08 Jun 2017 09:52

Perbanyak Konsumsi Zat Besi

MyPassion

MENSTRUASI masih dianggap tabu oleh sebagian remaja perempuan. Mereka khawatir menjadi bahan olokan oleh lawan jenisnya. Hal itu membuat remaja yang tengah menstruasi enggan mengganti pembalut saat di sekolah agar tidak ketahuan.

 

Dokter Frida Soesanti SpA(K) dari Satgas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mewanti-wanti remaja tidak melakukan hal tersebut. Sebab, banyak gangguan kesehatan yang akan mengancam. Mulai iritasi di bagian organ intim hingga infeksi saluran kemih. ’’Bila tidak terjaga higienitasnya, bisa terjadi infeksi,’’ jelasnya kemarin (7/6).

Para remaja perempuan diimbau mengganti pembalut minimal empat kali sehari. Disarankan menggunakan pembalut yang sekali pakai. Sebab, berdasar penelitian, risiko infeksi lebih tinggi pada penggunaan pembalut re-usebale jika dibandingkan dengan disposable.

Pada masa datang bulan itu, Frida juga menyarankan lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak zat besi. Misalnya, bayam, buah bit, daging merah, hati, dan telur. Atau, bisa juga mengonsumsi zat besi selama menstruasi.

Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes Eni Gustina mengamini pentingnya manajemen kebersihan menstruasi. Dia menuturkan, remaja tidak perlu malu karena menstruasi adalah proses biologis yang normal. Karena itu, tak menjadi masalah sering-sering berganti pembalut. Bahkan, anjuran WHO, frekuensi ganti pembalut sebaiknya dilakukan 3–6 kali sehari.

Namun, persoalan lainnya adalah ketidaksiapan sarana sanitasi di sekolah untuk memudahkan siswi berganti pembalut. Padahal, untuk mengganti pembalut, diperlukan air bersih, sabun, dan tisu atau handuk. Hal itu diperburuk dengan tidak adanya tempat sampah untuk pembalut. ’’Secara fisik dan mental, ini bermasalah bagi perempuan,’’ ujarnya.

Melihat fakta tersebut, Eni meminta para guru dan pengelola sekolah lebih aktif membina siswa. Di antaranya, menyampaikan materi kebersihan menstruasi sebagai bagian dalam pelajaran kesehatan reproduksi. ’’Guru harus memberikan informasi tentang menstruasi kepada siswa supaya mereka dapat bersikap baik,’’ jelasnya. Hal itu harus didukung orang tua, terutama ibu, untuk menjelaskan seputar menstruasi kepada anak sejak dini. Kalau bisa, bahkan sebelum dia mendapat haid pertamanya. (jpg/can)

Kirim Komentar