29 Mei 2017 09:54

Dari Efek Disrupsi Menuju Harmoni

MyPassion

TULISAN Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia yang berjudul “Efek Disrupsi: Besok Menjadi Hari Ini” menarik untuk disimak. Dalam tulisan tersebut, Kasali menjelaskan bahwa dunia kini sedang dilanda era disrupsi, tidak terkecuali Indonesia. Era tersebut berbanding terbalik dengan banyak praktek di Indonesia.

Menurutnya ketika dunia global sudah berpikir tentang bagaimana menerapkan ilmu “masa depan” dalam kondisi “sekarang”, banyak pemimpin, politisi, birokrat, bahkan pengusaha masih berkutat dengan logika “masa lalu” untuk diterapkan atau sementara diterapkan “sekarang”.

Coba tengok yang terjadi sekarang. Birokrasi masih berkutat dengan prosedur yang berbelit sementara tantangan e-governance sudah sangat nyata. Penanganan UMKM sebagai proyek atau kebijakan pusat kini berhadapan dengan konsep “business startup”.  Kampanye politik berbasis uang dan sembako ditantang oleh fenomenon donasi perusahaan dan individu.

Intinya tulisan ini hendak mengundang kita untuk merubah cara pandang kita. Inovasi yang bersifat disruptif merupakan kunci kemenangan untuk menguasai dunia “sekarang”.

Contoh inovasi yang disruptif adalah revolusi transportasi berbayar (taksi dan angkot) menjadi transportasi berbasis online (GoJek, GoCar, Uber, dan Grab). Pasar tradisional dan supermarket kini bersaing dengan jual beli online (Bukalapak, OLX, Lazada, dll). Tours and Travel bersisian dengan penjualan tiket online (Traveloka, Nusa Trip, dll).

Mengenal Efek Disrupsi

Konsep dan teori disrupsi mengacu pada teori disruptive innovation dari Clayton M. Christensen (1952-…), seorang profesor administrasi bisnis di Harvard Business School, Harvard University. Teori ini merujuk pada semua inovasi yang menciptakan pasar, nilai dan tradisi baru, yang kemudian menginterupsi dan mengganggu kemapanan dari pasar, nilai dan tradisi lama. Inovasi tersebut bahkan mengganti peran perusahaan, produk, konstelasi bisnis yang sementara “berkuasa”.

Teori ini merupakan evaluasi terhadap teori awal Christensen tentang efek disruptif di bidang teknologi (disruptive technologies). Ketika berefleksi lebih jauh, ia sadar bahwa ternyata teknologi bukanlah agen utama pembawa efek disrupsi. Itu merupakan kondisi dasar yang memungkinkan terjadinya disrupsi. Yang membawa efek disrupsi tak lain adalah model bisnis yang dimungkinkan oleh inovasi tiada henti dari teknologi.

Dalam tulisan sebelumnya, kita telah menelaah bagaimana dunia sekarang direvolusi oleh penemuan internet. Sebagai prodigy (anak genius) dari teknologi, internet telah merevolusi konsep dunia (datar-bulat-datar-abstrak), konsep waktu (linear-real time), konsep otoritas (negara dan pemerintah-zero authority). Dalam konsep dunia abstrak, waktu linear, dan konsep zero authority, lahirlah inovasi-inovasi yang bukan hanya mengganggu kenyamanan incumbent, tapi juga sampai mengganti perannya.

Fenomena Luas Efek Disrupsi

Ranah inovasi dengan dampak disruptif awalnya adalah bisnis, secara khusus model bisnis yang dikembangkan berbasis inovasi teknologi (GoJek, GoCar, Uber, Grab, Bukalapak, OLX, Lazada, Traveloka, Nusa Trip, dll). Sebagai bisnis yang baru didirikan, model-model bisnis ini sering disebut Startup.

Namun, kenyataanya, konsep disrupsi ini juga berlaku dalam birokrasi, politik, pemerintahan, sosial. Prosedur birokratis, yang sinonim dengan kesan lambat dan berliku, sedang menghadapi guncangan dari konsep e-governance. Proses penganggaran yang tertutup, penuh rekayasa kini digugat oleh konsep e-budgeting yang mengutamakan keterbukaan, anti siluman. Pembangunan yang sentralistik menjadi lebih condong ke periferi/pinggiran (misalnya lapangan udara di Miangas, Poso, dan Ampena, tol Manado-Bitung dan Trans Papua).

Kampanye politik dengan membagi-bagi uang dan sembako kini berhadapan dengan contoh anomali pengumpulan donasi dari relawan dan simpatisan. Pengumpulan masa berbayar digerogoti oleh konsep pengumpulan dana kampanye lewat makan berbayar bareng kandidat. Politikus yang malu dan takut diperiksa polisi dan KPK dipecundangi oleh contoh yang sangat anomali di politik Indonesia, yaitu inisiatif mendatangi kepolisian.

