publik konvesional seperti taxi dan angkutan penumpang lainnya.

Begitu juga di industri perbankan kemajuan teknologi informasi membawa perubahan yang signifikan pada cara bank melayani kebutuhan transaksi keuangan di masyarakat.  Nasabah tidak perlu datang ke kantor bank untuk melakukan transaksi seperti di masa lalu dimana untuk melakukan transaksi seperti setor uang, tarik dana, melakukan transfer, pembayaran kartu kredit dan lain-lain diharuskan datang ke kantornya. Bahkan sangat terbatas dengan jam buka tutup setiap kantor, apalagi di waktu libur seperti hari minggu dan hari-hari raya yang ada.

Saat ini adalah era digital banking. Dimana nasabah bisa melakukan transaksi perbankan dimana saja dan kapan saja dan tidak pernah tutup, buka 24 jam selama 7 hari. Layanan transaksi ATM juga tersedia dimana-mana sehingga untuk melakukan setoran, menarik uang, transfer, membayar tagihan, melakukan pembelian barang apa saja bisa di lakukan di ATM mana saja dan lebih hebat lagi hampir semua transaksi pembelian dan pembayaran bisa kita lakukan melalui smartphone yang ada didalam genggaman kita serta di depan perangkat Komputer dan Laptop, yang sering kita sebut, SMS Banking, Mobile Banking dan Internet Banking.

Digital banking juga mempercepat kemajuan transaksi bisnis E-Commerce. Saat ini masyarakat mulai banyak melakukan transaksi jual beli melalui media online shopping. Setelah order pembelian dilakukan, pembayaran langsung bisa ditransfer ke rekening penjual melalui internet banking atau mobile banking masing-masing dan penjual langsung bisa mengecek bahwa dananya sudah masuk ke rekeningnya.

Dengan digital banking, masyarakat tidak perlu membawa uang tunai untuk bertransaksi, sehingga makin lama transaksi dengan uang tunai makin berkurang. Digital banking akan menjadi kebutuhan, sehingga bank-bank harus meningkatkan kapasitasnya di layanan digital banking agar dapat bersaing di masa mendatang. Bahkan saat ini bank-bank mulai melakukan kerja sama dengan berbagai pelaksana E-Commerce, misalnya di Indonesia kita kenal nama Gojek, Uber, Grab, Lazada, Tokopedia, Blibli dan lain-lain.

Saat melakukan akses ke situs bank, nasabah juga bisa langsung akses ke situs penyedia layanan E-Commerce tersebut dan sebaliknya sekali akses ke situs E-Commerce bisa langsung akses ke situs banknya. Semakin mudah dan transaksi tersebut dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Bahkan Pasar E-Commerce Indonesia kini diramaikan oleh bank yang menyediakan situs jual beli online. Seperti Citibank (Belibarang.com), BNI (Blandja.com), dan Bank Mandiri (Tokone.com).

 

Sejarah Digital Banking

Evolusi Digital banking sudah ada sejak tahun 1980an di Amerika Serikat walaupun pada prakteknya sangat berbeda dengan digital banking di era sekarang, digital banking semakin dikenal pada tahun 1994 di Amerika Serikat, yaitu Stanford Credit Union mulai menawarkan layanan perbankan melalui situs mereka dimana 100.000 rumah tangga mulai mengakses rekening  bank secara online, dan sejak itu digital banking berkembang secara pesat di Amerika Serikat sendiri pada tahun 2001 sudah mencapai 20juta pengguna, di Indonesia sendiri Bank Internasional Indonesia (1998) menjadi yang pertama walaupun BCA (2001) melalui Klikbca.com yang berani mengoperasikan E-Banking secara masif di Indonesia, pada tahun 2007 saat peluncuran Iphone, digital banking mulai menggeser dari komputer ke smarphone, kemudian secara statistik pengguna digital banking mencapai 54 juta di Amerika Serikat pada tahun 2009.

Sedangkan di Indonesia Menurut survei yang dilakukan oleh Sharing Vision pada 6 bank besar di Indonesia, jumlah pengguna internet banking mencapai 5,7 juta orang pada 2012. Dan sejak tahun 2016 dimana gerenasi milenia (Masyarakat Kelahiran 1981-2000) berhasil mengubah preferensi digital banking secara fundamental dimana hal tersebut menandakan kepada bank bahwa mereka harus segera memindahkan semua layanan secara online.

Risiko Digital Banking

Hampir sama dengan kejahatan perbankan yang sering terjadi di bank konvensional begitu juga digital banking, kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi juga diintip oleh kejahatan perbankan online jika pihak bank maupun nasabah tidak berhati-hati.

Banyak pelaku kejahatan yang mencari celah untuk membobol rekening nasabah dengan modus operasi yang lebih canggih. Perbankan juga diharuskan memperkuat keamanan layanan digital banking-nya, namun nasabah juga diharapkan aktif menjaga keamanan rekeningnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memberikan warning kepada masyarakat dan juga pihak perbankan untuk tetap waspada dalam melakukan transaksi-transaksi perbankan melalui internet dan fasilitas e-Banking lainnya.

Data statistik dari OJK pada tahun 2015 menunjukan bahwa total kerugian dari E-Banking di Indonesia mencapai 37 Miliar Rupiah, bahkan Negara tetangga kita pada tahun yang sama mengalami kerugian sebesar 2.8 Triliun rupiah, sedangkan kerugian di UK mencapai 133.5 juta poundsterling atau setara 2.2 Triliun rupiah. Digital banking memang memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada masyarakat untuk bertransaksi keuangan, namun kemajuan ini juga tidak luput dari risiko yang harus disadari oleh masyarakat.

Maka oleh dari itu kita semua harus menjaga semua informasi pribadi terutama PIN atau password, jangan memberikan informasi PIN atau password kepada siapapun,  masyarakat juga harus memastikan bahwa smartphone atau komputer yang digunakan tidak terserang aplikasi malware yang bisa mencuri data pribadi, serta mengikuti arahan dari bank untuk melakukan perubahan data secara reguler. Era digital banking akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan tidak terbayangkan kemajuan yang akan terjadi pada tahun-tahun mendatang.

Edukasi digital banking perlu disampaikan kepada masyarakat baik oleh pihak Bank, OJK serta akademisi, kemajuan teknologi informasi tidak perlu kita hindari dan takuti, namun kita semua baik perbankan maupun Masyarakat harus memastikan dan berjaga-jaga agar tidak menjadi korban kemajuan teknologi informasi. Dengan demikian kita semua akan memperoleh kenyamanan dalam bertransaksi di mana saja dan kapan saja, dan sekalian juga bisa tenang karena transaksi digital banking kita aman terjaga.(***)

Kirim Komentar