19 Jun 2017 09:29

Tingkatkan Kualitas Kopi Lokal

MyPassion
SINERGIS: Soekowardojo (kanan) dan Ir Hj Tatong Bara melakukan penandatanganan MoU. Ciptakan UMKM Kopi Unggulan Nasional. Foto: Julius Laatung/MP

KOTAMOBAGU—Peran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi roda penggerak  ekonomi  daerah. Hal tersebut dikembangkan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut.

Salah satunya menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu. Setelah melihat tingginya minat dan permintaan terhadap Kopi Kotamobagu yang datang dari Belanda, Ukraina, dan Tiongkok.

Kepala Perwakilan BI Sulut Soekowardojo mengatakan, aplikasi kerja samanya berupa pendampingan, pelatihan, dan pembukaan akses.

UMKM, imbuh Soekowardojo, telah menjadi motor penggerak ekonomi. Meski dalam skala terbatas, UMKM mampu sustain (menopang) dan tak terlalu terdampak tiap kali terjadi instabilitas ekonomi. Itulah keunggulan utama UMKM.

Karena itu, Soekowardojo meyakini, peran UMKM akan makin berdampak setelah dikembangkan aksesnya. “Pasti tak hanya memberikan pemasukan bagi daerah, namun mampu memberikan multiplier effect ke sekotra lain seperti pariwisata dan serapan tenaga kerja,” ungkap Soekowardojo, di sela penandatanganan MoU bersama  Pemkot Kotamobagu terkait Pengembangan Produk UMKM Unggulan (Local Economic  Development)  Kluster Kopi Kotamobagu.

Lanjutnya, dari sisi permintaan dan produksi, Sulawesi jadi daerah ketiga terbaik setelah Jawa dan Sumatera.  Kontribusi per bulan tercatat sebesar 2.992 ton dengan negara pengimpor didominasi Belanda, Ukraina, dan Tiongkok.

“Luas areal tanam kopi di Sulut mencapai 7.714 hektare. Namun dari sisi pemetaan, Kota Kotamobagu belum terselaraskan dalam satu kawasan untuk menjamin permintaan. Padahal itu penting supaya kualitasnya bisa semakin dikenal di mancanegara," imbuh Soekowardojo.

Lewat penandatanganan MoU ini, harapnya, kelompok binaan petani kopi bisa menjadi UMKM unggulan. Sehingga tak hanya meningkatkan daya saing, namun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Serta mampu memberikan penambahan pendapatan bagi para petani.

Ditambahkan Deputi Direktur BI Sulut Buwono Budisantoso, Kotamobagu identik dengan kopi. Namun potensi ini belum digali dengan optimal.  Ini yang ingin dimaksimalkan,  supaya nantinya ada tiga kelompok  petani kopi yang akan dipilih melalui seleksi. 

Dengan nilai modal pendampingan mencapai Rp 180 juta dibagi rata. “Tentunya semangat menjadi UMKM unggulan harus benar-benar dimiliki. Bukan berat dinominal bantuannya saja, “ tukas Budisantoso.

Wali Kota Kotamobagu Ir Hj Tatong Bara menyambut baik inisiatif BI Sulut ini. Dikatakannya, ketersediaan lahan, kualitas kopi, serta tingginya animo permintaan akan komoditas unggulan Kotamobagu ini, terasa semakin lengkap. Dengan adanya pendampingan dari Bank Indonesia. “Mudah-mudahan MoU tersebut jadi stimulus berharga bagi kami. Terlebih, sudah ada investor dari Tiongkok yang datang langsung melihat proses pembuatan, lahan, hingga produksinya. Mereka  sudah minta 5 ton untuk dipasok,” ungkapnya.

Lanjut wali kota berhijab ini, sejumlah sektor pasti ikut terkerek dengan adanya peningkatan kualitas dan pasar produksi Kopi Kotamobagu.

Bara pun tak segan menargetkan total investasi bakal masuk sebesar Rp 3,5 triliun. Menyusul sejumlah investor  asing telah menjajaki kerja sama dengan Pemkot Kotamobagu meliputi berbagai sektor. “Salim Group dan James Riyadi sudah masuk. Pusat perbelanjaan, RS Siloam, dan sarana hiburan Waterpark. Kafe dan restoran di Manado juga ditantang oleh pak gubernur, kalau boleh suplai bahanya dari Kotamobagu," pungkasnya.(tr-03/har)

Kirim Komentar