17 Jun 2017 09:06

Wasiat Terakhir yang Bikin Perpecahan

MyPassion

PERPECAHAN keluarga perdana menteri Singapura terus melebar. Pangkalnya adalah surat wasiat ayah mereka, bapak pendiri Singapura, Lee Kuan Yew. Tepatnya wasiat mengenai warisan rumah besar di Jalan Oxley Nomor 38, Singapura. Di rumah itulah Lee Kuan Yew tinggal sejak 1945 sampai meninggal pada 23 Maret 2015.

 

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong sangat marah atas pernyataan terbuka dua adiknya yang menyatakan bahwa keduanya tidak akan mau lagi tinggal di Singapura. Mereka bakal pindah ke negara lain.

Hsien Loong ganti memberikan penjelasan terbuka yang sangat panjang. Sampai 46 pasal. Isinya menceritakan secara kronologis lahirnya surat wasiat ayahanda mereka.

Surat wasiat Lee Kuan Yew tersebut ternyata berubah sampai enam kali. Sebab, Lee Kuan Yew ternyata berumur sangat panjang sehingga dia terus menyempurnakan surat wasiatnya. Lee Kuan Yew meninggal pada usia 91 tahun.

Wasiat pertama ditulis Lee Kuan Yew pada 20 Agustus 2011, setahun setelah istri tercintanya, Kwo Geok Choo, meninggal. Saat itu Lee Kuan Yew masih menjabat menteri mentor dalam kabinet yang dipimpin anak sulungnya.

Isi surat wasiat tersebut sangat pribadi. Tapi, salah satunya kini diketahui publik lantaran perpecahan di antara tiga bersaudara tersebut. Yakni, wasiat mengenai rumah di Jalan Oxley 38 yang dikenal sebagai rumah Perdana Menteri Lee Kuan Yew.

Luas pekarangan rumah tersebut sekitar 5.000 m2 di jalan yang tidak jauh dari pusat kota Orchard Road. Nama Jalan Oxley itu sendiri diambil dari nama asli pemilik perkebunan yang dulu broke in di situ, Thomas Oxley, orang Inggris. Oxley kemudian menjualnya kepada orang Yahudi. Pembeli itulah yang membangun rumah di situ dilengkapi dengan sinagoge, rumah ibadah Yahudi.

Lee Kuan Yew menempati rumah tersebut pada 1945 ketika berumur 22 tahun. Di situlah dia mendirikan partai PAP yang sudah berkuasa di Singapura selama lebih dari 60 tahun sampai hari ini.

Lee menjadi perdana menteri Singapura selama 31 tahun. Lalu jadi menteri senior selama 14 tahun dan menteri mentor selama 7 tahun. Total, Lee Kuan Yew berkuasa selama 56 tahun. Selama itu pula Lee tinggal di Oxley 38.

Perpecahan keluarga ini terjadi saat anak perempuan Lee Kuan Yew, Lee Wei Ling, akan melaksanakan isi surat wasiat ayahnya: membongkar total rumah tersebut.

Dalam surat wasiat pertama, memang disebutkan bahwa sang ayah menghendaki agar segera sepeninggal dia rumah tersebut diratakan dengan tanah. Sepanjang anak perempuannya yang tidak mau menikah itu tidak mau lagi tinggal di situ. Si anak perempuan memang tinggal bersama orang tuanya sampai kedua orang tuanya meninggal.

Si anak sulung yang sekarang menjadi perdana menteri tidak setuju. Wasiat pembongkaran itu sudah dicabut pada wasiat yang kelima. Tapi, si adik bisa membuktikan bahwa klausul pembongkaran tersebut masuk lagi dalam wasiat keenam alias wasiat terakhir tahun 2013.

Saudara sulung itu tidak terang-terangan menolak pembongkaran. Dia hanya menegaskan bahwa yang berniat membongkar itu harus membeli tanah tersebut dengan harga komersial ditambah kenaikan sebesar 50 pct untuk sumbangan sosial. Sang adik menganggap aturan itu sebagai akal-akalan sang kakak sulung. Dengan cara menyalahgunakan kekuasaan. ’’Kalau kepada saudara sendiri saja berlaku seperti ini, bagaimana kepada rakyat?’’ tulis sang adik.

Yang lebih menyakitkan sang adik adalah tuduhan bahwa istri saudara laki-lakinyalah yang berusaha memasukkan kembali pasal pembongkaran yang sudah dicabut itu ke dalam wasiat terakhir.

Tuduhan itu semakin memperuncing perpecahan keluarga paling terhormat di Singapura tersebut. (*)

Kirim Komentar