05 Jun 2017 11:26

Persekusi dan Logika “Kambing Hitam”

MyPassion

AKHIR-akhir ini, istilah persekusi menguasai pemberitaan. Kasus yang hangat dibicarakan sekarang merujuk pada peristiwa yang terjadi di Cipinang terhadap seorang remaja berumur 15 tahun. Beliau diinterogasi oleh beberapa orang yang prosesnya terekam dalam sebuah video.

Kasus lain menimpa seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Solok, Sumatera Barat. Setelah diminta untuk menyatakan permintaan maaf atas status facebook (19-21 Mei 2017), baik di media sosial maupun dalam sebuah pertemuan resmi, beliau dan keluarga masih tetap mengalami intimidasi.

Selain kasus-kasus ini, menurut laporan Regional Coordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Juniarto, setidaknya ada 59 kasus persekusi yang terjadi sejak Januari hingga Mei 2017.

Persekusi dan Asumsi Dasarnya

Fenomena persekusi telah berkembang mendahului nominalisasi/penamaan persekusi itu sendiri. Namun, dalam perkembangannya ada kesan bahwa penggunaan persekusi seakan-akan sudah jelas pada dirinya sendiri. Sehingga, penerapannya seringkali tanpa disertai dengan pendefinisian yang cukup. Istilah tersebut seakan-akan menolak untuk diperjelas. Adalah tabu jika kita hendak menjelaskannya.

Salah satu alasan yang dapat penulis tawarkan untuk menjelaskan fenomenon di atas adalah kemendesakan fakta persekusi untuk ditampilkan di permukaan. Setiap fakta persekusi yang merupakan anti-thesis ide-ide besar, seperti kemanusiaan, keadilan, demokrasi, hak-hak asasi, ingin segera diungkapkan, dikritik, dan ditindak secara adil. Fokus utama pernyataan dan penjelasan tentang persekusi adalah fakta persekusi, bukannya ide persekusi. Yang hendak ditindak adalah subjek pelaku persekusi dan yang hendak diretribusi adalah kehidupan korban atau penderita.

Namun, demikian perlulah kita memperjelas definisi persekusi. Karena definisi yang digunakan untuk menjelaskan ide persekusi dalam konteks Indonesia masih belum seimbang. Coba simak definisi-definisi ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, persekusi didefinisikan sebagai pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Dalam release laporannya, kompas.com menambahkan unsur hukum dalam definisi tersebut, yaitu pemburuan sewenang-wenang terhadap warga atau sejumlah orang yang kemudian dihakimi tanpa melalui prosedur hukum yang berlaku.

Memang definisi di atas tidak salah, namun belum memadai. Bandingkan dengan definisi berikut ini. Oxforddictionaries.com memberi definisi sebagai berikut: hostility and ill-treatment, especially because of race or political or religious beliefs (permusuhan dan tindakan sewenang-wenang, secara khusus karena ras, pandangan politik, atau kepercayaan religius). Kekhususan dari definisi ini adalah pengungkapan secara eksplisit alasan mendasar dari praktek persekusi, yaitu ras, pandangan politik, dan kepercayaan religius.

Jadi, problem perbedaan ras, perbedaan pandangan politik dan kepercayaan religius merupakan salah satu asumsi dasar terjadinya persekusi. Ini ada dalam inti dan hakekat persekusi itu sendiri. Hal ini penting untuk diungkapkan sehingga kita menyadari kemendesakan dan kedalaman problem persekusi yang sedang kita hadapi.

Asumsi lain dari persekusi dapat kita simak dalam definisi yang diberikan oleh Voltaire (nama aslinya François-Marie Arouet, 1694-1778) dalam Dictionnaire Philosophique. Baginya, persekutor merujuk pada: he whose wounded pride and fanaticism irritate princes and magistrates into fury against innocent men, whose only crime is that of being of a different opinion (ia, yang kebanggaan diri dan fanatismenya, membuat pangeran-pangeran dan hakim-hakim/penegak hukum menjadi murka terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Kesalahan mereka tak lain hanyalah menjadi orang-orang yang mempunyai pendapat yang berbeda).

Voltaire, yang merupakan sejarawan dan filsuf terkemuka di Era Pencerahan Budi (Enlightenment) di Perancis, membuka problem mendasar persekusi dalam hubungannya dengan subjek pelaku, secara khusus, intensi busuknya. Demi kepentingan diri dan kelompok, sang persekutor akan mengeksploitasi emosi dan kemarahan pemimpin. Kemarahan ini secara sengaja dan strategis ditumpahkan kepada orang lain yang sama sekali tidak bersalah. Sehingga, korban persekusi bukan hanya menjadi korban tindakan “permusuhan” atau “kesewenang-wenangan” tapi juga menjadi “kambing hitam (scapegoat)” yang dipilih oleh sang persekutor.

Logika “Kambing Hitam”

Hubungan antara konsep “kambing hitam” dan persekusi telah dieksplorasi oleh René Girard (1923-2015), seorang sejarawan, kritikus sastra, filsuf Perancis. Dalam bukunya I See Satan Fall Like Lightning (Saya Melihat Iblis Jatuh Bak Halilintar), Girard menegaskan bahwa grup dominan atau mayoritas menggunakan logika “kambing hitam” untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. Cara mereka adalah dengan melibatkan pribadi atau sekelompok orang yang biasanya dari kelompok yang ras, pandangan politik dan kepercayaan religius tidak dominan atau minoritas.

