20 Mei 2017 08:02

Social Climber, Gaji Jutaan Gaya Miliaran

MyPassion

Semakin modernnya zaman membuat arus globalisasi tak bisa terbendung lagi. Ini juga turut berdampak pada kehidupan sosial ekonomi warga Manado dan sekitarnya.

 

KONDISI ini memunculkan istilah baru, yaitu Social climber. Tercipta karena gaya hidup yang semakin beragam saat ini. Social climber adalah seseorang yang berusaha untuk masuk pada kelas sosial tertentu (lebih tinggi), hanya untuk mendapat pengakuan akan status sosial yang tinggi tersebut.

Tetapi hal ini sering menimbulkan suatu persepsi negatif. Karena sebenarnya para social climber ini bukanlah kaum sosialita yang memang memiliki kedudukan dan materi berlimpah. Sebutan untuk social climber muncul karena adanya pribadi yang secara langsung atau tidak langsung mengungkapkan perilaku mirip kaum sosialita secara dipaksakan.

Para sosial climber akan merasa khawatir dan tidak percaya diri apabila tidak tampil mewah. Selalu merasa khawatir, dan tidak percaya diri saat tidak menggunakan barang-barang dengan brand ternama. Social climber pun akan merasa gelisah dan takut jika terlihat miskin, merasa minder, tidak bisa menerima kondisi dirinya pada keadaan yang sebenarnya.

Social climber berbeda dengan orang kaya yang sebenarnya, orang kaya yang melalui proses panjang penuh perjuangan, akan lebih kalem dan lebih sederhana meskipun ia memiliki uang yang lebih banyak dari para social climber. Lihat saja penampilan pemuda terkaya saat ini, Mark Zuckerberg (pencipta Facebook), dia tampil sangat sederhana. Bahkan secara penampilan mungkin ia kalah mewah dari karyawan di Indonesia yang gajinya tidak lebih dari 5 juta.

Misalkan saja, pegawai negeri golongan I menginginkan hidup dengan rumah megah, mobil mewah, barang-barang keseharian berharga puluhan sampai ratusan juta. Tentu gaji PNS tidak bisa mencukupi. Sehingga jalan pintasnya kemungkinan korupsi.

Psikolog Preysi Siby mengungkapkan, manusia kini berada di era global yang identik dengan era digital. Aktualisasi diri seseorang dapat dilihat dari perubahan statusnya di media sosial. “Ada orang yang mengubah status berdasarkan feeling untuk mengekspresikan segala sesuatu,” ungkap istri Anggota DPD RI Fabian Sarundajang ini.

Lanjut Siby, kecenderungan orang mengaktualisasikan diri di media sosial memang bukanlah kesalahan. “Jika seseorang menampilkan sesuatu secara berlebihan memang sudah haknya. Karena dia menggambarkan dirinya sendiri, bukan orang lain,” kata Siby.

Kesan wanita Manado yang suka bergaya, menurutnya, harus ditanggapi secara positif. Hal itu menunjukkan ciri wanita yang sehat. “Karena orang yang tidak sehat psikologisnya, tidak akan mau kelihatan bersih. Rata-rata perempuan Manado maunya kelihatan bagus, bersih, indah, dan sedap dipandang. Hal itu normal di psikologi manusia,” ungkap dosen fakultas psikologi UKIT itu.

Siby menyarankan, setiap orang harus cerdas memanfaatkan media sosial. “Pintar-pintarlah memakai media sosial. Apalagi dalam status. Bagaimana kita meng-upload itu menggambarkan kepribadian kita. Jadi berhati-hatilah. Karena orang yang menilai berasal dari seluruh dunia,” katanya.

Siby mengimbau, pengguna media sosial lebih memperhatikan etika. “Jika ada orang yang tidak suka dengan apa yang kita tampilkan, misalkan foto, jangan saling bertengkar di media sosial. Harus sopan. Karena, lewat unggahan status itu mencerminkan kepribadian kita,” tutupnya.                                      

Di sisi lain, Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM Pdt HWB Sumakul mengatakan, kesombongan itu berbahaya.  Tapi kerendahan hati membawa kehormatan. “Hidup itu harus apa adanya. Malah di Alkitab mengajarkan untuk hidup sederhana. Bukan cuma apa adanya,” katanya.

Dia menambahkan, Alkitab mengajarkan kita untuk rendah hati. Kerendahan hati, seperti anak-anak dihargai oleh surga. “Barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan sorga,” katanya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Ida Bagus Ketut Alit mengatakan, status sosial akan terbentuk baik, jika dibarengi kehidupan pribadi yang membawa kebaikan. “Dalam membuat status sosial, yang perlu adalah imbauan, kalimat-kalimat menyejukkan bagi sesama. Berusaha menjadi orang yang sederhana dalam bersikap dan berpakaian,” katanya.

Menurut Ketut Ali, sifat-sifat buruk patut dihindari agar kesucian dan keluhuran budi terus bertumbuh. “Berpikir yang baik, berkata yang baik, dan berbuat yang baik pula,” pungkasnya.

Menjadi orang kaya memang tidak ada salahnya. Namun harus melalui proses dan perjuangan terlebih dahulu. Tampillah apa adanya, tidak perlu membohongi diri sendiri. Syukuri apa yang kamu miliki saat ini, sebab dengan bersyukur, kita akan merasa cukup dan puas dengan apa yang ada di hidupmu selama ini.(ctr-18/ctr-25/har)

Kirim Komentar