Praktek mangkir di pengadilan, sakit di saat pemeriksaan dan pengadilan, bertahan di luar negeri dan mangkir di proses pemeriksaan ditertawakan oleh kesetiaan mengikuti proses pengadilan yang sangat sarat perhatian dan demonstrasi. Koruptor yang meminta keringanan hukuman atau naik banding (walaupun ini memang hak yuridis subjek hukum) ditantang oleh praktek anomali pencabutan banding demi menunjukan bahwa “Tuhan tetap berdaulat dan pegang kendali setiap bangsa”. Pengerahan massa demi menegaskan kehendak dikritik oleh praktek menenangkan massa dan meminta penghentian unjuk rasa demi ketentraman publik.

Pemimpin yang “elok” dan berbasis protokoler ketat dirongrong oleh gaya kepemimpinan yang merakyat, minim protokoler, berbasis kinerja, dan rela menabrak lika-liku politik birokrasi untuk menjamin harga bensin di Papua sama dengan di Jawa dan di tempat lain.

Perbandingan praktek konvensional dan inovasi disruptif di atas memberikan gambaran bahwa praktek-praktek lama sementara didisrupsi kenyamanannya oleh inovasi-inovasi yang bermunculan. Seperti halnya efek disruptif startups yang mengganggu model berbisnis tradisional, startups di bidang politik, birokrasi, pemerintahan, dan sosial secara bertahap akan mengguncang kemapanan praktek-praktek lama.

Di sini, rakyat bukan hanya penonton. Rakyat yang rasional memilih praktek-praktek yang lebih memihak kepentingan mereka. Rakyat akan menentukan dan menegaskan kembali kekuasaannya dalam sistem demokrasi ini. Ketika rakyat menjatuhkan pilihannya pada startups di atas, di saat itulah efek disruptif di ranah birokrasi, politik, dan pemerintahan Indonesia akan kita alami.

Anti-Innovative Disruption

Akhir-akhir ini, kita disuguhi fenomena anti-kemajemukan, sendi-sendi dasar kontrak sosial bernegara kita disinggung, pimpinan lembaga tinggi negara berebut kuasa, aksi pemboman yang terkutuk, kasus penyuapan demi status WTP. Ini semua wajah-wajah yang anti-innovative disruption.

Oknum-oknum yang menolak kemajemukan dan menggerogoti kontrak sosial bernegara kita disebut anti-innovative disruption karena mereka bermimpi untuk mendasarkan negara ini pada ajaran agama tertentu. Mereka mencoba untuk menerapkan teori lama, negara disandingkan dengan agama, ke dalam negara Indonesia “sekarang”.

Demikian juga dengan pemimpin lembaga negara yang berebut kuasa demi fasilitas. Mereka menjadi anti-innovative disruption karena mereka mau bertahan dengan pola pemimpin dan politikus koruptif dan egosentris. Pola tradisional tersebut ingin dipertahankan di masa “sekarang” di mana rakyat semakin rasional dan menuntut untuk mengembalikan posisinya sebagai pusat dari proses demokrasi, bukannya tampalan atau pinggiran.

Kaum teroris yang mencoba untuk menebar ketakutan adalah anti-innovative disruption. Mereka mencoba untuk menggunakan cara lama, yaitu menegaskan kehendak dengan paksaan di masa “sekarang” yang kini berbasis diskusi rasional dan semangat kosmopolitan (melihat individu sebagai warga dunia yang satu dan sama).

Demikian juga, birokrasi, politik, dan pemerintahan yang berbasis model tradisional yang menolak pembaharuan yang disuguhkan oleh startups di bidang birokrasi, politik, pemerintahan. Mereka juga adalah anti-innovative disruption. Pengutamaan kepentingan dan keuntungan pribadi dan kelompok adalah kebiasaan lama yang ingin tetap dipertahankan sampai sekarang.

Proses dan efek disrupsi bergerak perlahan, bertahap, tapi pasti. Bak seekor katak yang melompat ketika bersentuhan dengan air yang sangat panas. Namun, ia menikmati ketika berada dalam air yang perlahan-lahan dipanaskan. Ia tak sadar akan bahaya yang mengintai. Sampai akhirnya, sang katak mati kepanasan.

Mereka yang anti-innovative disruption bisa menjadi tidak relevan di era yang justru sangat berbeda dengan karakteristik mereka. Namun, mereka juga bisa mencontoh blue bird taxi yang mereformasi model berbisnisnya dan bekerja sama dengan startups GoJek melalui layanan GoCar. Ini saya sebut sebagai adaptive disruption (disrupsi adaptif) karena mereka mengalami disrupsi dan beradaptasi dengan agen atau pembawa disrupsi.

Tantangan “Kedalaman”

Hakekat innovative disruption adalah sebuah model. Sebagai sebuah cara atau instrumen, disrupsi tidak mencakup level “kedalaman”. Sejauh ia merupakan model inovasi di ranah bisnis, akumulasi profit merupakan tujuan utama. Hal-hal yang lebih substantif sifatnya, tidak menjadi pertimbangan serius. Misalnya, membuat hidup manusia lebih bermakna, mengembangkan diri dan sesama demi kesejahteraan bersama, hidup berpolitik yang memberi tempat pada “aku+engkau+kamu=kita”.

Epilog

Setiap disrupsi yang tidak hanya menekankan model inovatif tapi juga berusaha menegaskan makna kehidupan manusia sebagai pribadi dan satu komunitas, akan menjadi sebuah harmoni.(***)

Berita Terkait
Kirim Komentar