Menurut Girard, konsep modern “kambing hitam” sebenarnya datang dari tradisi bangsa Israel ketika mereka melakukan ritual pertobatan. Dalam ritual tersebut, mereka akan menggiring hewan yang akan dikurbankan di tempat yang telah ditentukan. Sebelum disembelih, pemimpin ritual akan meletakkan tangannya ke atas kepala hewan tersebut. Hal ini menandakan bahwa ia telah mentransfer semua hal yang mengganggu kehidupan berkomunitas dari setiap anggotanya. Hasil akhir dari proses ini adalah bahwa semua dosa telah hilang bersama hewan yang dikurbankan dan komunitas terbebas dari segala beban. Komunitas terbaharui.

Konsep modern “kambing hitam” kemudian melepaskan sisi ritual dan efek penebusan dari ritual tersebut. Yang menetap dan dipertahankan adalah proses mentransfer segala macam problem, kesalahan, kemarahan, bahkan ketakutan kepada subjek yang dijadikan “kambing hitam”. Hal ini menjadi gampang dilakukan di luar konteks ritual pertobatan. Orang bisa saja mempraktekkan logika “kambing hitam” kepada siapa saja dan dimana saja, tanpa perlu merujuk pada tradisi ritual lama.

Problemnya, jika dulu mengurbankan hewan dilakukan secara terbuka tanpa alasan untuk menutupinya, sekarang praktek “kambing hitam” memerlukan kamuflase lewat tuduhan-tuduhan kepada orang yang menjadi “kambing hitam”. Apapun tuduhannya, seperti menghujat dan menista agama ataupun bagian dari ras tertentu, tidaklah penting. Yang penting adalah bahwa sang korban “terkesan” bersalah.

Girard menegaskan bahwa tuduhan itu semakin efektif jika semakin banyak orang yang terlibat. Pada saat yang sama, “kambing hitam” membuat orang-orang dengan kepentingan yang sama bersatu dan semakin kokoh dalam logika “kambing hitam”. Walaupun, fenomenon “kambing hitam” ini biasanya sangat jelas tercela secara moral, proses ini tetap akan berlangsung sampai seluruh kemarahan, kekesalan, kesalahan dan problem tertumpah pada sang korban.

Sebenarnya, menurut Girard, fenomenon ini merupakan ekspresi dari napsu kekerasan. Jika kemarahan mengundangnya, atau objek dari kemarahan tersebut sulit untuk dicapai, maka nafsu akan kekerasan akan menggelegak dan mencari “kambing hitam”. Ia kemudian akan menanggung segala nafsu yang tercurah.  

Kita yang memperhatikan fenomenon “kambing hitam” ini biasanya tidak sulit untuk melihat bahwa sang korban sebenarnya tidak bersalah. Namun, orang-orang yang bersatu dalam kepentingan untuk melepaskan kemarahan mereka tetap secara kukuh menuduh sang korban.

Yang lebih menantang lagi adalah bahwa evolusi “kambing hitam” semakin lama semakin halus proses kamuflasenya. Hal ini disebabkan oleh rasa bersalah dan “self-criticism” yang senantiasa menghantui para persekutor. Mengapa? Persekutor merupakan orang yang pertama mengetahui bahwa orang atau kelompok tertentu hanyalah “kambing hitam”.

Karena itu, mereka membutuhkan kamuflase yang semakin halus untuk menutupi pengetahuan dan rasa bersalah mereka. Problemnya, jika rasa bersalah senantiasa berhasil ditutupi atau diingkari, maka persekutor akan terbiasa hidup tanpa rasa bersalah lagi.

What is Wrong with Persecution?

Apa yang salah dengan persekusi? Semuanya! Pertama, jika konteks persekusi adalah perbedaan ras, pandangan politik dan kepercayaan religius, maka persekutor sebenarnya sedang memperkarakan segala hal yang seharusnya diterima. Perbedaan adalah fakta. Hidup Bersama adalah konstruksi.

Kedua, intensi persekutor adalah pengekalan kepentingan pribadi dan kelompok sambil mengorbankan individu atau kelompok tertentu sebagai “kambing hitam”. Cara persekutor adalah mengeksploitasi kemarahan pemimpin atau publik dan menumpahkannya pada sang korban. Ini merupakan salah satu cara yang hanya dipilih oleh para pengecut.

Ketiga, kebenaran menjadi tidak penting. Walaupun kita akan secara gampang melihat bahwa sang “kambing hitam” tidak bersalah, namun yang penting adalah bahwa ia “bersalah” di hadapan persekutor. Ini merupakan contoh paling sadis dari objektivikasi subjek. Manusia dijadikan sarana atau objek tempat segala kekesalan dan kemarahan ditumpahkan.

Keempat, hasrat kekerasan dibalut kepentingan pribadi dan kelompok diperjuangkan secara bersama-sama. Yang dominan dalam jumlah mengeroyok yang minoritas. Kehancuran sang korban, walaupun ia mewakili kebenaran, akan disambut dengan perayaan kemenangan. Kemenangan bukan lagi penemuan kebenaran. Kemenangan adalah pelepasan nafsu kekerasan yang dipancing oleh kemarahan buta atau fakta bahwa tujuan utama dari kemarahan sangat sukar disentuh.

Epilog

Sang remaja di Cipinang dan sang dokter di Sumatera Barat adalah korban. Ini bukanlah perkara “sederhana” yang hanya perlu dibawa ke ranah hukum, seperti kata sebagian orang. Ini merupakan gambaran tatanan sosial, politik, kemasyarakatan yang keropos dan tidak adil. Yang paling menakutkan adalah jika fenomena ini merupakan usaha terencana untuk melemahkan tatanan bangsa. Semoga saya salah!(***)

Kirim Komentar